Senin, 16 Juni 2014

Suara Sang Kertas

Terdengar seperti suara angin yang perlahan menyautkan ke dalam indera pendengaran pemiliknya. “ Hei, Bagas lihat aku! Aku sudah lama tidak kau sentuh “ kalimat itu hanya berayun kedalam hati dimana suara itu berasal. Bagas masih asyik saja duduk manis di depan laptop terbarunya yang baru saja didapatkan oleh ayahnya sebagai kado ulang tahun. Sesekali ia beranjak menuju dapur sekadar mencari makanan kecil kemudian kembali lagi ke meja yang kelihatan usang bersama laptopnya. “ Hello Bagas. Ayo ambil penamu. Tulislah aku dengan cerita-cerita menarikmu di diriku ini “ teriak lagi sang kertas dengan penuh semangat. Seperti mengharapkan jalanan ibu kota yang bebas dari kemacetan, suara itu tidak akan mampu menembus indera pendengaran Bagas. Malam sudah benar-benar memekatkan langit melalui kegelapannya. Bagas yang tadinya asyik mengetik di depan laptop kini perlahan mulai merasa kantuk. Ia pun bergegas mematikan laptopnya dan langsung menghilang ke dalam mimpi. Sang kertas sejak awal petang berteriak meminta Bagas menulisinya, kini hanya terdiam melihat sang majikan yang sudah asyik tertidur. Air mata tak terasa berkucur deras keluar, Sang kertas tak mampu membendungnya, hening terasa benar-benar memilukan dan mencibir dirinya. Entah ini sudah menjadi malam keberapa bagi Sang kertas untuk meratap, bersedih, dan hanya bisa mengingat sejuta kenangan bersama sang majikan. Dulu sekali tak ada sedetik pun ia dan sang majikan berpisah, dunia terasa milik berdua. Masih sangat jelas diingatan sang kertas dimana saat majikan mendapatkan ide-ide segar untuk dituangkan maka sang majikan dengan cekatannya mengambil secarik kertas yang akan ditulisinya kalimat perkalimat hingga akhirnya membentuk cerita pendek yang kemudian akan sang majikan kirimkan ke agen koran/tabloid untuk di muat. Walaupun cerita-cerita pendek yang dikirim sang majikan tak pernah dimuat di koran ataupun tabloid sang majikan tetap senang, ia tak pernah berputus asa untuk menulis dan menulis lagi. Namun semua itu telah berubah, sang majikan yang biasanya setiap hari menyentuh, memandang dan menulisinya dengan tulisan tangan yang rapi dan teliti bahkan kadang saat sang majikan kehabisan ide maka ia akan memandangi sang kertas dalam-dalam berharap sang inspirasi mau menjatuhkan secercah ide untuk ditulisinya kedalam sang kertas yang setia menemani hari-harinya.  Tak terasa air mata sang kertas mulai habis, sang surya meski malu-malu namun tetap menampakkan dirinya menembus kegelapan yang sudah tampak bosan melihat Sang kertas bersedih. Bagas terlihat masih tertidur pulas. “Bagas ayo bangun! Kamu ga kuliah apa?” suara nyaring itu berusaha menerobos mimpi Bagas untuk segera terbangun. Sayup-sayup mata itupun terbuka, Sang kertas yang tepat berada di atas meja belajar yang berhadapan langsung dengan tempat tidur Bagas sudah sejak tadi tersenyum lebar meski matanya terasa lebam. Bagas pun bergegas beranjak, ia terlihat begitu tergopoh-gopoh karena tahu sang waktu sudah menunjukkan pukul 9:30 pagi. Sang kertas berharap semoga kali ini ada keajaiban baginya agar bisa bersama lagi dengan sang majikan. Bagas sudah terlihat sangat rapi dengan setelan kemeja hitamnya. Ia sudah tidak punya waktu lagi untuk sekadar sarapan ataupun sekadar bincang santai dengan Ibu. Sang kertas yang sejak tadi mengharap agar kali ini menjadi teman Bagas menuju kampus hanya bisa terdiam lesu. Sang kertas tampaknya tahu Bagas ke kamar hanya untuk mengambil laptop bersama tas yang tergantung rapi di samping meja belajar. Bagas pun berlalu. Air mata sang kertas pun tak terbendung, kali ini bahkan lebih deras. Dalam tangisnya Ia hanya berharap di ujung waktu kelak sang teknologi tidak sungguh-sungguh melenyapkan sang Bagas yang dikenalnya dulu. Ia berharap Bagas-Bagas yang lain masih mampu menyediakan waktu untuk mencoretnya dengan tulisan tangan. Ia  tidak sanggup saat membayangkan bagaimana sakitnya ia harus ditulisi dengan tulisan dan tinta printer yang sanggup menggepengkan tubuh dan menusuk-nusuk dirinya bersama jarum-jarum tinta. Sang kertas berhenti berharap, kesetiaannya pada tulisan Bagas kini harus di tarukan pada perkembangan teknologi yang mampu ‘memperkosa’ kebahagiaan yang ia punya bertahun-tahun silam. Paling tidak sang kertas tahu selama ini ia telah berjasa bagi tulisan-tulisan Bagas, tulisan-tulisan yang terlahir dari lubuk hati kemudian ditorehkan melalui tulisan tangan kedalam dirinya. Sang kertas pada akhirnya lebih memilih membahasi dirinya dengan jutaan tetes air mata yang mampu menghacurkan tubuhnya sendiri, harga diri yang dimiliki sang kertas memilihnya untuk mati di antara jutaan air matanya daripada menjadi sebuah kertas yang hanya ditulisi oleh alat cetak yang menyebut dirinya Printer. (Aku mungkin bukanlah barang mewah yang kau miliki, bukan pula barang yang kau bisa pamerkan. Aku hanyalah media konvensional yang mampu menjaring setiap ide-ide yang kau tulis di tubuhku. Aku senang saat kau mengotoriku dengan tulisanmu, tapi tolong tulislah aku dengan tulisan yang berasal dari hati dan tanganmu, bukan tulisan yang berasal dari Printer mu. Aku, Kertas).

Minggu, 15 Juni 2014

AGNES MONICA / AGNEZMO ( Star that a boy used to idolize and Star that a boy abandons )

“Orang ini enerjik sekali ya!” Suara itu sesekali memuji seorang yang dilihatnya di TV sedang asyik bernyanyi dan menari. Bertahun kemudian “wah rambutnya dicat Pink !” puji orang tersebut yang asyik menonton acara HUT salah satu stasiun tv swasta Indonesia melalui Tv sambil sesekali tangannya asyik menyuapi cemilan-cemilan kecil masuk ke mulutnya. Rasa kagum terlihat sekali, beberapa hari berikutnya setelah mengumpulkan cukup uang, ia pun membeli kaset dari penyanyi tersebut. Konon kaset yang baru ia beli merupakan album paling anyar dari penyanyi yang saat itu jadi trade setter karena aksi panggung dan prestasi yang ia raih. Agnes Monica. Melalui album terbarunya Whaduup A mampu membuat seorang anak kecil yang masih duduk di bangku SMP itu terkagum-kagum (jangan bayangkan ia terkagum layaknya anak alay jaman sekarang ketika melihat, menjamah bahkan meraba para anggota JKT 48 ya. Dulu kagumnya ga senorak itu kok). Agnes monica benar-benar mampu menjadi sosok penyanyi yang selalu ditunggunya. Entah itu di tabloid ataupun di Tv. Selang 1 dekade kemudian rasa kagum itu tidak lagi sebesar dan semegah dulu. Wajah dan suara yang selalu ia tunggu-tunggu hadir di Tv kini berkurang seiring perkembangan (mungkin lebih tepatnya penurunan kualitas dan selera) Agnes monica yang makin ke Barat-baratan. Sosok dulu yang masih khas dengan orientalnya kini berubah menjadi sesuatu yang (maaf) absurd. Kulit yang tadi putih benderang kini disulap menjadi cokelat ke ‘ayam bakar tanpa kecap’.
Penampilan dulu (sebenarnya udah absurd juga sih kalau diingat-ingat) menuai decak kagum kini menjadi cemoohan apalagi dunia maya. Suara yang dulu menjadi andalannya, kini berubah. Tidak hanya suara bahkan buah dada dan paha pun menjadi aset yang sayang jika tidak ditampilkan. Ia tau betul idolanya memang sejak dulu memimpikan punya karir Internasional, sayangnya tak terlintas di benaknya sosok itu mau mendandani dirinya menjadi diri orang lain demi karir Internasional yang sampai sekarang entah dimana rimbanya. Anak SMP itu kini telah tumbuh dewasa, pemikirannya pun telah berkembang, sosok yang dulu di idolakannya kini malah mulai di tinggalkannya. Tak ada rasa kagum, haru ataupun senang melihat sosok Agnes di Tv. Hanya rasa Iba yang terlintas karena ketidak percayaan Agnes pada diri sendiri. Bahkan sampai harus merubah nama menjadi Agnezmo segala. Album-album dulu yang ia koleksipun kini dibiarkan terbengkalai dan bersawang. Mungkin hanya dua hal yang bisa ia contoh dari sosok idolanya dulu tersebut, kerja keras dan menghargai proses dalam mencapai sesuatu. Jika ada hal lain yang patut dibanggakan dari Agnes monica yang sekarang, maka ia biarkan hal itu menjadi bahan kekaguman anak-anak jaman sekarang saja. Ia masih punya sosok lain yang bisa menghibur bahkan menginspirasinya. Ia bangga pernah menjadi bagian dari pengagum Agnes monica jaman dulu. 

Sabtu, 14 Juni 2014

Amatir

suara gusar sang amatir itu mulai semakin mengeras, namun tidak ada satupun panca indera yang mampu mendengar kekalutan pikirannya yang dipenuhi dengan  kebohongan, tipu daya, kepalsuan dan juga harapan. Si Amatir masih mengharap ada sebuah keajaiban yang terwujud. Dunia sudah terasa begitu sesak, dunia sudah begitu terasa kotor. Rangkaian sumpah dan ejekan sudah terhampar disegala sisi hidupnya. Syukurnya si Amatir yang cenderung tolol dan asosial ini masih punya sang raja kegelapan yang mampu menghalaunya dari timbunan dosa-dosa yang mengelilingi siangnya tanpa henti. Sang malam sudah dirasa cukup untuk menjadi teman sepi yang mampu menopang kegundahannya, ia terlihat begitu sayu sambil kadang-kadang melihat sekitar yang  terlihat tenang. Do'a pun terpanjat '' Tuhan aku tak tahu harus bersyukur atau bermurka terhadap semua yang ku rasa ini. Bagaimanapun beratnya beban hidup ini aku berharap Engkau selalu ada disisiku. Engkau selalu rela menghabiskan waktu Mu untuk mendengarkan curahan isi hatiku. Engkau masih cukup persediaan air mata yang kau aliri ke darahku untuk menemani sedihku saat nanti. " sambil gemetar karena udara malam yang terlalu bengis menembus tulang, ia melajutkan sebait Doa lagi "....setelah apa yang kurasa semua ini, jangan biarkan aku menjadi bagian sekuler dari orang-orang yang menyebut diri mereka Hamba Mu..."

Rabu, 11 Juni 2014

Badan bukanlah Matematika

     Ada-ada saja gerangan teman-teman wanita saya yang menggilai pria dengan tubuh yang kekar dan tegap. Menurut mereka cowok dengan lengan yang besar (tentunya besar karena ditopang otot bisep dan trisep ya bukan lemak gheheh), dada yang bidang serta perut yang sixpack adalah sebuah surga dunia yang tidak bisa di kufuri adanya. Masih menurut mereka cowok dengan badan yang berotot itu kelihatan lebih bisa melindungi (melindungi dari apa coba? Serangan tentara agresi militer?) dan bangga kalau di gandengan kemana-mana (hello,itu cowok bukan tas Hermes keles). Mendengar semua totok petok itu saya malah jadi berpikir “mungkinkah ini sebuah karma atas apa yang selama ini dilakukan para pria terhadap wanita?”. Iya anda para pria mengaku sajalah kalau anda lebih attached dan tertarik dengan wanita yang memiliki tubuh aduhai ala Victoria Beckham atau semisal super model Nadia Hutagalung bukan? Mereka dengan susah payahnya berusaha memiliki tubuh indah seperti yang anda idam-idamkan, jangan sebut nasi putih, nasi merah ataupun nasi cokelat. Mereka tidak se-omnivora itu untuk bisa memiliki tubuh yang ramping dan seksi, akan tetapi buah dan sayur serta beberapa asupan protein nabati lah yang menjadi sumber panganan mereka sehari-hari. Wah betapa menyiksanya hidup mereka dengan beban  pekerjaan di kantor yang pasti menyita waktu dan kalori tubuh namun mereka juga harus tetap menjaga asupan makan mereka guna mengkontrol kalori yang masuk, memang benar kata orang Beauty is Pain! Terkutuklah para pria-pria dan ayam-ayamnya. Namun semua itu seakan berbalas, kaum adam yang tadinya tidak pernah mendapat paksaan (minimal sindiran) untuk memiliki tubuh yang kekar kini mereka harus repot-repot pergi ke fitness center guna melakukan olahraga angkat beban.

     Biaya tambahanpun sudah menunggu mereka, paling tidak dalam sebulan mereka harus merogoh kocek yang cukup mahal untuk membayar iuran bulanan member serta konsumsi susu whey guna membantu pertumbuhan massa otot tubuh. Hal inilah yang saya alami sejak dua tahun silam, tepatnya di pertengahan tahun 2012. Awalnya hari-hari saya begitu menyiksa, bayangkan saja (saat itu saya masih duduk di bangku kuliah) setelah pulang kuliah saya yang biasanya kumpul bersama teman-teman atau pulang kerumah dan tidur siang kini harus repot-repot pergi ketempat fitness yang jaraknya ribuan langkah dari rumah saya, latihan yang saya lakukan pun lumayan intens  sekitar 4 sampai 5 kali seminggu. Semua saya lakukan demi memiliki tubuh yang berotot. Belum-belum lagi Trainer saya yang bawelnya minta ditonjok ini selalu mengingatkan saya tentang pola makan yang baik, menurutnya untuk membangun atau meningkatkan massa otot asupan protein menjadi hal yang paling krusial dikonsumsi, mengingat fungsi protein sebagai ‘makanan’ bagi otot setelah berlatih. Apabila jumlah protein yang dikonsumsi sehari kurang atau tidak mencukupi dengan indeks berat badan maka tubuh akan ‘memecah’ massa otot tersebut sehingga otot yang dilatihpun akan sia-sia saja. Hakikatnya protein yang dibutuhkan dalam pembentukan otot adalah 1 – 1 ½ gram per-kg berat badan. Pola latihan pun harus tepat misalnya pola latihan yang sering dilakukan yaitu hari Senin latihan dada,bahu,Triceps dan Abs (perut), Selasa istirahat, Rabu latihan punggung, kaki, Biceps dan Abs,hari  Kamis istirahat, lalu Jumat latihan dada, bahu, triceps dan Abs dan hari Sabtu latihan Punggung, Kaki, dan Biceps, sedangkan hari Minggu tempat fitness nya tutup (yakali hari Minggu masih teteuup fitness). Nah itu kalau ngomongi soal jadwal latihan terus kalo ngomongi soal gizi serta porsi makanan untuk saya konsumsi sehari-hari udah beda. Sang Trainer menyuruh (tepatnya memaksa) saya hanya mengkonsumsi 4-5 putih telur ditemani secangkir orange jus (ga usah ditambahi gula ya orange jus nya) sebagai sarapan pagi, bila terasa lapar setelah sarapan pagi cukup konsumsi sepotong buah apel. Biasanya dulu sebelum nge-gym saat sarapan saya bisa menghabiskan sepiring nasi goreng bulat-bulat beserta lauk pauknya, mulai dari ayam goreng dan kerupuk udang, atau sepiring nasi uduk ditemani dayang-dayangnya mulai dari telur orak-arik, suwiran dada ayam, sambal tumis dan timun istilahnya nikmat sarapan pagi mana lagi yang kamu ingkari. sedangkan untuk makan siangnya menu seperti biasa hanya saja jumlah protein nabati dan hewani yang ditambah juga proses memasaknya yang tidak boleh digoreng, jumlah nasi berkurang drastis serta konsumsi garam dan gula yang di pangkas ke akar-akarnya, awalnya saya merasa “kok menu makan saya kayak orang susah ya?”, menu makan malam tidak usah ditanya terkadang saya hanya mengkonsumsi sayur tumis dan buah-buahan. Selama lebih kurang satu tahunan saya menjalani pola hidup seperti ini, es krim yang jadi kegemaran di sabtu dan minggu sore lenyap, belum-belum lagi saat kumpul dengan teman-teman, saat mereka semua sibuk dengan menu makan siang  mulai dari soto betawi, rawon, pindang ikan patin sedang saya hanya bergelut dengan menu yang itu-itu saja no fries no tumis-tumis. Pada saat pertengahan 2013 saya melakukan evaluasi terhadap pola tersebut, pola itu tidak berjalan dengan baik di tubuh saya. Tubuh saya malah terlihat terlalu tebal (padahal muka saya imut-imut) dan sangat bulky. Konsumsi susu Whey pun tidak sejalan dengan pencernaan, tampaknya saya termasuk dari orang-orang yang sensitif terhadap diary product.Akhirnya setelah menimbang dan merenung seharian dengan lapang dada saya menghentikan pola hidup seperti itu, tidak ada lagi pola gym seperti di atas, tidak ada lagi menu-menu diet atau sehat, mungkin bagi Trainer saya pola seperti itu tidak akan membuat badan mengalami over trained  tapi siapa yang tahu perkara badan orang lain, what works to him doesn’t work properly to anybody else’s body then what works to anybody else’s body can’t work well to my Trainer’s body. Tuhan telah menciptakan badan manusia dengan keunikan, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tubuh kita bukanlah Matematika yang menakar ini, menghitung itu. Tubuh hanya butuh kamu makan sehat dan olahraga teratur. Benar jika untuk meningkatkan massa otot harus latihan beban dan meningkatkan mengkonsumsi protein perhari tetapi semua itu kembali lagi pada cara kerja tubuh dan rutinitas kita. Kenapa rutinitas kita juga? Iya dong, kamu tidak hanya nge-gym saja bukan? Ada hal-hal lain dan kegiatan lain yang kamu lakukan di luar nge-gym. Dengan menu diet/sehat seperti yang saya jalani mungkin banyak orang yang sejalan dengan itu dan merasakan manfaatnya tetapi tidak sedikit juga mereka yang merasa cepet lemas, dan bahkan tidak bergairah akibat suplai kalori yang berkurang, hal ini jika dibiarkan bukan tidak mungkin akan berpengaruh pada sistem daya tahan tubuh. Sekarang saya tetap nge-gym dan ditambah dengan jogging di sore hari. Menu seperti bakso, siomay ataupun es krim yang jadi kegemaran disaat weekend dulu kini bisa dinikmati kembali. Olahraga tetap menjadi sesuatu yang menyenangkan dan mengasikkan. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi menghitung-hitung jumlah protein yang masuk ataupun menghitung jumlah kalori yang telah terbakar, karena saya percaya Badan bukanlah Matematika.

Senin, 09 Juni 2014

Menyemplung di dunia baru (Menjadi Tour Guide Part I)

Menjadi seorang tour guide atau lebih dikenal pemandu wisata kelihatannya sangat mengasikkan. Iya jadi ceritanya saya punya teman yang bekerja sebagai pemandu wisata. Awalnya tugas ini digelutinya sebagai hobi saja. Namun lama-kelamaan saya melihat ada keasyikan tersendiri yang dirasakan teman saya, mulai dari liburan gratis dapet duit pula, bisa dapat teman dan relasi baru serta bisa menambah pengalaman pastinya. Wah mengasyikan sekali bukan. Andai saja aku bisa jadi pemandu wisata seperti temanku. Selang beberapa bulan kemudian sayapun di tawari oleh teman untuk menggantikan dirinya memandu wisata di daerah saya, tugas yang mungkin terlalu banyak namun waktu yang terbatas membuat teman saya tidak bisa menghandle semua pekerjaan tersebut. Malam harinya sayapun di berikan arahan tentang bagaimana menjadi pemandu wisata yang baik, bagaikan sedang makan sup sayur di dalam mobil yang melewati jalan penuh lubang (lubang jalan ya bukan lubang hutang) ilmu yang disampaikan teman saya pun hanya lewat saja, atau yaah minimal benar-benar sedikit yang nyangkut di otak. Bayangkan saja sudah memberikan penjelasan via telpon dan (sepertinya) teman saya menjelaskan dalam keadaan terburu-buru pula, belum-belum lagi kapasitas otak saya yang tidak lebih besar dari sebuah disket. Saya pun tidak menyerah begitu saja selang teman saya menelpon, saya pun langsung membuka buku panduan tentang sejarah-sejarah kota saya, Palembang. Mulai dari tempat bersejarah, tempat pemakaman para leluhur dan juga (ini tidak boleh terlewatkan sama sekali) kuliner khas Palembang yaitu rawon kikil, lho sudah berubah ya? Oh masih Empek-empek rupanya. Pagi-pagi sekali barangkali ayampun masih tertidur pulas dengan mimpi basahnya, teman saya menguhubungi saya kembali guna memastikan kalau saya masih hidup dan siap menjalankan tugas dengan baik. Tepat pukul 6 pagi saya harus segera tiba di hotel Sriwijaya Palembang, yang jaraknya sekitar 35 menitan dari rumah saya (itu kalau ga macet lho. Aduuh segitu pentingnya info ini). Bagus tepat setengah tujuh lewat pancoran saya sampai dengan selamat di hotel tempat turis domestik ini menginap. Saya pun langsung menghubungi team leader mereka. Setelah berkenalan dan bercuap-cuap ala kadarnya mas Beni yang menjadi leader saya memberikan informasi kalau tamu kali ini berasal dari dinas kebersihan kota Banten, Tangerang. Mendengar kata Banten saya jadi ingat si koruptor yang tingkat malunya tidak tahu diri itu, tamu inipun (turis ini saya sebutnya tamu saja ya biar ga ribet) berjumlah 15 orang. Mereka melakukan kunjungan ke Palembang sebenarnya selama tiga hari namun dikarenakan hari kamis mereka masih mengikuti sidang apel maka keberangkatan mereka ke Palembang di tunda dan dikurang menjadi 2 hari saja. Tepat pukul setengah delapan tamu-tamu pun sedang menikmati sarapannya, saya yang tadinya sudah sarapan dari rumah juga ikut sarapan lagi (yaampun itu perut apa celengan semar), tamu-tamu inipun sangat ramah sekali, saya tidak melihat wajah-wajah songong ataupun sombong dari paras mereka, padahal mereka semua sudah PNS dengan golongan yang tinggi. Setelah sarapan kamipun beranjak kedalam bus, leader saya mengomandoi dan memastikan kalau mereka semua yang berjumlah 15 ekor eh orang sudah berada dalam bus, setelah lagi dirasa cukup leader saya pun memberikan aba-aba untuk segera membuka presentasi perjalanan. Rasa gugup benar-benar mendera saya saat itu, saking nervous-nya saya rasanya ingin pura-pura pingsan dan segera di pulangkan kerumah, namun dengan kegigihan hati dan tekad untuk menambah pengalaman dan tentunya mencari uang sendiri saya pun dengan (mencoba) santai menyapa mereka “ selamat pagi bapak-bapak, Ibu-ibu! “ (Gubraaak, loe pikir ini acara sunatan di kampung! Ga ada yang lebih garing apa?). setelah memastikan mereka benar-benar attached dengan kehadiran saya, saya pun mulai menjelaskan sejarah kota Palembang secara singkat sambil kadang-kadang saya selipkan bahasa-bahasa Sunda guna untuk mengakrabkan diri, namun disaat itu juga sebagian dari mereka malah berkata “Mas,asli Sunda ya?” “Bukan Pak, kenapa emang?” “kok Sunda nya tok-tok banget” kami semua di bus pun tertawa dan sialnya si supir bus kami yang memang jarak duduknya dengan saya berdekatan memberikan celetukan “makanya mas, pakai bahasa Palembang saja terus panggil mereka jangan buk/pak, tetapi panggil mangcek (untuk pria) dan bicek (untuk wanita) sajalah!” saya merasa bersalah dan kelihatan kurang kompeten dimata tamu ini, padahal saya pikir si supir ini kan bisa bisik-bisik saja ngomong masalah tadi. But yeaah The show must go on setelah menempuh perjalanan lebih kurang 1 jam setengah kamipun sampai di dinas kebersihan kota Palembang, rupanya jadwal kunjungan pertama mereka adalah semacam raker. 


Setelah menunggu berjam-jam acarapun dilanjutkan solat Jum’at, baru saja diri ini ingin bersandar pada tiang di masjid salah satu tamu saya kehilangan dompet, dia pun kelihatan kebingungan tapi juga menyakini kalau dompetnya tertinggal di tempat raker tadi, saya pikir mana mungkin kembali lagi ke dinas kebersihan menggunakan bus, mana jarak mesjid dan kantor dinas itu lumayan jauh namun apa boleh buat sebagai pemandu wisata saya harus bertanggung jawab dengan pekerjaan saya, untung saja taksi yang ditunggu datang, kamipun langsung meluncur ke TKP. Entah apa yang membuat supir taksi ini begitu lelet mengedarai delmannya eh mobilnya saya pun memintanya untuk mempercepat laju singkat cerita dompet yang hilang pun ketemu, wajah sumringah terpancar jelas dari tamu saya yang kehilangan dompet, ah leganya bisa membantu sesama, waktu telah menunjukkan pukul 12 lewat saya sudah pesimis akan tertinggal solat Jum’at namun niat baik memang berbuah manis, tepat saat komad solat berkumandang kamipun tiba di masjid sebelumnya, taksi ini benar-benar handal, untung saja solat Jum’at saat itu tidak terlewatkan. Alhamdulillah ... Matahari sudah terlihat pas di atas kepala kami hari terasa begitu panas, jam menunjukkan tepat pukul satu siang perut kamipun sudah mulai keroncongan, saya bersama rombonganpun bergegas menuju tempat makan yang telah di booked  sebelumnya. Asal tau saja ya, proses pemesanan tempat makan ini (tentunya beserta makannya ya) tidak semudah memesan semangkung soto dipinggir jalan/secangkir es dawet. Owner restoran yang kurang cekatan saat melayani via telpon ditambah lagi leader kami yang tidak cepat memberikan keputusan soal makanan mana yang akan dipesanpun membuat makan siang ini terasa lama, leader kami tidak hanya bertugas mengatur menu, dia juga bertugas memikirkan budget yang akan di keluarkan, bisa tekor kalau makanan yang dipesan tidak sesuai dengan budget yang ada di dompet. Menu makan siang kami tidak jauh dari menu khas Palembang, bukan pempek ya (masa iya perut lagi ‘kosong’ dibiarkan makan pempek dan cuka yang pedasnya tingkat paripurna itu. Oh ya, umumnya rasa cuka pempek di Palembang ini jauh lebih pedas daripada cuka pempek yang di jual di kota-kota lain) melainkan pindang ikan patin beserta lalap-lalapannya. Para tamupun terlihat senang sekali menyantap menu tersebut bahkan di antara mereka ada yang nambah. Saya bersama leader dan supir bus pun makan di meja yang lain, disana leader yang umurnya jauh lebih dewasa dari saya memberikan pengalaman dan nasehat tentang susahnya menjadi seorang leader. Dia bilang bahwa makanan yang dipesan ini harganya pasti udah keluar dari budget belum-belum lagi setengah orang dari rombongan rata-rata minta tambah makanan dan minuman. Namun leader kami harus tetap profesional, dia harus menunjukkan sikap yang loyal biarpun rugi sedikit tidak mengapa asal nama agen travel miliknya tetap bagus di mata para konsumen. (Hmm... mungkin bukan rugi ya melainkan keuntungan berkurang). Selepas makan siang inipun kami langsung beranjak menuju Al-Quran terbesar di Asia. Konon katanya Al-Quran yang akan kami kunjungi ini sudah tersohor hingga ke lebih dari 50 negara seluruh dunia lho (wow, Go internasional dong?!) jarak tempuh yang dibutuhkan dari restoran menuju destinasi Al-Quran terbesar itupun sekitar 1 jam lebih hal ini dikarenakan lokasinya yang bisa dibilang terpencil. (kok bisa tempat wisata rohani seperti ini bisa begitu terpencil dari pusat kota,entahlah. Mungkin biar khusuk kali ya). Sembari melakukan perjalanan saya pun mulai mengoceh lagi tentang segala heritage yang ada di Palembang, mulai dari rumah adat, pakaian adat sampai dengan ritual-ritual upacara khas yang ada di kota Palembang. Dengan sangat terasa akhirnya kamipun tiba di Al-Quran terbesar ini, pemandangan yang kami lihat mampu menghapus semua rasa penat dan bosan kami saat di bus. Saya dan rombongan pun tidak melewatkan kesempatan ini untuk sekadar berfoto-foto.
   Desain Al-Quran terbesar ini unik sekali, perpaduan ukiran kuningan khas Palembang ditambah pilar-pilar besar berwarna merah khas Cina sebagai penyanggah kemudian adanya kolam ikan hias tepat di depan Al-Quran dan tanaman-tanaman hias yang hijau nan lebat membuat pemandangan ini begitu sayang bila di tinggalkan, sayang hari sudah beranjak sore kamipun harus segera enyah dari sini dan menuju ke destinasi berikutnya. Perjalanan dilanjutkan menuju lapangan sepak bola Gelora Sriwijaya Jakabaring yang juga pernah dijadikan tempat opening, pertandingan sepak bola dan closing dari Sea Games ke 26th dan juga ISG ke 3rd, lokasinya lumayan jauh, bahkan perkiraan saya akan memakan waktu sampai 2 jam lebih karena mengingat hari sudah pukul setengah lima sore itu artinya para karyawan sudah pada bubar dari kantor dan tumpah ruah di jalan, sesekali kami pun berkelakar ringan, tidak ada bahasan-bahasan lain yang bisa saya sampaikan, rasanya semua bahan cerita sejarah Palembang sudah saya khatamkan. Akhirnya untuk sekadar membunuh waktu kamipun berkaroke ria, dangdut adalah pilihan utama dari para tamu-tamu ini. Sesampainya di lapangan sepak bola Jakabaring mereka semua hanya sibuk berfoto-foto saja, mungkin dipikirnya kapan lagi sih bisa foto di lapangan sepak bola yang menjadi tempat pertandingan Sea games ini. Berfoto, tertawa dan bahkan salah satu dari mereka ada yang berkejar-kejaran karena ada beberapa bapak-bapak  yang suka jahil dengan ibu-ibu, sungguh lucu tingkah mereka, mereka seperti tidak berusia 40 atau 50 tahun, senang juga melihat pemandangan tersebut, senang karena mereka bisa merasa ‘lepas’ dari beban pekerjaan yang mungkin hampir setiap hari mendera mereka.




   Sebentar lagi matahari akan segera tenggelam, kami harus segera sampai ke destinasi berikutnya yaitu Benteng Kuto Besak (BKB) yang jarak tempuhnya sekitar 30 menitan. Kalian para pembaca mungkin bertanya apa sih BKB, BKB adalah keraton pusat Kesultanan Palembang Darussalam, sebagai pusat kekuasaan tradisional yang mengalami proses perubahan dari zaman madya menuju zaman baru di abad ke-19. Pengertian Kuto di sini berasal dari kata Sanskerta, yang berarti: Kota, puri, benteng. Dewasa ini BKB dijadikan tempat wisata rekreasi bahkan lokasi BKB yang di aliri oleh sungai musi menjadikan tempat ini juga sebagai wisata air, ditambah lagi jaraknya yang pas menghadap ke jempatan Ampera membuat pemandangan yang ditawarkan semakin indah, apalagi saat sore dan menjelang malam, sekadar menikmati pemandangan matahari yang tenggelam (sunset) ataupun sekadar duduk santai ngobrol bersama teman-teman. Selain itu di BKB ini juga banyak sekali ditemukan pedagang kali lima yang menjajakan makanan khas Palembang seperti empek-empek, kelempang ikan, dan yang paling terkenal disini adalah mie tek-tek nya (jangan salah baca ya hihih). Para tamu saya pun tidak melewatkan kesempatan ini, berfoto adalah agenda wajib (sepertinya) yang mereka lakukan, saya dan leader saya (si supir syukur deh ga ikutan nimbrung!) hanya memandangi mereka sembari tersenyum. Saya sempat bertanya dengan leader saya “bagaimana mas kinerja saya hari ini?” sambil tersenyum “bagus..” “beneran bagus?” dia tersenyum lagi “kamu bagus kok sebagai pemula. Kamu hanya kurang bisa memberikan gambaran yang ‘wah’ tentang sesuatu sejarah yang kamu jelaskan, tapi sudahlah, pengalaman akan banyak mengajarimu. Butuh kebesaran hati yang luar biasa untuk menerima kritik dan belajar kembali. Kamu memiliki jiwa yang besar Wan, karena memang kamu maunya di kritik”. Haripun sudah malam tugas saya hampir selesai di hari pertama ini, sebelum pulang ke hotel kami pun makan malam.  Banyak hal-hal menarik yang aku dapatkan dari pengalaman hari ini dan tentunya dari leader ku. Setelah makan kamipun kembali ke hotel, saat di jalan menuju hotel saya sempat menawarkan para tamu yang ingin memesan empek-empek sebagai buah tangan. Hari sudah pukul 10 malam, para tamu sudah kembali kekamar masing-masing sedang saya pulang ke rumah, namun sebelumnya saya masih harus mengantarkan catatan pesanan empek-empek ini ke pusat oleh-oleh di kota kami, agar besok tidak payah menunggu. Tuntas sudah tugasku di hari pertama ini, masih ada satu hari lagi. Hmm.. rasanya aku ingin lekas bertemu besok melihat sang mentari bersinar kembali dan melihat senyum manis dari para tamu-tamuku itu. Kira-kira pelajaran apa lagi ya yang akan aku alami besok? (bersambung)

Minggu, 08 Juni 2014

Kesempatan di ISG 2013

Bergaul dengan bule bukan hal yang baru buat saya (weeeks, gaya banget ! Biarin!).  Sejak saya duduk di bangku kuliah semester pertama saya sudah menjadi salah satu siswa di tempat kursus bahasa inggris yang guru-gurunya kebanyakan bule. Mereka kebanyakan datang dari Australia. Yaaah, bule-bule Australia ini awalnya membuat saya amazed sekali tapi kikuk juga, apalagi saat mendengar mereka berbicara. Aksen Inggris mereka terkadang membuat saya salah kamprah. Setelah dari tempat kursus itu saya pun berlabu ketempat kursus yang lain, yang lagi-lagi bule-bule semua yang jadi coach-nya. Tapi kali ini saya merasa lebih beruntung karena mereka semua berasal dari Amerika Serikat ( yess Go Internasional dong kayak Agnez mo? LOL) setiap percakapan yang terjadi begitu mengalir bagaikan riak-riak air disungai dikelilingi rimbunan pohon-pohon pinus yang lebat. Mulai dari membahas berapa harga sewa apartement di Amerika pertahun sampai tanya-tanya harga cabai di swalayan Amerika. Baiklah itu semua hanya sedikit appetizer, maaf kalau kepanjangan toh pak SBY aja kalau celoteh suka kepanjangan toh?. Tepat bulan September 2013 diadakan kejuaraan atau mungkin pertadingan persahabatan antar negara Islam lebih tepatnya di kota saya, Palembang. Yah kalau kalian pernah mendengar Islamic Solidarity Games (ISG) maka itulah pertandingan yang saya maksudkan. Awalnya terlintas dibenak saya akan banyak sekali bule-bule asing selama sepekan di sini, walaupun mungkin sih sebagian dari mereka juga memiliki kemampuan bahasa inggris payah tapi why not, why can I judge them without know them well? Sempat juga terlintas di benak saya andai dinas budaya Palembang ini menghubungiku dan memintaku untuk menjadi bagian kepanitiaan acara ini, masa iya saya yang salah satu duta kebudayaan Palembang malah tidak mengajak saya sama sekali, terpujilah mereka! Waktu terus merangkak menuju hari H, harapan itu kini kian pupus, “good bye bule, good bye ISG...” seraya melambaikan tangan ke poster ISG 2013 di jalanan yang besarnya mengalahkan tembok raksasa Cina, yaampun segitu snobbish nya saya dengan bule, aslinya enggak kok, beneran! . Tiba-tiba di sore hari yang panasnya minta lagi telpon genggam saya berdering, dan tebak ternyata pihak dinas budaya menghubungi saya, salah satu karyawan di sana meminta saya untuk menjadi Lianson Official  (LO) mereka pada saat gala opening dinner ISG 2013 yang tepat jatuh satu hari sebelum opening pertandingan ISG tersebut. Rasa bahagia tak terbendung lagi, mimpi untuk bisa menjadi bagian dari acara yang mungkin saja baru 5-10 tahun digelar lagi di Indonesia khususnya Palembang menjadi tuan rumah akhirnya terwujud. Semua data diri sampai harga diri dipersiapkan guna memenuhi syarat-syarat yang saya juga tidak mengerti untuk apa gerangan. Beberapa teman-teman saya yang tergabung di Duta budaya Palembang pun di ajak bertugas, dan juga ada teman-teman Bujang Gadis Palembang (kalau di Jakarta semisal Abang dan None) pun ikut nyempung (nyemplung? Berenang maksud loe?).Tepat pada saat hari H kami bertugas, lebih kurang 5 jam sebelumnya kami sudah di briefing tentang rundown acara. Acara gala Opening Dinner ISG 2013 pun dimulai, suasana di dalam gedung membuat saya gugup dan juga kelaparan, benar! Saya kelaparan lho. Bayangkan saja itu acara dinner yang dipenuhi dengan makanan-makanan mulai dari makanan khas Palembang sampai makanan-makanan yang aku sendiri tidak tahu namanya. Saat itu tepat jam 6 malam, gedung masih terlihat dan terasa sepi, mungkin bule-bule ataupun para Duta besar dari masing-masing negara masih siap-siap atau mungkin mereka masih mandi susu. Who knows kan?. Setelah berjam-jam menunggu para bule-bule pun terlihat, mulai dari Turkey, Iran sampai Arab Saudi. Aksen bahasa inggris mereka lucu-lucu sekali, mungkin hal ini dikarenakan bahasa ibu mereka yang bukan bahasa Inggris, but that’s not matter, at least I can make friends with all of them. Tidak hanya aksen dan ekspresi mereka saat berbicara bahasa Inggris yang lucu, tingkah mereka pun bisa di bilang konyol dan mungkin uhuuk tidak sopan. Misalnya salah satu bule (tidak perlu saya sebutkan nama negara asalnya ya) mencoba berkenalan dengan mengedipkan mata dan hal-hal lain yang agak tidak sopan yang juga rupanya dialami teman-temanku yang lain. Sebenarnya kalau bule/atlit yang mengedikpakan mata adalah perempuan sih oke, tapi ini pria lho, saya sempet mikir ini bule-bule mau jadi ekspatriat apa mau jadi jablay ya di Indonesia? Lupakan karena bule-bule lain jauh lebih sopan dan friendly. Sebagai bagian dari acara Dinner saat itu saya dan teman di tugaskan berdiri di dekat pintu masuk guna mengantarkan mereka menuju meja makan sesuai negara masing-masing. Tepat pukul setengah delapan malam, acara pun dibuka dengan penampilan artis ibu kota yang entah saya pun tidak tahu namanya, saya pun akhirnya lebih memilih bertugas menyambut para duta besar. Tidak ada alasan spesifik sih sampai akhirnya saya lebih memilih menyambut dan mempersilahkan para Duta besar tersebut tetapi hanya lebih ke bahasa Inggris saja, para Dubes ini rata-rata lancar sekali berbahasa inggris mungkin hal ini dikarenakan tugas mereka sebagai duta yang sering bertemu dengan duta negara lain yang kebetulan memakai bahasa Inggris sebagai bahasa resmi mereka. Acara sungguh meriah para atlet-atlet yang berasal dari negara-negara arab sekitar 44 negara memenuhi gedung itu, bisa di bayangkan betapa ramai nya acara tersebut, saking ramai nya hasrat ingin mencoba bahasa inggris saya pun lenyap entah kemana, saya mungkin terlalu menikmati pekerjaan saya makanya setelah mempersilahkan para Dubes ataupun Atlet makan di mejanya saya langsung tinggal kan pergi tanpa ada pertanyaan “ how do you feel in Palembang? Is Palembang one of your favorite city to visit ?” (masa iya ikut nimbrung, situ siapa?!. Ujar Lastmini). Waktupun sudah menyentuh pukul 9 malam, dan kalau saya ingat-ingat negara Malaysia yang paling terlambat datang saat itu, entah apa alasan mereka, ketika para atlet-atlet dari negara-negara lain sudah menyantap jamuannya diiringi lantunan musik yang merdu mereka berbondong-bondong datang dan malah sibuk mengajak foto bersama, hal ini mungkin mereka tertarik dengan pakaian yang kami kenakan, yaitu pakaian khas Palembang. Tepat pukul sepuluh malam acarapun berakhir, para Dubes dan Atlet-atlet pun meninggalkan gedung dan segera kembali ke mess dan hotel masing-masing.  Kami para panitia pun pulang, seperti bebek yang dikeluarkan dari kandang kami pun berpencar menuju induk masing-masing, eh maksudnya kendaraan masing-masing. Di tengah perjalanan saya bisa tersenyum lega, bukan karena kemacetan tingkat kelurahan yang saya rasakan akan tetapi mendapatkan kesempatan yang mungkin tidak semua orang bisa dapatkan, dan hal paling penting adalah sejak saat itu saya tidak lagi bersikap snobbish terhadap bule. Meski memang bule-bule yang saya temui tadi tidak berasal dari negara yang memakai bahasa inggris sebagai bahasa ibu, mereka tetaplah bule bukan?! Hahaha saya hanya senang melihat bule sebagai English language attracted (istilah ini saya buat sendiri karena memang binggung menjelaskannya bagaimana) selebihnya mereka sama saja, yang jelas sebagai orang Indonesia yang melihat bule-bule yang tidak bisa berbahasa Inggris lancar apalagi bahasa Indonesia kita harus tetap respek dan kalau bisa membantunya, bukan karena mereka seorang bule tetapi karena mereka juga manusia, sebagai manusia kita wajib saling tolong menolong.

Jumat, 06 Juni 2014

melatih Mental


Siapapun orang tua yang sudah memiliki anak pasti yang menjadi prioritas utama mereka adalah sekolah/pendidikan anak. Yap, semua yang terbaik dipersiapkan demi laju tumbuh perkembangan si anak. Awalnya (mungkin sih) tidak jelas apa tujuan si orang tua ini khususnya ibu-ibu menyekolahkan si anak ke sekolah A dan ke sekolah B. Mereka hanya mengikuti peraturan dan tren yang sudah ada di Indonesia. Misalnya sekolah yang berlabel kurikulum based International otomatis langsung menjadi incaran para orang tua guna menyekolahkan anaknya, biaya yang relatif mahal pun dinomor duakan dan si anak yang masih ingusan dan bau kencur itupun hanya manut-manut wae dengan segala keputusan orang tuanya. Waktu silih berganti, setelah lebih kurang 6 tahun mengenyam bangku SD si anak pun ( lagi-lagi ) diarahkan oleh orang tua nya untuk melanjutkan sekolah tingat menengah pertama (SMP) ke sekolah pilihan mereka ( orang tua ) hal inipun berlanjut ke tingkat sekolah menengah atas (SMA). Lha, siapa toh yang mau sekolah? Siapa toh yang mau pinter? Saya memang belum berumah tangga apalagi punya anak, tapi sebagai orang tua mestinya mengerti benar dengan kebutuhan dan minat si anak. Orang tua cenderung hanya menatap kalau tidak dengan senyum/cemberut dengan hasil ulangan pelajaran matematika, fisika, kimia, aljabar (eh aljabar udah ada kan di sekolah-sekolah?) si anak. Mereka tau nya hanya dengan hasil (cieeeilah curhat deh gue!) misal jika nilai matematika si anak 100 dengan senyum yang bagaikan malaikat tak bersayap pun terpampang nyata, jika hasilnya malah 30 wajah yang tadinya berona ayu berubah menjadi raja demond seperti salah satu tokoh jahat di film petualangan Doraemon-Nobita di dalam mimpi. Tau sih orang tua mau yang terbaik buat anaknya, tapi pernahkan orang tua berpikir kehidupan si anak selanjutnya selain dari nilai matematika atau pelajaran yang paling bikin vertigo mendadak semacam kimia/fisika? . Bagi saya pembelajaran itu tidak hanya mengenai nilai matematika, fisika, atau kimia tapi juga perkembangan si anak secara MENTAL. Masih menurut saya yang harus dirubah saat si anak mendapat nilai matematika 30 atau mungkin lebih parah yaitu 0 adalah motivasi untuk mendapat nilai yang bagus dan untuk apa dia harus mendapat nilai yang bagus. Si anak hendaknya dibimbing untuk memiliki jiwa kompetisi yang kuat, tidak mau mengalah (mengalah pada kemalasan, kelelahan, dan main PS yaaa)  si anak pasti akan terpacu untuk belajar lebih giat jika hasil / nilai yang keluar tidak seperti yang diharapkan. Mengubah perilaku belajar hanya akan sia-sia dan paling hanya bertahan sebatas 1-2 minggu kedepan, setelah nya mereka akan kembali malas dan bahkan mungkin hanya berniat membuat contekan saja. Jika dari dini si anak sudah dibimbing untuk memiliki mental pemenang, mental seorang atlit, maka hal ini akan menjadi sebuah pondasi yang kuat untuk kehidupan si anak di masa yang akan datang, apalagi melihat persaingan SDM sekarang saja sudah sangat advance, perusahaan tidak terlalu peduli lagi dengan nilai matematika, fisika, atau kimia yang kamu dapatkan semasa sekolah. Skill dan mental tidak mudah menyerah yang menjadi prioritas dari perusahaan untuk merekrut SDM yang bekerja ditempatnya. Maka dari itu Mengubah mental si anak sejak kecil sangat penting dilakukan daripada menyuruhnya belajar karena nilai matematika yang kampreet. Tambahan jika si anak yang serta merta dipaksa belajar, dipaksa menghafal dan lain-lain saat mendapatkan nilai ulangan yang jelek, namun pada saat si anak sudah berhasil mendapatkan nilai yang diidam-idamkan orang tuanya semua usaha itupun akan terhenti, mind set si anak hanya terfokus pada angka 80/90/100, setelah dari itu???? Hal ini berbeda jika mental si anak sudah terpondasi untuk selalu melakukan yang terbaik.  Apapun keadaanya, apapun masalahnya, dan dimanapun mereka kelak berada mental inilah yang akan menjadi motor bagi perjalanan mereka, mereka tidak akan mudah goyah dan rapuh saat mereka berada di bawah dan mereka tidak terlampau jumawa saat mereka berada di atas.
vv

Rabu, 04 Juni 2014

Ritual baru dengan si Gandum

Makan itu kegiatan yang menyenangkan ya ? iya ! ( yang jawab iya pasti anak pinter. weeek! ). Mulai dari makanan manis, asin, asam, sampe makanan dengan rasa bubur bayi pun dibilang enak. kegiatan makan pun sudah bukan sesuatu yang dapat dikontrol lagi, idealnya makan kan tiga kali sehari (Pagi,Siang,Malam) namun beberapa orang yang memiliki kebiasaan makan ini bisa makan lebih dari 3 kali bahkan jumlahnya bisa sama dengan jumlah tangisan anak bayi yang kehabisan susu. Nah lho ga keitung dong?!. Saya pernah mengalami hal itu, kebiasaan berkumpul bersama teman-teman saya yang juga punya hobi yang sama yaitu makan. Rutinitas makan-memakan makanan ini semacam ritual wajib yang dilakukan saat kumpul-kumpul, bahkan berbulan-bulan kemudian ritual kumpul sambil makan-makan ini lebih mirip seperti ritual kumpul kebo, hehehe kebo disini maksudnya badan saya dan teman-teman saya yang sudah menyerupai anak kebo atau mungkin mbah kebo. ( Garing ya ? biarin weeks). Mungkin orang-orang atau mungkin anda sendiri berpikir ‘kami juga biasa kok kumpul sama temen dan makan-makan’ , tapi bedanya dengan kami, kegiatan kumpul-kumpul ini diisi sekitar 60% makan dan 10% mainin gadget 25% ngobrol dan 5% godain anak cewek yang kebetulan seliweran di depan meja kami.
Tanpa terasa waktu terus berjalan seperti halnya timbangan berat badanku. Sebelumnya hal ini tidak terasa sama sekali, tapi karena banyaknya teman saya yang bermulut nyinyir menyindir ukuran badan saya. Saya pun akhirnya berniat untuk melakukan diet, hah! suatu hal yang tabu saya lakukan namun mau tak mau. Awalnya berat juga sih, ada yang nyaranin biar cepet susut tu si mbah kisut alias lemak saya ga boleh makan nasi selama sebulan. What a jerk! masa iya saya tidak bertemu dengan sahabat saya selama kurun waktu satu bulan, makan pasti seperti saat-saat ejakulasi tapi tidak sampai puncaknya. Nah lho! Puncak asmara maksud loe?. Setelah saya bolak balik searching di mbah google ternyata ada bahan lain yang berperan sebagai sumber karbohidrat dan energi utama untuk tubuh misalnya Gandum. Meski rasanya jauh dari kata enak namun (apa boleh buat) saya harus tetap mengkonsumsinya. Awalnya mengkonsumsi roti gandum saya mikir para atlet-atlet yang bertubuh kekar itu kok bisa kuat ya makan beras merah, dan roti gandum sebagai sumber karbohidrat mereka. but yes No pain No gain, roti gandum ini memiliki tingkat kalori yang jauh lebih rendah dari nasi putih, selain itu roti gandum juga kaya akan vitamin B1, B2, B6 Dan B12, Roti gandum juga kaya akan serat yang fungsinya mengatur sistem pencernaan dan membantu membersihkan usus. Selain itu, roti gandum juga memiliki efek lebih ringan pada tingkat gula darah sehingga aman untuk diabetesi. Hal ini dikarenakan tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa diserap dalam aliran darah. Sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi roti gandum memiliki kesempatan yang jauh lebih rendah terkena serangan jantung karena dapat menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Nah setelah tahu beberapa manfaat mengkonsumsi roti gandum tersebut rasa kampret yang ada pada roti ini pun lenyap dan sekarang meski berat badan saya belum susut terlalu banyak paling tidak manfaat dan self security pada kesehatan badan pun terasa. Tapi teteuup ya konsumsi roti gandumnya jangan banyak-banyak, karena roti gandum itu kan sumber karbohidrat yang pasti sangat cepat menaikkan timbangan badan. Selamat mencoba!



Selasa, 03 Juni 2014

Kekeluargaan Sajalah


'' Kekeluargaan sajalah! '' kalimat ini terlihat dan terdengar sangat lumrah di Indonesia, umumnya kalimat ini keluar dan jadi senjata pamungkas saat salah satu kubu tidak mempunyai cukup bukti untuk dibilang benar, maka kekeluargaan sajalah. Oke, aku setuju dengan 'kekeluargaan sajalah' saat menyelesaikan masalah seperti (jangan sampai kejadian) kecelakaan/musibah yang disebabkan kompor tetangga meledup misalnya. Tapi pernahkah terbersit di benak kalian jika 'Kekeluargaan sajalah' ini terjadi di dalam sebuah organisasi bukannya selayaknya organisasi itu tunduk pada peraturan yang di tetapkan sebelum-sebelumnya. Organisasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang yang bertujuan mencapai tujuan organisasi tersebut. sudah barang tentu untuk mencapai tujuan dan kesejahteraan suatu organisasi itu memiliki peraturan dan andil seorang pemimpin yang bijak dan arif. Akan tetapi beneran ada lho organisasi yang menjalankan 'Kekeluargaan sajalah ini'. Hah beneran ? Yakin lho ?. Yap, saya pernah merasakannya dimana saat saya tahun 2013 masuk disalah satu organisasi ( tidak perlu saya sebutkan namanya pemirsa ) yang mana saat itu terlihat solid namun rapuh. yah, beberapa anggota senior lainnya ada yang seperti berkubu-kubu bahkan saat mereka harus memberikan arahan kepada kami, yang punya naluri pasti ngerasain kalau kejadian saat itu memang tidak akur satu sama lain. Tapi siapa peduli, saya pikir salah satu dari mereka mungkin saja sedang kalah taruhan acara pencarian bakat yang tereliminasi atau mungkin mereka yang berkubu tidak mendapatkan jatah sarapan pagi. who knows?. Namun saat hampir 2-3 bulan saya berada di dalam organisasi itu saya mulai mengedus sesuatu yang janggal. Misanya saja saat ada pekerjaan/Job yang mestinya saya-lah yang menghandle ( dalam hal ini saya ketua yang baru pemirsa ). Namun para senior yang lebih menjunjung tinggi nilai 'Kekeluargaan sajalah' ini lebih memilih wakil saya untuk menangani sebuah pekerjaan, hanya karena jarak dan lingkungan bermain mereka saling berdekatan. Bahkan saya bisa pastikan dengan si A menutup mata dan tangan terikat si A mampu sampai menuju rumah si B dalam keadaan sehat walafiat. Hal ini pun terus berlanjut saat ada pekerjaan/tugas lain yang mestinya melalui perantara dan persetujuan ketua terlebih dahulu mereka ( baca : senior ) malah untuk kedua kalinya memberikan pekerjaan tersebut kepada wakil saya. Awalnya saya bukan tidak sempat minta kejelasan dengan hal ini, rasa-rasanya saya tidak sejelek itu untuk mengatur,menyelesaikan pekerjaan/tugas negara yang diberikan, namun jawaban yang saya dapatkan sangat tidak masuk diakal. Mulai dari kelupaan, mendadak, inilah itulah. Setelah dipikir matang-matang dan berdialog dengan senior yang lain saya pun memutuskan meninggalkan organisasi tersebut. Sekarang entah bagaimana dengan nasib organisasi tersebut, saya hanya bisa mendo'a kan agar kelak teman-teman saya yang masih bertahan disana menjadi senior yang tidak terlalu mudah untuk dibilang 'bodoh' dengan memakai peraturan 'kekeluargaan sajalah' itu. Organisasi ya organisasi tidak ada kaitannya dengan keluarga ataupun kekeluargaan. Tugas yang seharusnya milik bersama diselesaikan bersama. yah, itu kalau mau maju dan berkembang. Kalau saya sih mau berkembang makanya saya tinggalin organisasi tersebut. So, tidak selamanya kata sifat 'Kekeluargaan' ini baik dan menguntungkan kedua belah pihak, tempatkan peraturan pada tempatnya, bersikaplah bijak.

SOAL MENGAGUMI KAMU

sudah lama halaman Blog ini tak terjamah, baiklah tidak pantas rasanya bila membiarkannya begitu saja tanpa memberikan sedikit coretan-coretan berupa tulisanku yang mungkin mengganggu ini. Sudah hampir satu tahunan lebih aku tidak menulis lagi di blog ini banyak cerita selama setahun itu yang mungkin ingin ku bagi karena penting dan sebagian tidak ingin kubagi karena terlalu tidak penting (minimal untuk dipulbikasikan). Mengagumi seseorang pernahkah kalian mengalaminya ? jika pernah seberapa banyak/sering hal itu terjadi ? jika jawabannya lebih dari satu kali atau lebih dari puluh/ratus kali jangan-jangan kamu termasuk kategori 'murahan' hahahah becanda kok jangan di ambil hati. kamu mungkin kategori pengagum segala hal baik itu yang memiliki hobi/kegemaran yang sama sepertimu atau justru berbeda tapi sudahlah aku disini tidak membahas kategori itu. Aku hanya sedang mengagumi sosok orang yang aku anggap dia mempunyai karakter pendiam, sopan dan menarik. Aku tidak punya jutaan keberanian hanya untuk berkenalan, mengajak ngobrol atau sampai bertukar nomor handphone. Namun jutaan fantasi sudah seringkali terangkai kuat di otakku saat mengingat dirinya. Tidak tahu ini perasaan semacam suka/naksir/kagum yang pasti aku senang bila menerawang senyum dan atitude dia keorang lain. Aku cukup bahagia dengan semua yang aku rasakan ini, bisa melihat dia dari jarak kejauhan, bisa melihat dia tersenyum dan tertawa dengan teman-temannya sudah bagian yang bisa membuatku berkata "Ini cukup!" dengan perasaan lega. Aku takut rasa senang/naksir/kagum ini akan berkurang jika aku nekat berkenalan dan mengajak dia sekarang kong kow namun responnya negatif. Hah,aku sungguh tepat disebut cemen nya 2014. Paling tidak untuk sementara biar saja seperti ini, aku tahu mungkin secara fisik aku dan dia tidak/belum berteman tapi Do'a yang ku kirimkan untuknya telah lebih dulu berteman (mungkin) dengan Do'a-do'a nya. Kalau dibilang hal yang kulakukan ini hal yang bodoh biarlah, tah mengapa toh bodoh asal bahagia dan tak membodohi orang lain. Anggap saja jika ini sebuah dagelan kartun aku berperan sebagai Patrick sedang kamu Spongebob, aku akan setia menunggumu disini sampai tiba saat kamu terjaga  kalau ada seseorang yang asyik mengagumimu dan menunggumu. Teruntukkmu di dalam pikiran, hati dan Do'a ku. YPA