Selasa, 03 Juni 2014

Kekeluargaan Sajalah


'' Kekeluargaan sajalah! '' kalimat ini terlihat dan terdengar sangat lumrah di Indonesia, umumnya kalimat ini keluar dan jadi senjata pamungkas saat salah satu kubu tidak mempunyai cukup bukti untuk dibilang benar, maka kekeluargaan sajalah. Oke, aku setuju dengan 'kekeluargaan sajalah' saat menyelesaikan masalah seperti (jangan sampai kejadian) kecelakaan/musibah yang disebabkan kompor tetangga meledup misalnya. Tapi pernahkah terbersit di benak kalian jika 'Kekeluargaan sajalah' ini terjadi di dalam sebuah organisasi bukannya selayaknya organisasi itu tunduk pada peraturan yang di tetapkan sebelum-sebelumnya. Organisasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang yang bertujuan mencapai tujuan organisasi tersebut. sudah barang tentu untuk mencapai tujuan dan kesejahteraan suatu organisasi itu memiliki peraturan dan andil seorang pemimpin yang bijak dan arif. Akan tetapi beneran ada lho organisasi yang menjalankan 'Kekeluargaan sajalah ini'. Hah beneran ? Yakin lho ?. Yap, saya pernah merasakannya dimana saat saya tahun 2013 masuk disalah satu organisasi ( tidak perlu saya sebutkan namanya pemirsa ) yang mana saat itu terlihat solid namun rapuh. yah, beberapa anggota senior lainnya ada yang seperti berkubu-kubu bahkan saat mereka harus memberikan arahan kepada kami, yang punya naluri pasti ngerasain kalau kejadian saat itu memang tidak akur satu sama lain. Tapi siapa peduli, saya pikir salah satu dari mereka mungkin saja sedang kalah taruhan acara pencarian bakat yang tereliminasi atau mungkin mereka yang berkubu tidak mendapatkan jatah sarapan pagi. who knows?. Namun saat hampir 2-3 bulan saya berada di dalam organisasi itu saya mulai mengedus sesuatu yang janggal. Misanya saja saat ada pekerjaan/Job yang mestinya saya-lah yang menghandle ( dalam hal ini saya ketua yang baru pemirsa ). Namun para senior yang lebih menjunjung tinggi nilai 'Kekeluargaan sajalah' ini lebih memilih wakil saya untuk menangani sebuah pekerjaan, hanya karena jarak dan lingkungan bermain mereka saling berdekatan. Bahkan saya bisa pastikan dengan si A menutup mata dan tangan terikat si A mampu sampai menuju rumah si B dalam keadaan sehat walafiat. Hal ini pun terus berlanjut saat ada pekerjaan/tugas lain yang mestinya melalui perantara dan persetujuan ketua terlebih dahulu mereka ( baca : senior ) malah untuk kedua kalinya memberikan pekerjaan tersebut kepada wakil saya. Awalnya saya bukan tidak sempat minta kejelasan dengan hal ini, rasa-rasanya saya tidak sejelek itu untuk mengatur,menyelesaikan pekerjaan/tugas negara yang diberikan, namun jawaban yang saya dapatkan sangat tidak masuk diakal. Mulai dari kelupaan, mendadak, inilah itulah. Setelah dipikir matang-matang dan berdialog dengan senior yang lain saya pun memutuskan meninggalkan organisasi tersebut. Sekarang entah bagaimana dengan nasib organisasi tersebut, saya hanya bisa mendo'a kan agar kelak teman-teman saya yang masih bertahan disana menjadi senior yang tidak terlalu mudah untuk dibilang 'bodoh' dengan memakai peraturan 'kekeluargaan sajalah' itu. Organisasi ya organisasi tidak ada kaitannya dengan keluarga ataupun kekeluargaan. Tugas yang seharusnya milik bersama diselesaikan bersama. yah, itu kalau mau maju dan berkembang. Kalau saya sih mau berkembang makanya saya tinggalin organisasi tersebut. So, tidak selamanya kata sifat 'Kekeluargaan' ini baik dan menguntungkan kedua belah pihak, tempatkan peraturan pada tempatnya, bersikaplah bijak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar