suara gusar sang
amatir itu mulai semakin mengeras, namun tidak ada satupun panca indera yang
mampu mendengar kekalutan pikirannya yang dipenuhi dengan kebohongan,
tipu daya, kepalsuan dan juga harapan. Si Amatir masih mengharap ada sebuah
keajaiban yang terwujud. Dunia sudah terasa begitu sesak, dunia sudah begitu
terasa kotor. Rangkaian sumpah dan ejekan sudah terhampar disegala sisi
hidupnya. Syukurnya si Amatir yang cenderung tolol dan asosial ini masih punya
sang raja kegelapan yang mampu menghalaunya dari timbunan dosa-dosa yang
mengelilingi siangnya tanpa henti. Sang malam sudah dirasa cukup untuk menjadi
teman sepi yang mampu menopang kegundahannya, ia terlihat begitu sayu sambil
kadang-kadang melihat sekitar yang terlihat tenang. Do'a pun terpanjat ''
Tuhan aku tak tahu harus bersyukur atau bermurka terhadap semua yang ku rasa
ini. Bagaimanapun beratnya beban hidup ini aku berharap Engkau selalu ada
disisiku. Engkau selalu rela menghabiskan waktu Mu untuk mendengarkan curahan
isi hatiku. Engkau masih cukup persediaan air mata yang kau aliri ke darahku
untuk menemani sedihku saat nanti. " sambil gemetar karena udara malam
yang terlalu bengis menembus tulang, ia melajutkan sebait Doa lagi
"....setelah apa yang kurasa semua ini, jangan biarkan aku menjadi bagian
sekuler dari orang-orang yang menyebut diri mereka Hamba Mu..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar