Pertama kali saat aku dikenalkan
oleh temanku,Ginda yang sekarang telah bersekolah disalah satu sekolah tinggiperpajakan
milik negara,Akun ini terlihat sangat tidak menarik,cenderung bersifat terbatas
pada karakter huruf yang disediakan sehingga tidak memudahkan bagi pengguna
yang sedikit ‘grupis’ dan ‘talkative’. Awalnya aku tetap ogah-ogahan untuk
membuat akun satu ini tapi Ginda tetap memaksaku,bagiku Facebook saja sudah
lebih dari cukup hanya untuk bertegur sapa satu sama lain apalagi untuk sebuah
percakapan yang sifatnya pribadi. Setelah beberapa periode setelah hari itu aku
mulai tertarik dan aktif menulis sebuah kumpulan frase-frase kalimat pada kotak
yang disebut ‘timeline’,aku seperti menemukan sebuah keasyikan sendiri saat
membaca mention-mention dari teman-teman tercinta,artis faforit,dan juga
sekumpulan akun media on-line. Bahkan lebih dari itu aku bisa dikatakan maniac pada akun ini. Pertama kali aku
membeli smartphone yang lebih dikenal dengan sebutan blackberry pada tahun 2010,disana terdapat aplikasi khusus semisal ubertwitter yang kini telah
bermetamorfosis menjadi ubersocial
semakin mempermudah proses retweet me-retweet. Terkadang aku lebih memilih
membaca semua tulisan-tulisan di dinding timeline ku ketimbang membaca
majalah/koran yang pastinya lebih mempunyai bobot berita yang lebih bernilai
namun kegilaan ku terdahap twitter ini telah merubah segalanya,aku jadi tidak
menghiraukan semua itu. Yes I went crazy!
Setelah satu tahun berjalan aku mulai
jengah dan merasa sedikit ‘annoyed’ dengan segala sesuatu berkaitan dengan
twitter,aku pun memutuskan untuk rehat sejenak. Disaat aku rehat aku merasa
hidupku sedikit mengalami perubahan dimana aku jarang sekali memperhatikan
lawan berbicaraku saat berbicara kini aku mulai melakukannya,dimana hampir
setiap menit mataku selalu tertuju pada layar blackberry kini telah berkurang beberapa persen. Aku mulai
merasakan kembali hidup normal ala-ala orang ‘jaman kuda’ dimana komunikasi dilakukan secara tatap muka dan berkomunikasi
dilakukan seefisien mungkin,tidak berlebihan. Dimana bekerja(melakukan aktifitas)lebih
banyak ketimbang cuap-cuap satu sama lain, saat ini aku tidak sedang menghakimi
orang-orang yang senang bercuap-cuap di twitter,aku tahu itu hak mereka untuk
berkomunikasi,berkomentar,berasumsi atau sekedar mencari sensasi dengan
berkomentar kacangan tentang sesuatu tapi ayolah kita memang tidak bisa naif
pada hal itu,bukankah itu merupakan bumbu dalam kehidupan yang semakin hari
semakin terasa berat. Sama halnya dengan konflik hanya sebagai bumbu di twitter
pada mulanya dan tidak seperti sekarang ini dimana konflik di twitter menjadi
topik utama yang terkesan mubazir untuk tidak di asumsikan ke masing-masing
individu. Semua ikut berkomentar memperlihatkan taring,background masing–masing
dan bahkan hal itu memperlihatkan kearoganan mereka sampai kekonyolan mereka
dimana semua hal di komentari di situs jejaring ini. How rude.
Dewasa
ini aku mulai jarang memainkan atau sekedar membuka twitter,terlalu ‘crowded’
dan ‘noisy’ dimana hampir semua orang telah memiliki twitter dan menjadikannya
situs nomor wahid di gadget masing-masing. Aku rindu twitter jaman
dulu,saat-saat dimana aku baru memaikan nya dengan senang hati,dengan
keingintahuan yang besar,dimana konflik hanya menjadi bumbu saja,dimana segala
sesuatu hanya menyangkut hal-hal yang penting saja untuk di re-tweet. Tapi hal
ini tidak mengapa karena inilah yang disebut dengan kemajuan jaman,untuk ukuran
negara seperti Indonesia yang terhitung negara berkembang setiap anak bangsanya
memang mesti tahu bagaimana untuk
memiliki kesejajaran dalam berwasasan dengan negara lain (dalam hal ini:
jejaring sosial media) karena ini merupakan salah satu tonggak utama dalam
penyampaian informasi,asalkan tidak berlebihan Twitter akan tetap menyenangkan
untuk semua orang. Gunakanlah jejaring sosial apapun dengan bijak dan sopan
santun yang tinggi terutama saat berkomentar tentang sesuatu yang menyangkut martabat
negara lain.

