Terdengar seperti suara angin yang perlahan menyautkan ke
dalam indera pendengaran pemiliknya. “ Hei, Bagas lihat aku! Aku sudah lama
tidak kau sentuh “ kalimat itu hanya berayun kedalam hati dimana suara itu
berasal. Bagas masih asyik saja duduk manis di depan laptop terbarunya yang baru saja didapatkan oleh ayahnya sebagai
kado ulang tahun. Sesekali ia beranjak menuju dapur sekadar mencari makanan
kecil kemudian kembali lagi ke meja yang kelihatan usang bersama laptopnya. “
Hello Bagas. Ayo ambil penamu. Tulislah aku dengan cerita-cerita menarikmu di
diriku ini “ teriak lagi sang kertas dengan penuh semangat. Seperti mengharapkan
jalanan ibu kota yang bebas dari kemacetan, suara itu tidak akan mampu menembus
indera pendengaran Bagas. Malam sudah benar-benar memekatkan langit melalui
kegelapannya. Bagas yang tadinya asyik mengetik di depan laptop kini perlahan
mulai merasa kantuk. Ia pun bergegas mematikan laptopnya dan langsung
menghilang ke dalam mimpi. Sang kertas sejak awal petang berteriak meminta
Bagas menulisinya, kini hanya terdiam melihat sang majikan yang sudah asyik tertidur.
Air mata tak terasa berkucur deras keluar, Sang kertas tak mampu membendungnya,
hening terasa benar-benar memilukan dan mencibir dirinya. Entah ini sudah
menjadi malam keberapa bagi Sang kertas untuk meratap, bersedih, dan hanya bisa
mengingat sejuta kenangan bersama sang majikan. Dulu sekali tak ada sedetik pun
ia dan sang majikan berpisah, dunia terasa milik berdua. Masih sangat jelas diingatan
sang kertas dimana saat majikan mendapatkan ide-ide segar untuk dituangkan maka
sang majikan dengan cekatannya mengambil secarik kertas yang akan ditulisinya
kalimat perkalimat hingga akhirnya membentuk cerita pendek yang kemudian akan
sang majikan kirimkan ke agen koran/tabloid untuk di muat. Walaupun cerita-cerita
pendek yang dikirim sang majikan tak pernah dimuat di koran ataupun tabloid sang
majikan tetap senang, ia tak pernah berputus asa untuk menulis dan menulis
lagi. Namun semua itu telah berubah, sang majikan yang biasanya setiap hari
menyentuh, memandang dan menulisinya dengan tulisan tangan yang rapi dan teliti
bahkan kadang saat sang majikan kehabisan ide maka ia akan memandangi sang kertas
dalam-dalam berharap sang inspirasi mau menjatuhkan secercah ide untuk
ditulisinya kedalam sang kertas yang setia menemani hari-harinya. Tak terasa air mata sang kertas mulai habis,
sang surya meski malu-malu namun tetap menampakkan dirinya menembus kegelapan
yang sudah tampak bosan melihat Sang kertas bersedih. Bagas terlihat masih
tertidur pulas. “Bagas ayo bangun! Kamu ga kuliah apa?” suara nyaring itu
berusaha menerobos mimpi Bagas untuk segera terbangun. Sayup-sayup mata itupun
terbuka, Sang kertas yang tepat berada di atas meja belajar yang berhadapan
langsung dengan tempat tidur Bagas sudah sejak tadi tersenyum lebar meski matanya
terasa lebam. Bagas pun bergegas beranjak, ia terlihat begitu tergopoh-gopoh
karena tahu sang waktu sudah menunjukkan pukul 9:30 pagi. Sang kertas berharap
semoga kali ini ada keajaiban baginya agar bisa bersama lagi dengan sang
majikan. Bagas sudah terlihat sangat rapi dengan setelan kemeja hitamnya. Ia sudah
tidak punya waktu lagi untuk sekadar sarapan ataupun sekadar bincang santai
dengan Ibu. Sang kertas yang sejak tadi mengharap agar kali ini menjadi teman
Bagas menuju kampus hanya bisa terdiam lesu. Sang kertas tampaknya tahu Bagas
ke kamar hanya untuk mengambil laptop
bersama tas yang tergantung rapi di samping meja belajar. Bagas pun berlalu. Air
mata sang kertas pun tak terbendung, kali ini bahkan lebih deras. Dalam tangisnya
Ia hanya berharap di ujung waktu kelak sang teknologi tidak sungguh-sungguh
melenyapkan sang Bagas yang dikenalnya dulu. Ia berharap Bagas-Bagas yang lain
masih mampu menyediakan waktu untuk mencoretnya dengan tulisan tangan. Ia tidak sanggup saat membayangkan bagaimana
sakitnya ia harus ditulisi dengan tulisan dan tinta printer yang sanggup menggepengkan tubuh dan menusuk-nusuk dirinya
bersama jarum-jarum tinta. Sang kertas berhenti berharap, kesetiaannya pada
tulisan Bagas kini harus di tarukan pada perkembangan teknologi yang mampu ‘memperkosa’
kebahagiaan yang ia punya bertahun-tahun silam. Paling tidak sang kertas tahu
selama ini ia telah berjasa bagi tulisan-tulisan Bagas, tulisan-tulisan yang
terlahir dari lubuk hati kemudian ditorehkan melalui tulisan tangan kedalam
dirinya. Sang kertas pada akhirnya lebih memilih membahasi dirinya dengan
jutaan tetes air mata yang mampu menghacurkan tubuhnya sendiri, harga diri yang
dimiliki sang kertas memilihnya untuk mati di antara jutaan air matanya
daripada menjadi sebuah kertas yang hanya ditulisi oleh alat cetak yang
menyebut dirinya Printer. (Aku mungkin bukanlah barang mewah yang kau
miliki, bukan pula barang yang kau bisa pamerkan. Aku hanyalah media
konvensional yang mampu menjaring setiap ide-ide yang kau tulis di tubuhku. Aku
senang saat kau mengotoriku dengan tulisanmu, tapi tolong tulislah aku dengan
tulisan yang berasal dari hati dan tanganmu, bukan tulisan yang berasal dari Printer
mu. Aku, Kertas).
Senin, 16 Juni 2014
Minggu, 15 Juni 2014
AGNES MONICA / AGNEZMO ( Star that a boy used to idolize and Star that a boy abandons )
“Orang
ini enerjik sekali ya!” Suara itu sesekali memuji seorang yang dilihatnya di TV
sedang asyik bernyanyi dan menari. Bertahun kemudian “wah rambutnya dicat Pink !”
puji orang tersebut yang asyik menonton acara HUT salah satu stasiun tv swasta
Indonesia melalui Tv sambil sesekali tangannya asyik menyuapi cemilan-cemilan
kecil masuk ke mulutnya. Rasa kagum terlihat sekali, beberapa hari berikutnya
setelah mengumpulkan cukup uang, ia pun membeli kaset dari penyanyi tersebut. Konon
kaset yang baru ia beli merupakan album paling anyar dari penyanyi yang saat
itu jadi trade setter karena aksi
panggung dan prestasi yang ia raih. Agnes Monica. Melalui album terbarunya Whaduup
A mampu membuat seorang anak kecil yang masih duduk di bangku SMP itu
terkagum-kagum (jangan bayangkan ia terkagum layaknya anak alay jaman sekarang ketika
melihat, menjamah bahkan meraba para anggota JKT 48 ya. Dulu kagumnya ga
senorak itu kok). Agnes monica benar-benar mampu menjadi sosok penyanyi yang selalu
ditunggunya. Entah itu di tabloid ataupun di Tv. Selang 1 dekade kemudian rasa
kagum itu tidak lagi sebesar dan semegah dulu. Wajah dan suara yang selalu ia
tunggu-tunggu hadir di Tv kini berkurang seiring perkembangan (mungkin lebih
tepatnya penurunan kualitas dan selera) Agnes monica yang makin ke
Barat-baratan. Sosok dulu yang masih khas dengan orientalnya kini berubah
menjadi sesuatu yang (maaf) absurd. Kulit
yang tadi putih benderang kini disulap menjadi cokelat ke ‘ayam bakar tanpa
kecap’.
Penampilan
dulu (sebenarnya udah absurd juga sih
kalau diingat-ingat) menuai decak kagum kini menjadi cemoohan apalagi dunia maya.
Suara yang dulu menjadi andalannya, kini berubah. Tidak hanya suara bahkan buah
dada dan paha pun menjadi aset yang sayang jika tidak ditampilkan. Ia tau betul
idolanya memang sejak dulu memimpikan punya karir Internasional, sayangnya tak
terlintas di benaknya sosok itu mau mendandani dirinya menjadi diri orang lain
demi karir Internasional yang sampai sekarang entah dimana rimbanya. Anak SMP
itu kini telah tumbuh dewasa, pemikirannya pun telah berkembang, sosok yang
dulu di idolakannya kini malah mulai di tinggalkannya. Tak ada rasa kagum, haru
ataupun senang melihat sosok Agnes di Tv. Hanya rasa Iba yang terlintas karena
ketidak percayaan Agnes pada diri sendiri. Bahkan sampai harus merubah nama menjadi
Agnezmo segala. Album-album dulu yang ia koleksipun kini dibiarkan terbengkalai
dan bersawang. Mungkin hanya dua hal yang bisa ia contoh dari sosok idolanya
dulu tersebut, kerja keras dan menghargai proses dalam mencapai sesuatu.
Jika ada hal lain yang patut dibanggakan dari Agnes monica yang sekarang, maka ia
biarkan hal itu menjadi bahan kekaguman anak-anak jaman sekarang saja. Ia masih
punya sosok lain yang bisa menghibur bahkan menginspirasinya. Ia bangga pernah
menjadi bagian dari pengagum Agnes monica jaman dulu.
Sabtu, 14 Juni 2014
Amatir
suara gusar sang
amatir itu mulai semakin mengeras, namun tidak ada satupun panca indera yang
mampu mendengar kekalutan pikirannya yang dipenuhi dengan kebohongan,
tipu daya, kepalsuan dan juga harapan. Si Amatir masih mengharap ada sebuah
keajaiban yang terwujud. Dunia sudah terasa begitu sesak, dunia sudah begitu
terasa kotor. Rangkaian sumpah dan ejekan sudah terhampar disegala sisi
hidupnya. Syukurnya si Amatir yang cenderung tolol dan asosial ini masih punya
sang raja kegelapan yang mampu menghalaunya dari timbunan dosa-dosa yang
mengelilingi siangnya tanpa henti. Sang malam sudah dirasa cukup untuk menjadi
teman sepi yang mampu menopang kegundahannya, ia terlihat begitu sayu sambil
kadang-kadang melihat sekitar yang terlihat tenang. Do'a pun terpanjat ''
Tuhan aku tak tahu harus bersyukur atau bermurka terhadap semua yang ku rasa
ini. Bagaimanapun beratnya beban hidup ini aku berharap Engkau selalu ada
disisiku. Engkau selalu rela menghabiskan waktu Mu untuk mendengarkan curahan
isi hatiku. Engkau masih cukup persediaan air mata yang kau aliri ke darahku
untuk menemani sedihku saat nanti. " sambil gemetar karena udara malam
yang terlalu bengis menembus tulang, ia melajutkan sebait Doa lagi
"....setelah apa yang kurasa semua ini, jangan biarkan aku menjadi bagian
sekuler dari orang-orang yang menyebut diri mereka Hamba Mu..."
Rabu, 11 Juni 2014
Badan bukanlah Matematika
Ada-ada saja gerangan
teman-teman wanita saya yang menggilai pria dengan tubuh yang kekar dan tegap. Menurut mereka cowok dengan lengan yang
besar (tentunya besar karena ditopang otot bisep dan trisep ya bukan lemak
gheheh), dada yang bidang serta perut yang sixpack adalah sebuah surga dunia
yang tidak bisa di kufuri adanya. Masih menurut mereka cowok dengan badan yang
berotot itu kelihatan lebih bisa melindungi (melindungi dari apa coba? Serangan
tentara agresi militer?) dan bangga kalau di gandengan kemana-mana (hello,itu
cowok bukan tas Hermes keles). Mendengar
semua totok petok itu saya malah jadi berpikir “mungkinkah ini sebuah karma
atas apa yang selama ini dilakukan para pria terhadap wanita?”. Iya anda para pria
mengaku sajalah kalau anda lebih attached
dan tertarik dengan wanita yang memiliki tubuh aduhai ala Victoria Beckham atau
semisal super model Nadia Hutagalung bukan? Mereka dengan susah payahnya
berusaha memiliki tubuh indah seperti yang anda idam-idamkan, jangan sebut nasi
putih, nasi merah ataupun nasi cokelat. Mereka tidak se-omnivora itu untuk bisa
memiliki tubuh yang ramping dan seksi, akan tetapi buah dan sayur serta beberapa
asupan protein nabati lah yang menjadi sumber panganan mereka sehari-hari. Wah betapa
menyiksanya hidup mereka dengan beban pekerjaan
di kantor yang pasti menyita waktu dan kalori tubuh namun mereka juga harus tetap
menjaga asupan makan mereka guna mengkontrol kalori yang masuk, memang benar
kata orang Beauty is Pain! Terkutuklah
para pria-pria dan ayam-ayamnya. Namun semua itu seakan berbalas, kaum adam
yang tadinya tidak pernah mendapat paksaan (minimal sindiran) untuk memiliki
tubuh yang kekar kini mereka harus repot-repot pergi ke fitness center guna melakukan olahraga angkat beban.
Biaya tambahanpun
sudah menunggu mereka, paling tidak dalam sebulan mereka harus merogoh kocek yang
cukup mahal untuk membayar iuran bulanan member serta konsumsi susu whey guna
membantu pertumbuhan massa otot tubuh. Hal inilah yang saya alami sejak dua
tahun silam, tepatnya di pertengahan tahun 2012. Awalnya hari-hari saya begitu
menyiksa, bayangkan saja (saat itu saya masih duduk di bangku kuliah) setelah pulang
kuliah saya yang biasanya kumpul bersama teman-teman atau pulang kerumah dan
tidur siang kini harus repot-repot pergi ketempat fitness yang jaraknya ribuan
langkah dari rumah saya, latihan yang saya lakukan pun lumayan intens sekitar 4 sampai 5 kali seminggu. Semua saya
lakukan demi memiliki tubuh yang berotot. Belum-belum lagi Trainer saya yang bawelnya minta ditonjok ini selalu mengingatkan
saya tentang pola makan yang baik, menurutnya untuk membangun atau meningkatkan
massa otot asupan protein menjadi hal yang paling krusial dikonsumsi, mengingat
fungsi protein sebagai ‘makanan’ bagi otot setelah berlatih. Apabila jumlah protein
yang dikonsumsi sehari kurang atau tidak mencukupi dengan indeks berat badan
maka tubuh akan ‘memecah’ massa otot tersebut sehingga otot yang dilatihpun
akan sia-sia saja. Hakikatnya
protein yang dibutuhkan dalam pembentukan otot adalah 1 – 1 ½ gram per-kg berat
badan. Pola latihan pun harus tepat misalnya pola latihan yang sering
dilakukan yaitu hari Senin
latihan dada,bahu,Triceps dan Abs (perut),
Selasa istirahat, Rabu latihan punggung, kaki,
Biceps dan Abs,hari Kamis
istirahat, lalu Jumat latihan dada, bahu,
triceps dan Abs dan hari Sabtu
latihan Punggung, Kaki, dan Biceps, sedangkan hari Minggu tempat fitness nya
tutup (yakali hari Minggu masih teteuup
fitness). Nah itu kalau ngomongi soal jadwal latihan terus kalo ngomongi soal gizi
serta porsi makanan untuk saya konsumsi sehari-hari udah beda. Sang Trainer menyuruh (tepatnya memaksa) saya
hanya mengkonsumsi 4-5 putih telur ditemani secangkir orange jus (ga usah ditambahi gula ya orange jus nya) sebagai sarapan pagi, bila terasa lapar setelah
sarapan pagi cukup konsumsi sepotong buah apel. Biasanya dulu sebelum nge-gym saat sarapan saya bisa menghabiskan
sepiring nasi goreng bulat-bulat beserta lauk pauknya, mulai dari ayam goreng
dan kerupuk udang, atau sepiring nasi uduk ditemani dayang-dayangnya mulai dari
telur orak-arik, suwiran dada ayam, sambal tumis dan timun istilahnya nikmat
sarapan pagi mana lagi yang kamu ingkari. sedangkan untuk makan siangnya menu
seperti biasa hanya saja jumlah protein nabati dan hewani yang ditambah juga
proses memasaknya yang tidak boleh digoreng, jumlah nasi berkurang drastis serta
konsumsi garam dan gula yang di pangkas ke akar-akarnya, awalnya saya merasa “kok
menu makan saya kayak orang susah ya?”, menu makan malam tidak usah ditanya
terkadang saya hanya mengkonsumsi sayur tumis dan buah-buahan. Selama lebih
kurang satu tahunan saya menjalani pola hidup seperti ini, es krim yang jadi
kegemaran di sabtu dan minggu sore lenyap, belum-belum lagi saat kumpul dengan
teman-teman, saat mereka semua sibuk dengan menu makan siang mulai dari soto betawi, rawon, pindang ikan
patin sedang saya hanya bergelut dengan menu yang itu-itu saja no fries no
tumis-tumis. Pada saat pertengahan 2013 saya melakukan evaluasi terhadap pola
tersebut, pola itu tidak berjalan dengan baik di tubuh saya. Tubuh saya malah terlihat
terlalu tebal (padahal muka saya imut-imut) dan sangat bulky. Konsumsi susu Whey
pun tidak sejalan dengan pencernaan, tampaknya saya termasuk dari orang-orang
yang sensitif terhadap diary product.Akhirnya
setelah menimbang dan merenung seharian dengan lapang dada saya menghentikan
pola hidup seperti itu, tidak ada lagi pola gym seperti di atas, tidak ada lagi
menu-menu diet atau sehat, mungkin bagi Trainer
saya pola seperti itu tidak akan membuat badan mengalami over trained tapi siapa yang
tahu perkara badan orang lain, what works
to him doesn’t work properly to anybody else’s body then what works to anybody
else’s body can’t work well to my Trainer’s body. Tuhan telah menciptakan
badan manusia dengan keunikan, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tubuh
kita bukanlah Matematika yang menakar ini, menghitung itu. Tubuh hanya butuh
kamu makan sehat dan olahraga teratur. Benar jika untuk meningkatkan massa otot
harus latihan beban dan meningkatkan mengkonsumsi protein perhari tetapi semua
itu kembali lagi pada cara kerja tubuh dan rutinitas kita. Kenapa rutinitas
kita juga? Iya dong, kamu tidak hanya nge-gym saja bukan? Ada hal-hal lain dan
kegiatan lain yang kamu lakukan di luar nge-gym. Dengan menu diet/sehat seperti
yang saya jalani mungkin banyak orang yang sejalan dengan itu dan merasakan
manfaatnya tetapi tidak sedikit juga mereka yang merasa cepet lemas, dan bahkan
tidak bergairah akibat suplai kalori yang berkurang, hal ini jika dibiarkan
bukan tidak mungkin akan berpengaruh pada sistem daya tahan tubuh. Sekarang saya
tetap nge-gym dan ditambah dengan jogging
di sore hari. Menu seperti bakso, siomay ataupun es krim yang jadi kegemaran
disaat weekend dulu kini bisa
dinikmati kembali. Olahraga tetap menjadi sesuatu yang menyenangkan dan
mengasikkan. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi menghitung-hitung jumlah
protein yang masuk ataupun menghitung jumlah kalori yang telah terbakar, karena
saya percaya Badan bukanlah Matematika.
Senin, 09 Juni 2014
Menyemplung di dunia baru (Menjadi Tour Guide Part I)
Menjadi seorang tour guide atau lebih
dikenal pemandu wisata kelihatannya sangat mengasikkan. Iya jadi ceritanya saya
punya teman yang bekerja sebagai pemandu wisata. Awalnya tugas ini digelutinya
sebagai hobi saja. Namun lama-kelamaan saya melihat ada keasyikan tersendiri
yang dirasakan teman saya, mulai dari liburan gratis dapet duit pula, bisa dapat teman dan relasi baru serta bisa menambah
pengalaman pastinya. Wah mengasyikan sekali bukan. Andai saja aku bisa jadi
pemandu wisata seperti temanku. Selang beberapa bulan kemudian sayapun di
tawari oleh teman untuk menggantikan dirinya memandu wisata di daerah saya,
tugas yang mungkin terlalu banyak namun waktu yang terbatas membuat teman saya tidak
bisa menghandle semua pekerjaan tersebut. Malam harinya sayapun di berikan
arahan tentang bagaimana menjadi pemandu wisata yang baik, bagaikan sedang
makan sup sayur di dalam mobil yang melewati jalan penuh lubang (lubang jalan
ya bukan lubang hutang) ilmu yang disampaikan teman saya pun hanya lewat saja,
atau yaah minimal benar-benar sedikit yang nyangkut di otak. Bayangkan saja
sudah memberikan penjelasan via telpon dan (sepertinya) teman saya menjelaskan
dalam keadaan terburu-buru pula, belum-belum lagi kapasitas otak saya yang
tidak lebih besar dari sebuah disket. Saya pun tidak menyerah begitu saja
selang teman saya menelpon, saya pun langsung membuka buku panduan tentang
sejarah-sejarah kota saya, Palembang. Mulai dari tempat bersejarah, tempat
pemakaman para leluhur dan juga (ini tidak boleh terlewatkan sama sekali)
kuliner khas Palembang yaitu rawon kikil, lho sudah berubah ya? Oh masih
Empek-empek rupanya. Pagi-pagi sekali barangkali ayampun masih tertidur pulas
dengan mimpi basahnya, teman saya menguhubungi saya kembali guna memastikan
kalau saya masih hidup dan siap menjalankan tugas dengan baik. Tepat pukul 6
pagi saya harus segera tiba di hotel Sriwijaya Palembang, yang jaraknya sekitar
35 menitan dari rumah saya (itu kalau ga macet lho. Aduuh segitu pentingnya
info ini). Bagus tepat setengah tujuh lewat pancoran saya sampai dengan selamat
di hotel tempat turis domestik ini menginap. Saya pun langsung menghubungi team
leader mereka. Setelah berkenalan dan bercuap-cuap ala kadarnya mas Beni yang
menjadi leader saya memberikan informasi kalau tamu kali ini berasal dari dinas
kebersihan kota Banten, Tangerang. Mendengar kata Banten saya jadi ingat si
koruptor yang tingkat malunya tidak tahu diri itu, tamu inipun (turis ini saya
sebutnya tamu saja ya biar ga ribet) berjumlah 15 orang. Mereka melakukan
kunjungan ke Palembang sebenarnya selama tiga hari namun dikarenakan hari kamis
mereka masih mengikuti sidang apel maka keberangkatan mereka ke Palembang di
tunda dan dikurang menjadi 2 hari saja. Tepat pukul setengah delapan tamu-tamu
pun sedang menikmati sarapannya, saya yang tadinya sudah sarapan dari rumah
juga ikut sarapan lagi (yaampun itu perut apa celengan semar), tamu-tamu inipun
sangat ramah sekali, saya tidak melihat wajah-wajah songong ataupun sombong
dari paras mereka, padahal mereka semua sudah PNS dengan golongan yang tinggi.
Setelah sarapan kamipun beranjak kedalam bus, leader saya mengomandoi dan
memastikan kalau mereka semua yang berjumlah 15 ekor eh orang sudah berada
dalam bus, setelah lagi dirasa cukup leader saya pun memberikan aba-aba untuk
segera membuka presentasi perjalanan. Rasa gugup benar-benar mendera saya saat
itu, saking nervous-nya saya rasanya ingin pura-pura pingsan dan segera di
pulangkan kerumah, namun dengan kegigihan hati dan tekad untuk menambah
pengalaman dan tentunya mencari uang sendiri saya pun dengan (mencoba) santai
menyapa mereka “ selamat pagi bapak-bapak, Ibu-ibu! “ (Gubraaak, loe pikir ini
acara sunatan di kampung! Ga ada yang lebih garing apa?). setelah memastikan
mereka benar-benar attached dengan
kehadiran saya, saya pun mulai menjelaskan sejarah kota Palembang secara
singkat sambil kadang-kadang saya selipkan bahasa-bahasa Sunda guna untuk
mengakrabkan diri, namun disaat itu juga sebagian dari mereka malah berkata
“Mas,asli Sunda ya?” “Bukan Pak, kenapa emang?” “kok Sunda nya tok-tok banget”
kami semua di bus pun tertawa dan sialnya si supir bus kami yang memang jarak
duduknya dengan saya berdekatan memberikan celetukan “makanya mas, pakai bahasa
Palembang saja terus panggil mereka jangan buk/pak, tetapi panggil mangcek (untuk
pria) dan bicek (untuk wanita) sajalah!” saya merasa bersalah dan kelihatan
kurang kompeten dimata tamu ini, padahal saya pikir si supir ini kan bisa
bisik-bisik saja ngomong masalah tadi. But
yeaah The show must go on setelah
menempuh perjalanan lebih kurang 1 jam setengah kamipun sampai di dinas
kebersihan kota Palembang, rupanya jadwal kunjungan pertama mereka adalah
semacam raker.
Setelah menunggu berjam-jam acarapun
dilanjutkan solat Jum’at, baru saja diri ini ingin bersandar pada tiang di masjid
salah satu tamu saya kehilangan dompet, dia pun kelihatan kebingungan tapi juga
menyakini kalau dompetnya tertinggal di tempat raker tadi, saya pikir mana
mungkin kembali lagi ke dinas kebersihan menggunakan bus, mana jarak mesjid dan
kantor dinas itu lumayan jauh namun apa boleh buat sebagai pemandu wisata saya
harus bertanggung jawab dengan pekerjaan saya, untung saja taksi yang ditunggu
datang, kamipun langsung meluncur ke TKP. Entah apa yang membuat supir taksi
ini begitu lelet mengedarai delmannya eh mobilnya saya pun memintanya untuk
mempercepat laju singkat cerita dompet yang hilang pun ketemu, wajah sumringah
terpancar jelas dari tamu saya yang kehilangan dompet, ah leganya bisa membantu
sesama, waktu telah menunjukkan pukul 12 lewat saya sudah pesimis akan
tertinggal solat Jum’at namun niat baik memang berbuah manis, tepat saat komad
solat berkumandang kamipun tiba di masjid sebelumnya, taksi ini benar-benar
handal, untung saja solat Jum’at saat itu tidak terlewatkan. Alhamdulillah ...
Matahari sudah terlihat pas di atas kepala kami hari terasa begitu panas, jam
menunjukkan tepat pukul satu siang perut kamipun sudah mulai keroncongan, saya
bersama rombonganpun bergegas menuju tempat makan yang telah di booked
sebelumnya. Asal tau saja ya, proses pemesanan tempat makan ini
(tentunya beserta makannya ya) tidak semudah memesan semangkung soto dipinggir
jalan/secangkir es dawet. Owner
restoran yang kurang cekatan saat melayani via telpon ditambah lagi leader kami
yang tidak cepat memberikan keputusan soal makanan mana yang akan dipesanpun
membuat makan siang ini terasa lama, leader kami tidak hanya bertugas mengatur
menu, dia juga bertugas memikirkan budget yang akan di keluarkan, bisa tekor kalau makanan yang dipesan tidak
sesuai dengan budget yang ada di dompet. Menu makan siang kami tidak jauh dari
menu khas Palembang, bukan pempek ya (masa iya perut lagi ‘kosong’ dibiarkan
makan pempek dan cuka yang pedasnya tingkat paripurna itu. Oh ya, umumnya rasa
cuka pempek di Palembang ini jauh lebih pedas daripada cuka pempek yang di jual
di kota-kota lain) melainkan pindang ikan patin beserta lalap-lalapannya. Para
tamupun terlihat senang sekali menyantap menu tersebut bahkan di antara mereka
ada yang nambah. Saya bersama leader dan supir bus pun makan di meja yang lain,
disana leader yang umurnya jauh lebih dewasa dari saya memberikan pengalaman
dan nasehat tentang susahnya menjadi seorang leader. Dia bilang bahwa makanan
yang dipesan ini harganya pasti udah keluar dari budget belum-belum lagi
setengah orang dari rombongan rata-rata minta tambah makanan dan minuman. Namun
leader kami harus tetap profesional, dia harus menunjukkan sikap yang loyal
biarpun rugi sedikit tidak mengapa asal nama agen travel miliknya tetap bagus
di mata para konsumen. (Hmm... mungkin bukan rugi ya melainkan keuntungan
berkurang). Selepas makan siang inipun kami langsung beranjak menuju Al-Quran
terbesar di Asia. Konon katanya Al-Quran yang akan kami kunjungi ini sudah
tersohor hingga ke lebih dari 50 negara seluruh dunia lho (wow, Go
internasional dong?!) jarak tempuh yang dibutuhkan dari restoran menuju
destinasi Al-Quran terbesar itupun sekitar 1 jam lebih hal ini dikarenakan
lokasinya yang bisa dibilang terpencil. (kok bisa tempat wisata rohani seperti
ini bisa begitu terpencil dari pusat kota,entahlah. Mungkin biar khusuk kali
ya). Sembari melakukan perjalanan saya pun mulai mengoceh lagi tentang segala heritage yang ada di Palembang, mulai
dari rumah adat, pakaian adat sampai dengan ritual-ritual upacara khas yang ada
di kota Palembang. Dengan sangat terasa akhirnya kamipun tiba di Al-Quran
terbesar ini, pemandangan yang kami lihat mampu menghapus semua rasa penat dan
bosan kami saat di bus. Saya dan rombongan pun tidak melewatkan kesempatan ini
untuk sekadar berfoto-foto.
Desain Al-Quran terbesar ini unik sekali, perpaduan ukiran kuningan khas Palembang ditambah pilar-pilar besar berwarna merah khas Cina sebagai penyanggah kemudian adanya kolam ikan hias tepat di depan Al-Quran dan tanaman-tanaman hias yang hijau nan lebat membuat pemandangan ini begitu sayang bila di tinggalkan, sayang hari sudah beranjak sore kamipun harus segera enyah dari sini dan menuju ke destinasi berikutnya. Perjalanan dilanjutkan menuju lapangan sepak bola Gelora Sriwijaya Jakabaring yang juga pernah dijadikan tempat opening, pertandingan sepak bola dan closing dari Sea Games ke 26th dan juga ISG ke 3rd, lokasinya lumayan jauh, bahkan perkiraan saya akan memakan waktu sampai 2 jam lebih karena mengingat hari sudah pukul setengah lima sore itu artinya para karyawan sudah pada bubar dari kantor dan tumpah ruah di jalan, sesekali kami pun berkelakar ringan, tidak ada bahasan-bahasan lain yang bisa saya sampaikan, rasanya semua bahan cerita sejarah Palembang sudah saya khatamkan. Akhirnya untuk sekadar membunuh waktu kamipun berkaroke ria, dangdut adalah pilihan utama dari para tamu-tamu ini. Sesampainya di lapangan sepak bola Jakabaring mereka semua hanya sibuk berfoto-foto saja, mungkin dipikirnya kapan lagi sih bisa foto di lapangan sepak bola yang menjadi tempat pertandingan Sea games ini. Berfoto, tertawa dan bahkan salah satu dari mereka ada yang berkejar-kejaran karena ada beberapa bapak-bapak yang suka jahil dengan ibu-ibu, sungguh lucu tingkah mereka, mereka seperti tidak berusia 40 atau 50 tahun, senang juga melihat pemandangan tersebut, senang karena mereka bisa merasa ‘lepas’ dari beban pekerjaan yang mungkin hampir setiap hari mendera mereka.
Sebentar lagi matahari akan segera tenggelam, kami harus segera sampai ke destinasi berikutnya yaitu Benteng Kuto Besak (BKB) yang jarak tempuhnya sekitar 30 menitan. Kalian para pembaca mungkin bertanya apa sih BKB, BKB adalah keraton pusat Kesultanan Palembang Darussalam, sebagai pusat kekuasaan tradisional yang mengalami proses perubahan dari zaman madya menuju zaman baru di abad ke-19. Pengertian Kuto di sini berasal dari kata Sanskerta, yang berarti: Kota, puri, benteng. Dewasa ini BKB dijadikan tempat wisata rekreasi bahkan lokasi BKB yang di aliri oleh sungai musi menjadikan tempat ini juga sebagai wisata air, ditambah lagi jaraknya yang pas menghadap ke jempatan Ampera membuat pemandangan yang ditawarkan semakin indah, apalagi saat sore dan menjelang malam, sekadar menikmati pemandangan matahari yang tenggelam (sunset) ataupun sekadar duduk santai ngobrol bersama teman-teman. Selain itu di BKB ini juga banyak sekali ditemukan pedagang kali lima yang menjajakan makanan khas Palembang seperti empek-empek, kelempang ikan, dan yang paling terkenal disini adalah mie tek-tek nya (jangan salah baca ya hihih). Para tamu saya pun tidak melewatkan kesempatan ini, berfoto adalah agenda wajib (sepertinya) yang mereka lakukan, saya dan leader saya (si supir syukur deh ga ikutan nimbrung!) hanya memandangi mereka sembari tersenyum. Saya sempat bertanya dengan leader saya “bagaimana mas kinerja saya hari ini?” sambil tersenyum “bagus..” “beneran bagus?” dia tersenyum lagi “kamu bagus kok sebagai pemula. Kamu hanya kurang bisa memberikan gambaran yang ‘wah’ tentang sesuatu sejarah yang kamu jelaskan, tapi sudahlah, pengalaman akan banyak mengajarimu. Butuh kebesaran hati yang luar biasa untuk menerima kritik dan belajar kembali. Kamu memiliki jiwa yang besar Wan, karena memang kamu maunya di kritik”. Haripun sudah malam tugas saya hampir selesai di hari pertama ini, sebelum pulang ke hotel kami pun makan malam. Banyak hal-hal menarik yang aku dapatkan dari pengalaman hari ini dan tentunya dari leader ku. Setelah makan kamipun kembali ke hotel, saat di jalan menuju hotel saya sempat menawarkan para tamu yang ingin memesan empek-empek sebagai buah tangan. Hari sudah pukul 10 malam, para tamu sudah kembali kekamar masing-masing sedang saya pulang ke rumah, namun sebelumnya saya masih harus mengantarkan catatan pesanan empek-empek ini ke pusat oleh-oleh di kota kami, agar besok tidak payah menunggu. Tuntas sudah tugasku di hari pertama ini, masih ada satu hari lagi. Hmm.. rasanya aku ingin lekas bertemu besok melihat sang mentari bersinar kembali dan melihat senyum manis dari para tamu-tamuku itu. Kira-kira pelajaran apa lagi ya yang akan aku alami besok? (bersambung)
Desain Al-Quran terbesar ini unik sekali, perpaduan ukiran kuningan khas Palembang ditambah pilar-pilar besar berwarna merah khas Cina sebagai penyanggah kemudian adanya kolam ikan hias tepat di depan Al-Quran dan tanaman-tanaman hias yang hijau nan lebat membuat pemandangan ini begitu sayang bila di tinggalkan, sayang hari sudah beranjak sore kamipun harus segera enyah dari sini dan menuju ke destinasi berikutnya. Perjalanan dilanjutkan menuju lapangan sepak bola Gelora Sriwijaya Jakabaring yang juga pernah dijadikan tempat opening, pertandingan sepak bola dan closing dari Sea Games ke 26th dan juga ISG ke 3rd, lokasinya lumayan jauh, bahkan perkiraan saya akan memakan waktu sampai 2 jam lebih karena mengingat hari sudah pukul setengah lima sore itu artinya para karyawan sudah pada bubar dari kantor dan tumpah ruah di jalan, sesekali kami pun berkelakar ringan, tidak ada bahasan-bahasan lain yang bisa saya sampaikan, rasanya semua bahan cerita sejarah Palembang sudah saya khatamkan. Akhirnya untuk sekadar membunuh waktu kamipun berkaroke ria, dangdut adalah pilihan utama dari para tamu-tamu ini. Sesampainya di lapangan sepak bola Jakabaring mereka semua hanya sibuk berfoto-foto saja, mungkin dipikirnya kapan lagi sih bisa foto di lapangan sepak bola yang menjadi tempat pertandingan Sea games ini. Berfoto, tertawa dan bahkan salah satu dari mereka ada yang berkejar-kejaran karena ada beberapa bapak-bapak yang suka jahil dengan ibu-ibu, sungguh lucu tingkah mereka, mereka seperti tidak berusia 40 atau 50 tahun, senang juga melihat pemandangan tersebut, senang karena mereka bisa merasa ‘lepas’ dari beban pekerjaan yang mungkin hampir setiap hari mendera mereka.
Sebentar lagi matahari akan segera tenggelam, kami harus segera sampai ke destinasi berikutnya yaitu Benteng Kuto Besak (BKB) yang jarak tempuhnya sekitar 30 menitan. Kalian para pembaca mungkin bertanya apa sih BKB, BKB adalah keraton pusat Kesultanan Palembang Darussalam, sebagai pusat kekuasaan tradisional yang mengalami proses perubahan dari zaman madya menuju zaman baru di abad ke-19. Pengertian Kuto di sini berasal dari kata Sanskerta, yang berarti: Kota, puri, benteng. Dewasa ini BKB dijadikan tempat wisata rekreasi bahkan lokasi BKB yang di aliri oleh sungai musi menjadikan tempat ini juga sebagai wisata air, ditambah lagi jaraknya yang pas menghadap ke jempatan Ampera membuat pemandangan yang ditawarkan semakin indah, apalagi saat sore dan menjelang malam, sekadar menikmati pemandangan matahari yang tenggelam (sunset) ataupun sekadar duduk santai ngobrol bersama teman-teman. Selain itu di BKB ini juga banyak sekali ditemukan pedagang kali lima yang menjajakan makanan khas Palembang seperti empek-empek, kelempang ikan, dan yang paling terkenal disini adalah mie tek-tek nya (jangan salah baca ya hihih). Para tamu saya pun tidak melewatkan kesempatan ini, berfoto adalah agenda wajib (sepertinya) yang mereka lakukan, saya dan leader saya (si supir syukur deh ga ikutan nimbrung!) hanya memandangi mereka sembari tersenyum. Saya sempat bertanya dengan leader saya “bagaimana mas kinerja saya hari ini?” sambil tersenyum “bagus..” “beneran bagus?” dia tersenyum lagi “kamu bagus kok sebagai pemula. Kamu hanya kurang bisa memberikan gambaran yang ‘wah’ tentang sesuatu sejarah yang kamu jelaskan, tapi sudahlah, pengalaman akan banyak mengajarimu. Butuh kebesaran hati yang luar biasa untuk menerima kritik dan belajar kembali. Kamu memiliki jiwa yang besar Wan, karena memang kamu maunya di kritik”. Haripun sudah malam tugas saya hampir selesai di hari pertama ini, sebelum pulang ke hotel kami pun makan malam. Banyak hal-hal menarik yang aku dapatkan dari pengalaman hari ini dan tentunya dari leader ku. Setelah makan kamipun kembali ke hotel, saat di jalan menuju hotel saya sempat menawarkan para tamu yang ingin memesan empek-empek sebagai buah tangan. Hari sudah pukul 10 malam, para tamu sudah kembali kekamar masing-masing sedang saya pulang ke rumah, namun sebelumnya saya masih harus mengantarkan catatan pesanan empek-empek ini ke pusat oleh-oleh di kota kami, agar besok tidak payah menunggu. Tuntas sudah tugasku di hari pertama ini, masih ada satu hari lagi. Hmm.. rasanya aku ingin lekas bertemu besok melihat sang mentari bersinar kembali dan melihat senyum manis dari para tamu-tamuku itu. Kira-kira pelajaran apa lagi ya yang akan aku alami besok? (bersambung)
Minggu, 08 Juni 2014
Kesempatan di ISG 2013
Jumat, 06 Juni 2014
melatih Mental
Siapapun
orang tua yang sudah memiliki anak pasti yang menjadi prioritas utama mereka
adalah sekolah/pendidikan anak. Yap, semua yang terbaik dipersiapkan demi laju
tumbuh perkembangan si anak. Awalnya (mungkin sih) tidak jelas apa tujuan si
orang tua ini khususnya ibu-ibu menyekolahkan si anak ke sekolah A dan ke
sekolah B. Mereka hanya mengikuti peraturan dan tren yang sudah ada di
Indonesia. Misalnya sekolah yang berlabel kurikulum based International
otomatis langsung menjadi incaran para orang tua guna menyekolahkan anaknya,
biaya yang relatif mahal pun dinomor duakan dan si anak yang masih ingusan dan
bau kencur itupun hanya manut-manut wae dengan segala keputusan orang tuanya.
Waktu silih berganti, setelah lebih kurang 6 tahun mengenyam bangku SD si anak
pun ( lagi-lagi ) diarahkan oleh orang tua nya untuk melanjutkan sekolah tingat
menengah pertama (SMP) ke sekolah pilihan mereka ( orang tua ) hal inipun
berlanjut ke tingkat sekolah menengah atas (SMA). Lha, siapa toh yang mau
sekolah? Siapa toh yang mau pinter? Saya memang belum berumah tangga apalagi
punya anak, tapi sebagai orang tua mestinya mengerti benar dengan kebutuhan dan
minat si anak. Orang tua cenderung hanya menatap kalau tidak dengan
senyum/cemberut dengan hasil ulangan pelajaran matematika, fisika, kimia,
aljabar (eh aljabar udah ada kan di sekolah-sekolah?) si anak. Mereka tau nya
hanya dengan hasil (cieeeilah curhat deh gue!) misal jika nilai matematika si
anak 100 dengan senyum yang bagaikan malaikat tak bersayap pun terpampang
nyata, jika hasilnya malah 30 wajah yang tadinya berona ayu berubah menjadi
raja demond seperti salah satu tokoh jahat di film petualangan Doraemon-Nobita
di dalam mimpi. Tau sih orang tua mau yang terbaik buat anaknya, tapi pernahkan
orang tua berpikir kehidupan si anak selanjutnya selain dari nilai matematika
atau pelajaran yang paling bikin vertigo mendadak semacam kimia/fisika? . Bagi
saya pembelajaran itu tidak hanya mengenai nilai matematika, fisika, atau kimia
tapi juga perkembangan si anak secara MENTAL. Masih menurut saya yang harus
dirubah saat si anak mendapat nilai matematika 30 atau mungkin lebih parah
yaitu 0 adalah motivasi untuk mendapat nilai yang bagus dan untuk apa dia harus
mendapat nilai yang bagus. Si anak hendaknya dibimbing untuk memiliki jiwa
kompetisi yang kuat, tidak mau mengalah (mengalah pada kemalasan, kelelahan,
dan main PS yaaa) si anak pasti akan terpacu untuk belajar lebih giat
jika hasil / nilai yang keluar tidak seperti yang diharapkan. Mengubah perilaku
belajar hanya akan sia-sia dan paling hanya bertahan sebatas 1-2 minggu
kedepan, setelah nya mereka akan kembali malas dan bahkan mungkin hanya berniat
membuat contekan saja. Jika dari dini si anak sudah dibimbing untuk memiliki
mental pemenang, mental seorang atlit, maka hal ini akan menjadi sebuah pondasi
yang kuat untuk kehidupan si anak di masa yang akan datang, apalagi melihat
persaingan SDM sekarang saja sudah sangat advance, perusahaan tidak terlalu
peduli lagi dengan nilai matematika, fisika, atau kimia yang kamu dapatkan
semasa sekolah. Skill dan mental tidak mudah menyerah yang menjadi prioritas dari
perusahaan untuk merekrut SDM yang bekerja ditempatnya. Maka dari itu Mengubah
mental si anak sejak kecil sangat penting dilakukan daripada menyuruhnya
belajar karena nilai matematika yang kampreet. Tambahan jika si anak yang serta
merta dipaksa belajar, dipaksa menghafal dan lain-lain saat mendapatkan nilai
ulangan yang jelek, namun pada saat si anak sudah berhasil mendapatkan nilai
yang diidam-idamkan orang tuanya semua usaha itupun akan terhenti, mind set si anak hanya terfokus pada angka
80/90/100, setelah dari
itu???? Hal ini berbeda
jika mental si anak sudah terpondasi untuk selalu melakukan yang terbaik.
Apapun keadaanya, apapun masalahnya, dan dimanapun mereka kelak berada
mental inilah yang akan menjadi motor bagi perjalanan mereka, mereka tidak akan
mudah goyah dan rapuh saat mereka berada di bawah dan mereka tidak terlampau
jumawa saat mereka berada di atas.
vv
Rabu, 04 Juni 2014
Ritual baru dengan si Gandum
Makan itu
kegiatan yang menyenangkan ya ? iya ! ( yang jawab iya pasti anak pinter.
weeek! ). Mulai dari makanan manis, asin, asam, sampe makanan dengan rasa bubur
bayi pun dibilang enak. kegiatan makan pun sudah bukan sesuatu yang dapat
dikontrol lagi, idealnya makan kan tiga kali sehari (Pagi,Siang,Malam) namun
beberapa orang yang memiliki kebiasaan makan ini bisa makan lebih dari 3 kali
bahkan jumlahnya bisa sama dengan jumlah tangisan anak bayi yang kehabisan
susu. Nah lho ga keitung dong?!. Saya pernah mengalami hal itu, kebiasaan
berkumpul bersama teman-teman saya yang juga punya hobi yang sama yaitu makan.
Rutinitas makan-memakan makanan ini semacam ritual wajib yang dilakukan saat
kumpul-kumpul, bahkan berbulan-bulan kemudian ritual kumpul sambil makan-makan
ini lebih mirip seperti ritual kumpul kebo, hehehe kebo disini maksudnya badan
saya dan teman-teman saya yang sudah menyerupai anak kebo atau mungkin mbah
kebo. ( Garing ya ? biarin weeks). Mungkin orang-orang atau mungkin anda
sendiri berpikir ‘kami juga biasa kok kumpul sama temen dan makan-makan’ , tapi
bedanya dengan kami, kegiatan kumpul-kumpul ini diisi sekitar 60% makan dan 10%
mainin gadget 25% ngobrol dan 5% godain anak cewek yang kebetulan seliweran di
depan meja kami.
Tanpa terasa
waktu terus berjalan seperti halnya timbangan berat badanku. Sebelumnya hal ini
tidak terasa sama sekali, tapi karena banyaknya teman saya yang bermulut
nyinyir menyindir ukuran badan saya. Saya pun akhirnya berniat untuk melakukan
diet, hah! suatu hal yang tabu saya lakukan namun mau tak mau. Awalnya berat
juga sih, ada yang nyaranin biar cepet susut tu si mbah kisut alias lemak saya
ga boleh makan nasi selama sebulan. What
a jerk! masa iya saya tidak
bertemu dengan sahabat saya selama kurun waktu satu bulan, makan pasti seperti
saat-saat ejakulasi tapi tidak sampai puncaknya. Nah lho! Puncak asmara maksud loe?. Setelah saya bolak
balik searching di mbah google ternyata ada bahan lain yang
berperan sebagai sumber karbohidrat dan energi utama untuk tubuh misalnya
Gandum. Meski rasanya jauh dari kata enak namun (apa boleh buat) saya harus
tetap mengkonsumsinya. Awalnya mengkonsumsi roti gandum saya mikir para
atlet-atlet yang bertubuh kekar itu kok bisa kuat ya makan beras merah, dan
roti gandum sebagai sumber karbohidrat mereka. but yes No pain No gain, roti
gandum ini memiliki tingkat kalori yang jauh lebih rendah dari nasi putih,
selain itu roti gandum juga kaya akan vitamin B1, B2, B6 Dan B12, Roti gandum
juga kaya akan serat yang fungsinya mengatur
sistem pencernaan dan membantu membersihkan usus. Selain itu, roti gandum juga
memiliki efek lebih ringan pada tingkat gula darah sehingga aman untuk diabetesi.
Hal ini dikarenakan tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa diserap dalam
aliran darah. Sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi roti
gandum memiliki kesempatan yang jauh lebih rendah terkena serangan jantung
karena dapat menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Nah setelah tahu
beberapa manfaat mengkonsumsi roti gandum tersebut rasa kampret yang ada pada
roti ini pun lenyap dan sekarang meski berat badan saya belum susut terlalu
banyak paling tidak manfaat dan self security pada kesehatan badan pun terasa.
Tapi teteuup ya konsumsi roti gandumnya jangan
banyak-banyak, karena roti gandum itu kan sumber karbohidrat yang pasti sangat
cepat menaikkan timbangan badan. Selamat mencoba!
Makan itu
kegiatan yang menyenangkan ya ? iya ! ( yang jawab iya pasti anak pinter.
weeek! ). Mulai dari makanan manis, asin, asam, sampe makanan dengan rasa bubur
bayi pun dibilang enak. kegiatan makan pun sudah bukan sesuatu yang dapat
dikontrol lagi, idealnya makan kan tiga kali sehari (Pagi,Siang,Malam) namun
beberapa orang yang memiliki kebiasaan makan ini bisa makan lebih dari 3 kali
bahkan jumlahnya bisa sama dengan jumlah tangisan anak bayi yang kehabisan
susu. Nah lho ga keitung dong?!. Saya pernah mengalami hal itu, kebiasaan
berkumpul bersama teman-teman saya yang juga punya hobi yang sama yaitu makan.
Rutinitas makan-memakan makanan ini semacam ritual wajib yang dilakukan saat
kumpul-kumpul, bahkan berbulan-bulan kemudian ritual kumpul sambil makan-makan
ini lebih mirip seperti ritual kumpul kebo, hehehe kebo disini maksudnya badan
saya dan teman-teman saya yang sudah menyerupai anak kebo atau mungkin mbah
kebo. ( Garing ya ? biarin weeks). Mungkin orang-orang atau mungkin anda
sendiri berpikir ‘kami juga biasa kok kumpul sama temen dan makan-makan’ , tapi
bedanya dengan kami, kegiatan kumpul-kumpul ini diisi sekitar 60% makan dan 10%
mainin gadget 25% ngobrol dan 5% godain anak cewek yang kebetulan seliweran di
depan meja kami.
Tanpa terasa
waktu terus berjalan seperti halnya timbangan berat badanku. Sebelumnya hal ini
tidak terasa sama sekali, tapi karena banyaknya teman saya yang bermulut
nyinyir menyindir ukuran badan saya. Saya pun akhirnya berniat untuk melakukan
diet, hah! suatu hal yang tabu saya lakukan namun mau tak mau. Awalnya berat
juga sih, ada yang nyaranin biar cepet susut tu si mbah kisut alias lemak saya
ga boleh makan nasi selama sebulan. What
a jerk! masa iya saya tidak
bertemu dengan sahabat saya selama kurun waktu satu bulan, makan pasti seperti
saat-saat ejakulasi tapi tidak sampai puncaknya. Nah lho! Puncak asmara maksud loe?. Setelah saya bolak
balik searching di mbah google ternyata ada bahan lain yang
berperan sebagai sumber karbohidrat dan energi utama untuk tubuh misalnya
Gandum. Meski rasanya jauh dari kata enak namun (apa boleh buat) saya harus
tetap mengkonsumsinya. Awalnya mengkonsumsi roti gandum saya mikir para
atlet-atlet yang bertubuh kekar itu kok bisa kuat ya makan beras merah, dan
roti gandum sebagai sumber karbohidrat mereka. but yes No pain No gain, roti
gandum ini memiliki tingkat kalori yang jauh lebih rendah dari nasi putih,
selain itu roti gandum juga kaya akan vitamin B1, B2, B6 Dan B12, Roti gandum
juga kaya akan serat yang fungsinya mengatur
sistem pencernaan dan membantu membersihkan usus. Selain itu, roti gandum juga
memiliki efek lebih ringan pada tingkat gula darah sehingga aman untuk diabetesi.
Hal ini dikarenakan tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa diserap dalam
aliran darah. Sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi roti
gandum memiliki kesempatan yang jauh lebih rendah terkena serangan jantung
karena dapat menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Nah setelah tahu
beberapa manfaat mengkonsumsi roti gandum tersebut rasa kampret yang ada pada
roti ini pun lenyap dan sekarang meski berat badan saya belum susut terlalu
banyak paling tidak manfaat dan self security pada kesehatan badan pun terasa.
Tapi teteuup ya konsumsi roti gandumnya jangan
banyak-banyak, karena roti gandum itu kan sumber karbohidrat yang pasti sangat
cepat menaikkan timbangan badan. Selamat mencoba!
Selasa, 03 Juni 2014
Kekeluargaan Sajalah
'' Kekeluargaan sajalah!
'' kalimat ini terlihat dan terdengar sangat lumrah di Indonesia, umumnya
kalimat ini keluar dan jadi senjata pamungkas saat salah satu kubu tidak
mempunyai cukup bukti untuk dibilang benar, maka kekeluargaan sajalah. Oke, aku
setuju dengan 'kekeluargaan sajalah' saat menyelesaikan masalah seperti (jangan
sampai kejadian) kecelakaan/musibah yang disebabkan kompor tetangga meledup misalnya. Tapi
pernahkah terbersit di benak kalian jika 'Kekeluargaan sajalah' ini terjadi di
dalam sebuah organisasi bukannya selayaknya organisasi itu tunduk pada
peraturan yang di tetapkan sebelum-sebelumnya. Organisasi adalah kegiatan yang
dilakukan oleh lebih dari satu orang yang bertujuan mencapai tujuan organisasi
tersebut. sudah barang tentu untuk mencapai tujuan dan kesejahteraan suatu
organisasi itu memiliki peraturan dan andil seorang pemimpin yang bijak dan
arif. Akan tetapi beneran ada lho organisasi yang menjalankan 'Kekeluargaan sajalah
ini'. Hah beneran ? Yakin lho ?. Yap, saya pernah merasakannya
dimana saat saya tahun 2013 masuk disalah satu organisasi ( tidak perlu saya
sebutkan namanya pemirsa ) yang mana saat itu terlihat solid namun rapuh. yah,
beberapa anggota senior lainnya ada yang seperti berkubu-kubu bahkan saat
mereka harus memberikan arahan kepada kami, yang punya naluri pasti ngerasain
kalau kejadian saat itu memang tidak akur satu sama lain. Tapi siapa peduli,
saya pikir salah satu dari mereka mungkin saja sedang kalah taruhan acara
pencarian bakat yang tereliminasi atau mungkin mereka yang berkubu tidak
mendapatkan jatah sarapan pagi. who
knows?. Namun saat hampir 2-3
bulan saya berada di dalam organisasi itu saya mulai mengedus sesuatu yang
janggal. Misanya saja saat ada pekerjaan/Job yang mestinya saya-lah yang
menghandle ( dalam hal ini saya ketua yang baru pemirsa ). Namun para senior
yang lebih menjunjung tinggi nilai 'Kekeluargaan sajalah' ini lebih memilih
wakil saya untuk menangani sebuah pekerjaan, hanya karena jarak dan lingkungan
bermain mereka saling berdekatan. Bahkan saya bisa pastikan dengan si A menutup
mata dan tangan terikat si A mampu sampai menuju rumah si B dalam keadaan sehat
walafiat. Hal ini pun terus berlanjut saat ada pekerjaan/tugas lain yang mestinya
melalui perantara dan persetujuan ketua terlebih dahulu mereka ( baca : senior
) malah untuk kedua kalinya memberikan pekerjaan tersebut kepada wakil saya.
Awalnya saya bukan tidak sempat minta kejelasan dengan hal ini, rasa-rasanya
saya tidak sejelek itu untuk mengatur,menyelesaikan pekerjaan/tugas negara yang
diberikan, namun jawaban yang saya dapatkan sangat tidak masuk diakal. Mulai
dari kelupaan, mendadak, inilah itulah. Setelah dipikir matang-matang dan
berdialog dengan senior yang lain saya pun memutuskan meninggalkan organisasi
tersebut. Sekarang entah bagaimana dengan nasib organisasi tersebut, saya hanya
bisa mendo'a kan agar kelak teman-teman saya yang masih bertahan disana menjadi
senior yang tidak terlalu mudah untuk dibilang 'bodoh' dengan memakai peraturan
'kekeluargaan sajalah' itu. Organisasi ya organisasi tidak ada kaitannya dengan
keluarga ataupun kekeluargaan. Tugas yang seharusnya milik bersama diselesaikan
bersama. yah, itu kalau mau maju dan berkembang. Kalau saya sih mau berkembang
makanya saya tinggalin organisasi tersebut. So, tidak selamanya kata sifat
'Kekeluargaan' ini baik dan menguntungkan kedua belah pihak, tempatkan
peraturan pada tempatnya, bersikaplah bijak.
SOAL MENGAGUMI KAMU
sudah lama halaman Blog ini tak terjamah, baiklah tidak pantas rasanya bila membiarkannya begitu saja tanpa memberikan sedikit coretan-coretan berupa tulisanku yang mungkin mengganggu ini. Sudah hampir satu tahunan lebih aku tidak menulis lagi di blog ini banyak cerita selama setahun itu yang mungkin ingin ku bagi karena penting dan sebagian tidak ingin kubagi karena terlalu tidak penting (minimal untuk dipulbikasikan). Mengagumi seseorang pernahkah kalian mengalaminya ? jika pernah seberapa banyak/sering hal itu terjadi ? jika jawabannya lebih dari satu kali atau lebih dari puluh/ratus kali jangan-jangan kamu termasuk kategori 'murahan' hahahah becanda kok jangan di ambil hati. kamu mungkin kategori pengagum segala hal baik itu yang memiliki hobi/kegemaran yang sama sepertimu atau justru berbeda tapi sudahlah aku disini tidak membahas kategori itu. Aku hanya sedang mengagumi sosok orang yang aku anggap dia mempunyai karakter pendiam, sopan dan menarik. Aku tidak punya jutaan keberanian hanya untuk berkenalan, mengajak ngobrol atau sampai bertukar nomor handphone. Namun jutaan fantasi sudah seringkali terangkai kuat di otakku saat mengingat dirinya. Tidak tahu ini perasaan semacam suka/naksir/kagum yang pasti aku senang bila menerawang senyum dan atitude dia keorang lain. Aku cukup bahagia dengan semua yang aku rasakan ini, bisa melihat dia dari jarak kejauhan, bisa melihat dia tersenyum dan tertawa dengan teman-temannya sudah bagian yang bisa membuatku berkata "Ini cukup!" dengan perasaan lega. Aku takut rasa senang/naksir/kagum ini akan berkurang jika aku nekat berkenalan dan mengajak dia sekarang kong kow namun responnya negatif. Hah,aku sungguh tepat disebut cemen nya 2014. Paling tidak untuk sementara biar saja seperti ini, aku tahu mungkin secara fisik aku dan dia tidak/belum berteman tapi Do'a yang ku kirimkan untuknya telah lebih dulu berteman (mungkin) dengan Do'a-do'a nya. Kalau dibilang hal yang kulakukan ini hal yang bodoh biarlah, tah mengapa toh bodoh asal bahagia dan tak membodohi orang lain. Anggap saja jika ini sebuah dagelan kartun aku berperan sebagai Patrick sedang kamu Spongebob, aku akan setia menunggumu disini sampai tiba saat kamu terjaga kalau ada seseorang yang asyik mengagumimu dan menunggumu. Teruntukkmu di dalam pikiran, hati dan Do'a ku. YPA
Langganan:
Postingan (Atom)












