'' Kekeluargaan sajalah!
'' kalimat ini terlihat dan terdengar sangat lumrah di Indonesia, umumnya
kalimat ini keluar dan jadi senjata pamungkas saat salah satu kubu tidak
mempunyai cukup bukti untuk dibilang benar, maka kekeluargaan sajalah. Oke, aku
setuju dengan 'kekeluargaan sajalah' saat menyelesaikan masalah seperti (jangan
sampai kejadian) kecelakaan/musibah yang disebabkan kompor tetangga meledup misalnya. Tapi
pernahkah terbersit di benak kalian jika 'Kekeluargaan sajalah' ini terjadi di
dalam sebuah organisasi bukannya selayaknya organisasi itu tunduk pada
peraturan yang di tetapkan sebelum-sebelumnya. Organisasi adalah kegiatan yang
dilakukan oleh lebih dari satu orang yang bertujuan mencapai tujuan organisasi
tersebut. sudah barang tentu untuk mencapai tujuan dan kesejahteraan suatu
organisasi itu memiliki peraturan dan andil seorang pemimpin yang bijak dan
arif. Akan tetapi beneran ada lho organisasi yang menjalankan 'Kekeluargaan sajalah
ini'. Hah beneran ? Yakin lho ?. Yap, saya pernah merasakannya
dimana saat saya tahun 2013 masuk disalah satu organisasi ( tidak perlu saya
sebutkan namanya pemirsa ) yang mana saat itu terlihat solid namun rapuh. yah,
beberapa anggota senior lainnya ada yang seperti berkubu-kubu bahkan saat
mereka harus memberikan arahan kepada kami, yang punya naluri pasti ngerasain
kalau kejadian saat itu memang tidak akur satu sama lain. Tapi siapa peduli,
saya pikir salah satu dari mereka mungkin saja sedang kalah taruhan acara
pencarian bakat yang tereliminasi atau mungkin mereka yang berkubu tidak
mendapatkan jatah sarapan pagi. who
knows?. Namun saat hampir 2-3
bulan saya berada di dalam organisasi itu saya mulai mengedus sesuatu yang
janggal. Misanya saja saat ada pekerjaan/Job yang mestinya saya-lah yang
menghandle ( dalam hal ini saya ketua yang baru pemirsa ). Namun para senior
yang lebih menjunjung tinggi nilai 'Kekeluargaan sajalah' ini lebih memilih
wakil saya untuk menangani sebuah pekerjaan, hanya karena jarak dan lingkungan
bermain mereka saling berdekatan. Bahkan saya bisa pastikan dengan si A menutup
mata dan tangan terikat si A mampu sampai menuju rumah si B dalam keadaan sehat
walafiat. Hal ini pun terus berlanjut saat ada pekerjaan/tugas lain yang mestinya
melalui perantara dan persetujuan ketua terlebih dahulu mereka ( baca : senior
) malah untuk kedua kalinya memberikan pekerjaan tersebut kepada wakil saya.
Awalnya saya bukan tidak sempat minta kejelasan dengan hal ini, rasa-rasanya
saya tidak sejelek itu untuk mengatur,menyelesaikan pekerjaan/tugas negara yang
diberikan, namun jawaban yang saya dapatkan sangat tidak masuk diakal. Mulai
dari kelupaan, mendadak, inilah itulah. Setelah dipikir matang-matang dan
berdialog dengan senior yang lain saya pun memutuskan meninggalkan organisasi
tersebut. Sekarang entah bagaimana dengan nasib organisasi tersebut, saya hanya
bisa mendo'a kan agar kelak teman-teman saya yang masih bertahan disana menjadi
senior yang tidak terlalu mudah untuk dibilang 'bodoh' dengan memakai peraturan
'kekeluargaan sajalah' itu. Organisasi ya organisasi tidak ada kaitannya dengan
keluarga ataupun kekeluargaan. Tugas yang seharusnya milik bersama diselesaikan
bersama. yah, itu kalau mau maju dan berkembang. Kalau saya sih mau berkembang
makanya saya tinggalin organisasi tersebut. So, tidak selamanya kata sifat
'Kekeluargaan' ini baik dan menguntungkan kedua belah pihak, tempatkan
peraturan pada tempatnya, bersikaplah bijak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar