“Orang
ini enerjik sekali ya!” Suara itu sesekali memuji seorang yang dilihatnya di TV
sedang asyik bernyanyi dan menari. Bertahun kemudian “wah rambutnya dicat Pink !”
puji orang tersebut yang asyik menonton acara HUT salah satu stasiun tv swasta
Indonesia melalui Tv sambil sesekali tangannya asyik menyuapi cemilan-cemilan
kecil masuk ke mulutnya. Rasa kagum terlihat sekali, beberapa hari berikutnya
setelah mengumpulkan cukup uang, ia pun membeli kaset dari penyanyi tersebut. Konon
kaset yang baru ia beli merupakan album paling anyar dari penyanyi yang saat
itu jadi trade setter karena aksi
panggung dan prestasi yang ia raih. Agnes Monica. Melalui album terbarunya Whaduup
A mampu membuat seorang anak kecil yang masih duduk di bangku SMP itu
terkagum-kagum (jangan bayangkan ia terkagum layaknya anak alay jaman sekarang ketika
melihat, menjamah bahkan meraba para anggota JKT 48 ya. Dulu kagumnya ga
senorak itu kok). Agnes monica benar-benar mampu menjadi sosok penyanyi yang selalu
ditunggunya. Entah itu di tabloid ataupun di Tv. Selang 1 dekade kemudian rasa
kagum itu tidak lagi sebesar dan semegah dulu. Wajah dan suara yang selalu ia
tunggu-tunggu hadir di Tv kini berkurang seiring perkembangan (mungkin lebih
tepatnya penurunan kualitas dan selera) Agnes monica yang makin ke
Barat-baratan. Sosok dulu yang masih khas dengan orientalnya kini berubah
menjadi sesuatu yang (maaf) absurd. Kulit
yang tadi putih benderang kini disulap menjadi cokelat ke ‘ayam bakar tanpa
kecap’.
Penampilan
dulu (sebenarnya udah absurd juga sih
kalau diingat-ingat) menuai decak kagum kini menjadi cemoohan apalagi dunia maya.
Suara yang dulu menjadi andalannya, kini berubah. Tidak hanya suara bahkan buah
dada dan paha pun menjadi aset yang sayang jika tidak ditampilkan. Ia tau betul
idolanya memang sejak dulu memimpikan punya karir Internasional, sayangnya tak
terlintas di benaknya sosok itu mau mendandani dirinya menjadi diri orang lain
demi karir Internasional yang sampai sekarang entah dimana rimbanya. Anak SMP
itu kini telah tumbuh dewasa, pemikirannya pun telah berkembang, sosok yang
dulu di idolakannya kini malah mulai di tinggalkannya. Tak ada rasa kagum, haru
ataupun senang melihat sosok Agnes di Tv. Hanya rasa Iba yang terlintas karena
ketidak percayaan Agnes pada diri sendiri. Bahkan sampai harus merubah nama menjadi
Agnezmo segala. Album-album dulu yang ia koleksipun kini dibiarkan terbengkalai
dan bersawang. Mungkin hanya dua hal yang bisa ia contoh dari sosok idolanya
dulu tersebut, kerja keras dan menghargai proses dalam mencapai sesuatu.
Jika ada hal lain yang patut dibanggakan dari Agnes monica yang sekarang, maka ia
biarkan hal itu menjadi bahan kekaguman anak-anak jaman sekarang saja. Ia masih
punya sosok lain yang bisa menghibur bahkan menginspirasinya. Ia bangga pernah
menjadi bagian dari pengagum Agnes monica jaman dulu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar