Ada-ada saja gerangan
teman-teman wanita saya yang menggilai pria dengan tubuh yang kekar dan tegap. Menurut mereka cowok dengan lengan yang
besar (tentunya besar karena ditopang otot bisep dan trisep ya bukan lemak
gheheh), dada yang bidang serta perut yang sixpack adalah sebuah surga dunia
yang tidak bisa di kufuri adanya. Masih menurut mereka cowok dengan badan yang
berotot itu kelihatan lebih bisa melindungi (melindungi dari apa coba? Serangan
tentara agresi militer?) dan bangga kalau di gandengan kemana-mana (hello,itu
cowok bukan tas Hermes keles). Mendengar
semua totok petok itu saya malah jadi berpikir “mungkinkah ini sebuah karma
atas apa yang selama ini dilakukan para pria terhadap wanita?”. Iya anda para pria
mengaku sajalah kalau anda lebih attached
dan tertarik dengan wanita yang memiliki tubuh aduhai ala Victoria Beckham atau
semisal super model Nadia Hutagalung bukan? Mereka dengan susah payahnya
berusaha memiliki tubuh indah seperti yang anda idam-idamkan, jangan sebut nasi
putih, nasi merah ataupun nasi cokelat. Mereka tidak se-omnivora itu untuk bisa
memiliki tubuh yang ramping dan seksi, akan tetapi buah dan sayur serta beberapa
asupan protein nabati lah yang menjadi sumber panganan mereka sehari-hari. Wah betapa
menyiksanya hidup mereka dengan beban pekerjaan
di kantor yang pasti menyita waktu dan kalori tubuh namun mereka juga harus tetap
menjaga asupan makan mereka guna mengkontrol kalori yang masuk, memang benar
kata orang Beauty is Pain! Terkutuklah
para pria-pria dan ayam-ayamnya. Namun semua itu seakan berbalas, kaum adam
yang tadinya tidak pernah mendapat paksaan (minimal sindiran) untuk memiliki
tubuh yang kekar kini mereka harus repot-repot pergi ke fitness center guna melakukan olahraga angkat beban.
Biaya tambahanpun
sudah menunggu mereka, paling tidak dalam sebulan mereka harus merogoh kocek yang
cukup mahal untuk membayar iuran bulanan member serta konsumsi susu whey guna
membantu pertumbuhan massa otot tubuh. Hal inilah yang saya alami sejak dua
tahun silam, tepatnya di pertengahan tahun 2012. Awalnya hari-hari saya begitu
menyiksa, bayangkan saja (saat itu saya masih duduk di bangku kuliah) setelah pulang
kuliah saya yang biasanya kumpul bersama teman-teman atau pulang kerumah dan
tidur siang kini harus repot-repot pergi ketempat fitness yang jaraknya ribuan
langkah dari rumah saya, latihan yang saya lakukan pun lumayan intens sekitar 4 sampai 5 kali seminggu. Semua saya
lakukan demi memiliki tubuh yang berotot. Belum-belum lagi Trainer saya yang bawelnya minta ditonjok ini selalu mengingatkan
saya tentang pola makan yang baik, menurutnya untuk membangun atau meningkatkan
massa otot asupan protein menjadi hal yang paling krusial dikonsumsi, mengingat
fungsi protein sebagai ‘makanan’ bagi otot setelah berlatih. Apabila jumlah protein
yang dikonsumsi sehari kurang atau tidak mencukupi dengan indeks berat badan
maka tubuh akan ‘memecah’ massa otot tersebut sehingga otot yang dilatihpun
akan sia-sia saja. Hakikatnya
protein yang dibutuhkan dalam pembentukan otot adalah 1 – 1 ½ gram per-kg berat
badan. Pola latihan pun harus tepat misalnya pola latihan yang sering
dilakukan yaitu hari Senin
latihan dada,bahu,Triceps dan Abs (perut),
Selasa istirahat, Rabu latihan punggung, kaki,
Biceps dan Abs,hari Kamis
istirahat, lalu Jumat latihan dada, bahu,
triceps dan Abs dan hari Sabtu
latihan Punggung, Kaki, dan Biceps, sedangkan hari Minggu tempat fitness nya
tutup (yakali hari Minggu masih teteuup
fitness). Nah itu kalau ngomongi soal jadwal latihan terus kalo ngomongi soal gizi
serta porsi makanan untuk saya konsumsi sehari-hari udah beda. Sang Trainer menyuruh (tepatnya memaksa) saya
hanya mengkonsumsi 4-5 putih telur ditemani secangkir orange jus (ga usah ditambahi gula ya orange jus nya) sebagai sarapan pagi, bila terasa lapar setelah
sarapan pagi cukup konsumsi sepotong buah apel. Biasanya dulu sebelum nge-gym saat sarapan saya bisa menghabiskan
sepiring nasi goreng bulat-bulat beserta lauk pauknya, mulai dari ayam goreng
dan kerupuk udang, atau sepiring nasi uduk ditemani dayang-dayangnya mulai dari
telur orak-arik, suwiran dada ayam, sambal tumis dan timun istilahnya nikmat
sarapan pagi mana lagi yang kamu ingkari. sedangkan untuk makan siangnya menu
seperti biasa hanya saja jumlah protein nabati dan hewani yang ditambah juga
proses memasaknya yang tidak boleh digoreng, jumlah nasi berkurang drastis serta
konsumsi garam dan gula yang di pangkas ke akar-akarnya, awalnya saya merasa “kok
menu makan saya kayak orang susah ya?”, menu makan malam tidak usah ditanya
terkadang saya hanya mengkonsumsi sayur tumis dan buah-buahan. Selama lebih
kurang satu tahunan saya menjalani pola hidup seperti ini, es krim yang jadi
kegemaran di sabtu dan minggu sore lenyap, belum-belum lagi saat kumpul dengan
teman-teman, saat mereka semua sibuk dengan menu makan siang mulai dari soto betawi, rawon, pindang ikan
patin sedang saya hanya bergelut dengan menu yang itu-itu saja no fries no
tumis-tumis. Pada saat pertengahan 2013 saya melakukan evaluasi terhadap pola
tersebut, pola itu tidak berjalan dengan baik di tubuh saya. Tubuh saya malah terlihat
terlalu tebal (padahal muka saya imut-imut) dan sangat bulky. Konsumsi susu Whey
pun tidak sejalan dengan pencernaan, tampaknya saya termasuk dari orang-orang
yang sensitif terhadap diary product.Akhirnya
setelah menimbang dan merenung seharian dengan lapang dada saya menghentikan
pola hidup seperti itu, tidak ada lagi pola gym seperti di atas, tidak ada lagi
menu-menu diet atau sehat, mungkin bagi Trainer
saya pola seperti itu tidak akan membuat badan mengalami over trained tapi siapa yang
tahu perkara badan orang lain, what works
to him doesn’t work properly to anybody else’s body then what works to anybody
else’s body can’t work well to my Trainer’s body. Tuhan telah menciptakan
badan manusia dengan keunikan, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tubuh
kita bukanlah Matematika yang menakar ini, menghitung itu. Tubuh hanya butuh
kamu makan sehat dan olahraga teratur. Benar jika untuk meningkatkan massa otot
harus latihan beban dan meningkatkan mengkonsumsi protein perhari tetapi semua
itu kembali lagi pada cara kerja tubuh dan rutinitas kita. Kenapa rutinitas
kita juga? Iya dong, kamu tidak hanya nge-gym saja bukan? Ada hal-hal lain dan
kegiatan lain yang kamu lakukan di luar nge-gym. Dengan menu diet/sehat seperti
yang saya jalani mungkin banyak orang yang sejalan dengan itu dan merasakan
manfaatnya tetapi tidak sedikit juga mereka yang merasa cepet lemas, dan bahkan
tidak bergairah akibat suplai kalori yang berkurang, hal ini jika dibiarkan
bukan tidak mungkin akan berpengaruh pada sistem daya tahan tubuh. Sekarang saya
tetap nge-gym dan ditambah dengan jogging
di sore hari. Menu seperti bakso, siomay ataupun es krim yang jadi kegemaran
disaat weekend dulu kini bisa
dinikmati kembali. Olahraga tetap menjadi sesuatu yang menyenangkan dan
mengasikkan. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi menghitung-hitung jumlah
protein yang masuk ataupun menghitung jumlah kalori yang telah terbakar, karena
saya percaya Badan bukanlah Matematika.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar