Rabu, 11 Juni 2014

Badan bukanlah Matematika

     Ada-ada saja gerangan teman-teman wanita saya yang menggilai pria dengan tubuh yang kekar dan tegap. Menurut mereka cowok dengan lengan yang besar (tentunya besar karena ditopang otot bisep dan trisep ya bukan lemak gheheh), dada yang bidang serta perut yang sixpack adalah sebuah surga dunia yang tidak bisa di kufuri adanya. Masih menurut mereka cowok dengan badan yang berotot itu kelihatan lebih bisa melindungi (melindungi dari apa coba? Serangan tentara agresi militer?) dan bangga kalau di gandengan kemana-mana (hello,itu cowok bukan tas Hermes keles). Mendengar semua totok petok itu saya malah jadi berpikir “mungkinkah ini sebuah karma atas apa yang selama ini dilakukan para pria terhadap wanita?”. Iya anda para pria mengaku sajalah kalau anda lebih attached dan tertarik dengan wanita yang memiliki tubuh aduhai ala Victoria Beckham atau semisal super model Nadia Hutagalung bukan? Mereka dengan susah payahnya berusaha memiliki tubuh indah seperti yang anda idam-idamkan, jangan sebut nasi putih, nasi merah ataupun nasi cokelat. Mereka tidak se-omnivora itu untuk bisa memiliki tubuh yang ramping dan seksi, akan tetapi buah dan sayur serta beberapa asupan protein nabati lah yang menjadi sumber panganan mereka sehari-hari. Wah betapa menyiksanya hidup mereka dengan beban  pekerjaan di kantor yang pasti menyita waktu dan kalori tubuh namun mereka juga harus tetap menjaga asupan makan mereka guna mengkontrol kalori yang masuk, memang benar kata orang Beauty is Pain! Terkutuklah para pria-pria dan ayam-ayamnya. Namun semua itu seakan berbalas, kaum adam yang tadinya tidak pernah mendapat paksaan (minimal sindiran) untuk memiliki tubuh yang kekar kini mereka harus repot-repot pergi ke fitness center guna melakukan olahraga angkat beban.

     Biaya tambahanpun sudah menunggu mereka, paling tidak dalam sebulan mereka harus merogoh kocek yang cukup mahal untuk membayar iuran bulanan member serta konsumsi susu whey guna membantu pertumbuhan massa otot tubuh. Hal inilah yang saya alami sejak dua tahun silam, tepatnya di pertengahan tahun 2012. Awalnya hari-hari saya begitu menyiksa, bayangkan saja (saat itu saya masih duduk di bangku kuliah) setelah pulang kuliah saya yang biasanya kumpul bersama teman-teman atau pulang kerumah dan tidur siang kini harus repot-repot pergi ketempat fitness yang jaraknya ribuan langkah dari rumah saya, latihan yang saya lakukan pun lumayan intens  sekitar 4 sampai 5 kali seminggu. Semua saya lakukan demi memiliki tubuh yang berotot. Belum-belum lagi Trainer saya yang bawelnya minta ditonjok ini selalu mengingatkan saya tentang pola makan yang baik, menurutnya untuk membangun atau meningkatkan massa otot asupan protein menjadi hal yang paling krusial dikonsumsi, mengingat fungsi protein sebagai ‘makanan’ bagi otot setelah berlatih. Apabila jumlah protein yang dikonsumsi sehari kurang atau tidak mencukupi dengan indeks berat badan maka tubuh akan ‘memecah’ massa otot tersebut sehingga otot yang dilatihpun akan sia-sia saja. Hakikatnya protein yang dibutuhkan dalam pembentukan otot adalah 1 – 1 ½ gram per-kg berat badan. Pola latihan pun harus tepat misalnya pola latihan yang sering dilakukan yaitu hari Senin latihan dada,bahu,Triceps dan Abs (perut), Selasa istirahat, Rabu latihan punggung, kaki, Biceps dan Abs,hari  Kamis istirahat, lalu Jumat latihan dada, bahu, triceps dan Abs dan hari Sabtu latihan Punggung, Kaki, dan Biceps, sedangkan hari Minggu tempat fitness nya tutup (yakali hari Minggu masih teteuup fitness). Nah itu kalau ngomongi soal jadwal latihan terus kalo ngomongi soal gizi serta porsi makanan untuk saya konsumsi sehari-hari udah beda. Sang Trainer menyuruh (tepatnya memaksa) saya hanya mengkonsumsi 4-5 putih telur ditemani secangkir orange jus (ga usah ditambahi gula ya orange jus nya) sebagai sarapan pagi, bila terasa lapar setelah sarapan pagi cukup konsumsi sepotong buah apel. Biasanya dulu sebelum nge-gym saat sarapan saya bisa menghabiskan sepiring nasi goreng bulat-bulat beserta lauk pauknya, mulai dari ayam goreng dan kerupuk udang, atau sepiring nasi uduk ditemani dayang-dayangnya mulai dari telur orak-arik, suwiran dada ayam, sambal tumis dan timun istilahnya nikmat sarapan pagi mana lagi yang kamu ingkari. sedangkan untuk makan siangnya menu seperti biasa hanya saja jumlah protein nabati dan hewani yang ditambah juga proses memasaknya yang tidak boleh digoreng, jumlah nasi berkurang drastis serta konsumsi garam dan gula yang di pangkas ke akar-akarnya, awalnya saya merasa “kok menu makan saya kayak orang susah ya?”, menu makan malam tidak usah ditanya terkadang saya hanya mengkonsumsi sayur tumis dan buah-buahan. Selama lebih kurang satu tahunan saya menjalani pola hidup seperti ini, es krim yang jadi kegemaran di sabtu dan minggu sore lenyap, belum-belum lagi saat kumpul dengan teman-teman, saat mereka semua sibuk dengan menu makan siang  mulai dari soto betawi, rawon, pindang ikan patin sedang saya hanya bergelut dengan menu yang itu-itu saja no fries no tumis-tumis. Pada saat pertengahan 2013 saya melakukan evaluasi terhadap pola tersebut, pola itu tidak berjalan dengan baik di tubuh saya. Tubuh saya malah terlihat terlalu tebal (padahal muka saya imut-imut) dan sangat bulky. Konsumsi susu Whey pun tidak sejalan dengan pencernaan, tampaknya saya termasuk dari orang-orang yang sensitif terhadap diary product.Akhirnya setelah menimbang dan merenung seharian dengan lapang dada saya menghentikan pola hidup seperti itu, tidak ada lagi pola gym seperti di atas, tidak ada lagi menu-menu diet atau sehat, mungkin bagi Trainer saya pola seperti itu tidak akan membuat badan mengalami over trained  tapi siapa yang tahu perkara badan orang lain, what works to him doesn’t work properly to anybody else’s body then what works to anybody else’s body can’t work well to my Trainer’s body. Tuhan telah menciptakan badan manusia dengan keunikan, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tubuh kita bukanlah Matematika yang menakar ini, menghitung itu. Tubuh hanya butuh kamu makan sehat dan olahraga teratur. Benar jika untuk meningkatkan massa otot harus latihan beban dan meningkatkan mengkonsumsi protein perhari tetapi semua itu kembali lagi pada cara kerja tubuh dan rutinitas kita. Kenapa rutinitas kita juga? Iya dong, kamu tidak hanya nge-gym saja bukan? Ada hal-hal lain dan kegiatan lain yang kamu lakukan di luar nge-gym. Dengan menu diet/sehat seperti yang saya jalani mungkin banyak orang yang sejalan dengan itu dan merasakan manfaatnya tetapi tidak sedikit juga mereka yang merasa cepet lemas, dan bahkan tidak bergairah akibat suplai kalori yang berkurang, hal ini jika dibiarkan bukan tidak mungkin akan berpengaruh pada sistem daya tahan tubuh. Sekarang saya tetap nge-gym dan ditambah dengan jogging di sore hari. Menu seperti bakso, siomay ataupun es krim yang jadi kegemaran disaat weekend dulu kini bisa dinikmati kembali. Olahraga tetap menjadi sesuatu yang menyenangkan dan mengasikkan. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi menghitung-hitung jumlah protein yang masuk ataupun menghitung jumlah kalori yang telah terbakar, karena saya percaya Badan bukanlah Matematika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar