Terdengar seperti suara angin yang perlahan menyautkan ke
dalam indera pendengaran pemiliknya. “ Hei, Bagas lihat aku! Aku sudah lama
tidak kau sentuh “ kalimat itu hanya berayun kedalam hati dimana suara itu
berasal. Bagas masih asyik saja duduk manis di depan laptop terbarunya yang baru saja didapatkan oleh ayahnya sebagai
kado ulang tahun. Sesekali ia beranjak menuju dapur sekadar mencari makanan
kecil kemudian kembali lagi ke meja yang kelihatan usang bersama laptopnya. “
Hello Bagas. Ayo ambil penamu. Tulislah aku dengan cerita-cerita menarikmu di
diriku ini “ teriak lagi sang kertas dengan penuh semangat. Seperti mengharapkan
jalanan ibu kota yang bebas dari kemacetan, suara itu tidak akan mampu menembus
indera pendengaran Bagas. Malam sudah benar-benar memekatkan langit melalui
kegelapannya. Bagas yang tadinya asyik mengetik di depan laptop kini perlahan
mulai merasa kantuk. Ia pun bergegas mematikan laptopnya dan langsung
menghilang ke dalam mimpi. Sang kertas sejak awal petang berteriak meminta
Bagas menulisinya, kini hanya terdiam melihat sang majikan yang sudah asyik tertidur.
Air mata tak terasa berkucur deras keluar, Sang kertas tak mampu membendungnya,
hening terasa benar-benar memilukan dan mencibir dirinya. Entah ini sudah
menjadi malam keberapa bagi Sang kertas untuk meratap, bersedih, dan hanya bisa
mengingat sejuta kenangan bersama sang majikan. Dulu sekali tak ada sedetik pun
ia dan sang majikan berpisah, dunia terasa milik berdua. Masih sangat jelas diingatan
sang kertas dimana saat majikan mendapatkan ide-ide segar untuk dituangkan maka
sang majikan dengan cekatannya mengambil secarik kertas yang akan ditulisinya
kalimat perkalimat hingga akhirnya membentuk cerita pendek yang kemudian akan
sang majikan kirimkan ke agen koran/tabloid untuk di muat. Walaupun cerita-cerita
pendek yang dikirim sang majikan tak pernah dimuat di koran ataupun tabloid sang
majikan tetap senang, ia tak pernah berputus asa untuk menulis dan menulis
lagi. Namun semua itu telah berubah, sang majikan yang biasanya setiap hari
menyentuh, memandang dan menulisinya dengan tulisan tangan yang rapi dan teliti
bahkan kadang saat sang majikan kehabisan ide maka ia akan memandangi sang kertas
dalam-dalam berharap sang inspirasi mau menjatuhkan secercah ide untuk
ditulisinya kedalam sang kertas yang setia menemani hari-harinya. Tak terasa air mata sang kertas mulai habis,
sang surya meski malu-malu namun tetap menampakkan dirinya menembus kegelapan
yang sudah tampak bosan melihat Sang kertas bersedih. Bagas terlihat masih
tertidur pulas. “Bagas ayo bangun! Kamu ga kuliah apa?” suara nyaring itu
berusaha menerobos mimpi Bagas untuk segera terbangun. Sayup-sayup mata itupun
terbuka, Sang kertas yang tepat berada di atas meja belajar yang berhadapan
langsung dengan tempat tidur Bagas sudah sejak tadi tersenyum lebar meski matanya
terasa lebam. Bagas pun bergegas beranjak, ia terlihat begitu tergopoh-gopoh
karena tahu sang waktu sudah menunjukkan pukul 9:30 pagi. Sang kertas berharap
semoga kali ini ada keajaiban baginya agar bisa bersama lagi dengan sang
majikan. Bagas sudah terlihat sangat rapi dengan setelan kemeja hitamnya. Ia sudah
tidak punya waktu lagi untuk sekadar sarapan ataupun sekadar bincang santai
dengan Ibu. Sang kertas yang sejak tadi mengharap agar kali ini menjadi teman
Bagas menuju kampus hanya bisa terdiam lesu. Sang kertas tampaknya tahu Bagas
ke kamar hanya untuk mengambil laptop
bersama tas yang tergantung rapi di samping meja belajar. Bagas pun berlalu. Air
mata sang kertas pun tak terbendung, kali ini bahkan lebih deras. Dalam tangisnya
Ia hanya berharap di ujung waktu kelak sang teknologi tidak sungguh-sungguh
melenyapkan sang Bagas yang dikenalnya dulu. Ia berharap Bagas-Bagas yang lain
masih mampu menyediakan waktu untuk mencoretnya dengan tulisan tangan. Ia tidak sanggup saat membayangkan bagaimana
sakitnya ia harus ditulisi dengan tulisan dan tinta printer yang sanggup menggepengkan tubuh dan menusuk-nusuk dirinya
bersama jarum-jarum tinta. Sang kertas berhenti berharap, kesetiaannya pada
tulisan Bagas kini harus di tarukan pada perkembangan teknologi yang mampu ‘memperkosa’
kebahagiaan yang ia punya bertahun-tahun silam. Paling tidak sang kertas tahu
selama ini ia telah berjasa bagi tulisan-tulisan Bagas, tulisan-tulisan yang
terlahir dari lubuk hati kemudian ditorehkan melalui tulisan tangan kedalam
dirinya. Sang kertas pada akhirnya lebih memilih membahasi dirinya dengan
jutaan tetes air mata yang mampu menghacurkan tubuhnya sendiri, harga diri yang
dimiliki sang kertas memilihnya untuk mati di antara jutaan air matanya
daripada menjadi sebuah kertas yang hanya ditulisi oleh alat cetak yang
menyebut dirinya Printer. (Aku mungkin bukanlah barang mewah yang kau
miliki, bukan pula barang yang kau bisa pamerkan. Aku hanyalah media
konvensional yang mampu menjaring setiap ide-ide yang kau tulis di tubuhku. Aku
senang saat kau mengotoriku dengan tulisanmu, tapi tolong tulislah aku dengan
tulisan yang berasal dari hati dan tanganmu, bukan tulisan yang berasal dari Printer
mu. Aku, Kertas).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar