Jumat, 10 Agustus 2012

Kemanakah Twitter yang sesungguhnya? (Aug 5 2009)





Pertama kali saat aku dikenalkan oleh temanku,Ginda yang sekarang telah bersekolah disalah satu sekolah tinggiperpajakan milik negara,Akun ini terlihat sangat tidak menarik,cenderung bersifat terbatas pada karakter huruf yang disediakan sehingga tidak memudahkan bagi pengguna yang sedikit ‘grupis’ dan ‘talkative’. Awalnya aku tetap ogah-ogahan untuk membuat akun satu ini tapi Ginda tetap memaksaku,bagiku Facebook saja sudah lebih dari cukup hanya untuk bertegur sapa satu sama lain apalagi untuk sebuah percakapan yang sifatnya pribadi. Setelah beberapa periode setelah hari itu aku mulai tertarik dan aktif menulis sebuah kumpulan frase-frase kalimat pada kotak yang disebut ‘timeline’,aku seperti menemukan sebuah keasyikan sendiri saat membaca mention-mention dari teman-teman tercinta,artis faforit,dan juga sekumpulan akun media on-line. Bahkan lebih dari itu aku bisa dikatakan maniac pada akun ini. Pertama kali aku membeli smartphone yang lebih dikenal dengan sebutan blackberry pada tahun 2010,disana terdapat aplikasi khusus semisal ubertwitter yang kini telah bermetamorfosis menjadi ubersocial semakin mempermudah proses retweet me-retweet. Terkadang aku lebih memilih membaca semua tulisan-tulisan di dinding timeline ku ketimbang membaca majalah/koran yang pastinya lebih mempunyai bobot berita yang lebih bernilai namun kegilaan ku terdahap twitter ini telah merubah segalanya,aku jadi tidak menghiraukan semua itu. Yes I went crazy!
Setelah satu tahun berjalan aku mulai jengah dan merasa sedikit ‘annoyed’ dengan segala sesuatu berkaitan dengan twitter,aku pun memutuskan untuk rehat sejenak. Disaat aku rehat aku merasa hidupku sedikit mengalami perubahan dimana aku jarang sekali memperhatikan lawan berbicaraku saat berbicara kini aku mulai melakukannya,dimana hampir setiap menit mataku selalu tertuju pada layar blackberry kini telah berkurang beberapa persen. Aku mulai merasakan kembali hidup normal ala-ala orang ‘jaman kuda’ dimana komunikasi dilakukan secara tatap muka dan berkomunikasi dilakukan seefisien mungkin,tidak berlebihan. Dimana bekerja(melakukan aktifitas)lebih banyak ketimbang cuap-cuap satu sama lain, saat ini aku tidak sedang menghakimi orang-orang yang senang bercuap-cuap di twitter,aku tahu itu hak mereka untuk berkomunikasi,berkomentar,berasumsi atau sekedar mencari sensasi dengan berkomentar kacangan tentang sesuatu tapi ayolah kita memang tidak bisa naif pada hal itu,bukankah itu merupakan bumbu dalam kehidupan yang semakin hari semakin terasa berat. Sama halnya dengan konflik hanya sebagai bumbu di twitter pada mulanya dan tidak seperti sekarang ini dimana konflik di twitter menjadi topik utama yang terkesan mubazir untuk tidak di asumsikan ke masing-masing individu. Semua ikut berkomentar memperlihatkan taring,background masing–masing dan bahkan hal itu memperlihatkan kearoganan mereka sampai kekonyolan mereka dimana semua hal di komentari di situs jejaring ini. How rude.
                Dewasa ini aku mulai jarang memainkan atau sekedar membuka twitter,terlalu ‘crowded’ dan ‘noisy’ dimana hampir semua orang telah memiliki twitter dan menjadikannya situs nomor wahid di gadget masing-masing. Aku rindu twitter jaman dulu,saat-saat dimana aku baru memaikan nya dengan senang hati,dengan keingintahuan yang besar,dimana konflik hanya menjadi bumbu saja,dimana segala sesuatu hanya menyangkut hal-hal yang penting saja untuk di re-tweet. Tapi hal ini tidak mengapa karena inilah yang disebut dengan kemajuan jaman,untuk ukuran negara seperti Indonesia yang terhitung negara berkembang setiap anak bangsanya memang mesti tahu  bagaimana untuk memiliki kesejajaran dalam berwasasan dengan negara lain (dalam hal ini: jejaring sosial media) karena ini merupakan salah satu tonggak utama dalam penyampaian informasi,asalkan tidak berlebihan Twitter akan tetap menyenangkan untuk semua orang. Gunakanlah jejaring sosial apapun dengan bijak dan sopan santun yang tinggi terutama saat berkomentar tentang sesuatu yang menyangkut martabat negara lain.