Senin, 16 Juni 2014

Suara Sang Kertas

Terdengar seperti suara angin yang perlahan menyautkan ke dalam indera pendengaran pemiliknya. “ Hei, Bagas lihat aku! Aku sudah lama tidak kau sentuh “ kalimat itu hanya berayun kedalam hati dimana suara itu berasal. Bagas masih asyik saja duduk manis di depan laptop terbarunya yang baru saja didapatkan oleh ayahnya sebagai kado ulang tahun. Sesekali ia beranjak menuju dapur sekadar mencari makanan kecil kemudian kembali lagi ke meja yang kelihatan usang bersama laptopnya. “ Hello Bagas. Ayo ambil penamu. Tulislah aku dengan cerita-cerita menarikmu di diriku ini “ teriak lagi sang kertas dengan penuh semangat. Seperti mengharapkan jalanan ibu kota yang bebas dari kemacetan, suara itu tidak akan mampu menembus indera pendengaran Bagas. Malam sudah benar-benar memekatkan langit melalui kegelapannya. Bagas yang tadinya asyik mengetik di depan laptop kini perlahan mulai merasa kantuk. Ia pun bergegas mematikan laptopnya dan langsung menghilang ke dalam mimpi. Sang kertas sejak awal petang berteriak meminta Bagas menulisinya, kini hanya terdiam melihat sang majikan yang sudah asyik tertidur. Air mata tak terasa berkucur deras keluar, Sang kertas tak mampu membendungnya, hening terasa benar-benar memilukan dan mencibir dirinya. Entah ini sudah menjadi malam keberapa bagi Sang kertas untuk meratap, bersedih, dan hanya bisa mengingat sejuta kenangan bersama sang majikan. Dulu sekali tak ada sedetik pun ia dan sang majikan berpisah, dunia terasa milik berdua. Masih sangat jelas diingatan sang kertas dimana saat majikan mendapatkan ide-ide segar untuk dituangkan maka sang majikan dengan cekatannya mengambil secarik kertas yang akan ditulisinya kalimat perkalimat hingga akhirnya membentuk cerita pendek yang kemudian akan sang majikan kirimkan ke agen koran/tabloid untuk di muat. Walaupun cerita-cerita pendek yang dikirim sang majikan tak pernah dimuat di koran ataupun tabloid sang majikan tetap senang, ia tak pernah berputus asa untuk menulis dan menulis lagi. Namun semua itu telah berubah, sang majikan yang biasanya setiap hari menyentuh, memandang dan menulisinya dengan tulisan tangan yang rapi dan teliti bahkan kadang saat sang majikan kehabisan ide maka ia akan memandangi sang kertas dalam-dalam berharap sang inspirasi mau menjatuhkan secercah ide untuk ditulisinya kedalam sang kertas yang setia menemani hari-harinya.  Tak terasa air mata sang kertas mulai habis, sang surya meski malu-malu namun tetap menampakkan dirinya menembus kegelapan yang sudah tampak bosan melihat Sang kertas bersedih. Bagas terlihat masih tertidur pulas. “Bagas ayo bangun! Kamu ga kuliah apa?” suara nyaring itu berusaha menerobos mimpi Bagas untuk segera terbangun. Sayup-sayup mata itupun terbuka, Sang kertas yang tepat berada di atas meja belajar yang berhadapan langsung dengan tempat tidur Bagas sudah sejak tadi tersenyum lebar meski matanya terasa lebam. Bagas pun bergegas beranjak, ia terlihat begitu tergopoh-gopoh karena tahu sang waktu sudah menunjukkan pukul 9:30 pagi. Sang kertas berharap semoga kali ini ada keajaiban baginya agar bisa bersama lagi dengan sang majikan. Bagas sudah terlihat sangat rapi dengan setelan kemeja hitamnya. Ia sudah tidak punya waktu lagi untuk sekadar sarapan ataupun sekadar bincang santai dengan Ibu. Sang kertas yang sejak tadi mengharap agar kali ini menjadi teman Bagas menuju kampus hanya bisa terdiam lesu. Sang kertas tampaknya tahu Bagas ke kamar hanya untuk mengambil laptop bersama tas yang tergantung rapi di samping meja belajar. Bagas pun berlalu. Air mata sang kertas pun tak terbendung, kali ini bahkan lebih deras. Dalam tangisnya Ia hanya berharap di ujung waktu kelak sang teknologi tidak sungguh-sungguh melenyapkan sang Bagas yang dikenalnya dulu. Ia berharap Bagas-Bagas yang lain masih mampu menyediakan waktu untuk mencoretnya dengan tulisan tangan. Ia  tidak sanggup saat membayangkan bagaimana sakitnya ia harus ditulisi dengan tulisan dan tinta printer yang sanggup menggepengkan tubuh dan menusuk-nusuk dirinya bersama jarum-jarum tinta. Sang kertas berhenti berharap, kesetiaannya pada tulisan Bagas kini harus di tarukan pada perkembangan teknologi yang mampu ‘memperkosa’ kebahagiaan yang ia punya bertahun-tahun silam. Paling tidak sang kertas tahu selama ini ia telah berjasa bagi tulisan-tulisan Bagas, tulisan-tulisan yang terlahir dari lubuk hati kemudian ditorehkan melalui tulisan tangan kedalam dirinya. Sang kertas pada akhirnya lebih memilih membahasi dirinya dengan jutaan tetes air mata yang mampu menghacurkan tubuhnya sendiri, harga diri yang dimiliki sang kertas memilihnya untuk mati di antara jutaan air matanya daripada menjadi sebuah kertas yang hanya ditulisi oleh alat cetak yang menyebut dirinya Printer. (Aku mungkin bukanlah barang mewah yang kau miliki, bukan pula barang yang kau bisa pamerkan. Aku hanyalah media konvensional yang mampu menjaring setiap ide-ide yang kau tulis di tubuhku. Aku senang saat kau mengotoriku dengan tulisanmu, tapi tolong tulislah aku dengan tulisan yang berasal dari hati dan tanganmu, bukan tulisan yang berasal dari Printer mu. Aku, Kertas).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar