Sabtu, 14 Juni 2014

Amatir

suara gusar sang amatir itu mulai semakin mengeras, namun tidak ada satupun panca indera yang mampu mendengar kekalutan pikirannya yang dipenuhi dengan  kebohongan, tipu daya, kepalsuan dan juga harapan. Si Amatir masih mengharap ada sebuah keajaiban yang terwujud. Dunia sudah terasa begitu sesak, dunia sudah begitu terasa kotor. Rangkaian sumpah dan ejekan sudah terhampar disegala sisi hidupnya. Syukurnya si Amatir yang cenderung tolol dan asosial ini masih punya sang raja kegelapan yang mampu menghalaunya dari timbunan dosa-dosa yang mengelilingi siangnya tanpa henti. Sang malam sudah dirasa cukup untuk menjadi teman sepi yang mampu menopang kegundahannya, ia terlihat begitu sayu sambil kadang-kadang melihat sekitar yang  terlihat tenang. Do'a pun terpanjat '' Tuhan aku tak tahu harus bersyukur atau bermurka terhadap semua yang ku rasa ini. Bagaimanapun beratnya beban hidup ini aku berharap Engkau selalu ada disisiku. Engkau selalu rela menghabiskan waktu Mu untuk mendengarkan curahan isi hatiku. Engkau masih cukup persediaan air mata yang kau aliri ke darahku untuk menemani sedihku saat nanti. " sambil gemetar karena udara malam yang terlalu bengis menembus tulang, ia melajutkan sebait Doa lagi "....setelah apa yang kurasa semua ini, jangan biarkan aku menjadi bagian sekuler dari orang-orang yang menyebut diri mereka Hamba Mu..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar