Menjadi seorang tour guide atau lebih
dikenal pemandu wisata kelihatannya sangat mengasikkan. Iya jadi ceritanya saya
punya teman yang bekerja sebagai pemandu wisata. Awalnya tugas ini digelutinya
sebagai hobi saja. Namun lama-kelamaan saya melihat ada keasyikan tersendiri
yang dirasakan teman saya, mulai dari liburan gratis dapet duit pula, bisa dapat teman dan relasi baru serta bisa menambah
pengalaman pastinya. Wah mengasyikan sekali bukan. Andai saja aku bisa jadi
pemandu wisata seperti temanku. Selang beberapa bulan kemudian sayapun di
tawari oleh teman untuk menggantikan dirinya memandu wisata di daerah saya,
tugas yang mungkin terlalu banyak namun waktu yang terbatas membuat teman saya tidak
bisa menghandle semua pekerjaan tersebut. Malam harinya sayapun di berikan
arahan tentang bagaimana menjadi pemandu wisata yang baik, bagaikan sedang
makan sup sayur di dalam mobil yang melewati jalan penuh lubang (lubang jalan
ya bukan lubang hutang) ilmu yang disampaikan teman saya pun hanya lewat saja,
atau yaah minimal benar-benar sedikit yang nyangkut di otak. Bayangkan saja
sudah memberikan penjelasan via telpon dan (sepertinya) teman saya menjelaskan
dalam keadaan terburu-buru pula, belum-belum lagi kapasitas otak saya yang
tidak lebih besar dari sebuah disket. Saya pun tidak menyerah begitu saja
selang teman saya menelpon, saya pun langsung membuka buku panduan tentang
sejarah-sejarah kota saya, Palembang. Mulai dari tempat bersejarah, tempat
pemakaman para leluhur dan juga (ini tidak boleh terlewatkan sama sekali)
kuliner khas Palembang yaitu rawon kikil, lho sudah berubah ya? Oh masih
Empek-empek rupanya. Pagi-pagi sekali barangkali ayampun masih tertidur pulas
dengan mimpi basahnya, teman saya menguhubungi saya kembali guna memastikan
kalau saya masih hidup dan siap menjalankan tugas dengan baik. Tepat pukul 6
pagi saya harus segera tiba di hotel Sriwijaya Palembang, yang jaraknya sekitar
35 menitan dari rumah saya (itu kalau ga macet lho. Aduuh segitu pentingnya
info ini). Bagus tepat setengah tujuh lewat pancoran saya sampai dengan selamat
di hotel tempat turis domestik ini menginap. Saya pun langsung menghubungi team
leader mereka. Setelah berkenalan dan bercuap-cuap ala kadarnya mas Beni yang
menjadi leader saya memberikan informasi kalau tamu kali ini berasal dari dinas
kebersihan kota Banten, Tangerang. Mendengar kata Banten saya jadi ingat si
koruptor yang tingkat malunya tidak tahu diri itu, tamu inipun (turis ini saya
sebutnya tamu saja ya biar ga ribet) berjumlah 15 orang. Mereka melakukan
kunjungan ke Palembang sebenarnya selama tiga hari namun dikarenakan hari kamis
mereka masih mengikuti sidang apel maka keberangkatan mereka ke Palembang di
tunda dan dikurang menjadi 2 hari saja. Tepat pukul setengah delapan tamu-tamu
pun sedang menikmati sarapannya, saya yang tadinya sudah sarapan dari rumah
juga ikut sarapan lagi (yaampun itu perut apa celengan semar), tamu-tamu inipun
sangat ramah sekali, saya tidak melihat wajah-wajah songong ataupun sombong
dari paras mereka, padahal mereka semua sudah PNS dengan golongan yang tinggi.
Setelah sarapan kamipun beranjak kedalam bus, leader saya mengomandoi dan
memastikan kalau mereka semua yang berjumlah 15 ekor eh orang sudah berada
dalam bus, setelah lagi dirasa cukup leader saya pun memberikan aba-aba untuk
segera membuka presentasi perjalanan. Rasa gugup benar-benar mendera saya saat
itu, saking nervous-nya saya rasanya ingin pura-pura pingsan dan segera di
pulangkan kerumah, namun dengan kegigihan hati dan tekad untuk menambah
pengalaman dan tentunya mencari uang sendiri saya pun dengan (mencoba) santai
menyapa mereka “ selamat pagi bapak-bapak, Ibu-ibu! “ (Gubraaak, loe pikir ini
acara sunatan di kampung! Ga ada yang lebih garing apa?). setelah memastikan
mereka benar-benar attached dengan
kehadiran saya, saya pun mulai menjelaskan sejarah kota Palembang secara
singkat sambil kadang-kadang saya selipkan bahasa-bahasa Sunda guna untuk
mengakrabkan diri, namun disaat itu juga sebagian dari mereka malah berkata
“Mas,asli Sunda ya?” “Bukan Pak, kenapa emang?” “kok Sunda nya tok-tok banget”
kami semua di bus pun tertawa dan sialnya si supir bus kami yang memang jarak
duduknya dengan saya berdekatan memberikan celetukan “makanya mas, pakai bahasa
Palembang saja terus panggil mereka jangan buk/pak, tetapi panggil mangcek (untuk
pria) dan bicek (untuk wanita) sajalah!” saya merasa bersalah dan kelihatan
kurang kompeten dimata tamu ini, padahal saya pikir si supir ini kan bisa
bisik-bisik saja ngomong masalah tadi. But
yeaah The show must go on setelah
menempuh perjalanan lebih kurang 1 jam setengah kamipun sampai di dinas
kebersihan kota Palembang, rupanya jadwal kunjungan pertama mereka adalah
semacam raker.
Setelah menunggu berjam-jam acarapun
dilanjutkan solat Jum’at, baru saja diri ini ingin bersandar pada tiang di masjid
salah satu tamu saya kehilangan dompet, dia pun kelihatan kebingungan tapi juga
menyakini kalau dompetnya tertinggal di tempat raker tadi, saya pikir mana
mungkin kembali lagi ke dinas kebersihan menggunakan bus, mana jarak mesjid dan
kantor dinas itu lumayan jauh namun apa boleh buat sebagai pemandu wisata saya
harus bertanggung jawab dengan pekerjaan saya, untung saja taksi yang ditunggu
datang, kamipun langsung meluncur ke TKP. Entah apa yang membuat supir taksi
ini begitu lelet mengedarai delmannya eh mobilnya saya pun memintanya untuk
mempercepat laju singkat cerita dompet yang hilang pun ketemu, wajah sumringah
terpancar jelas dari tamu saya yang kehilangan dompet, ah leganya bisa membantu
sesama, waktu telah menunjukkan pukul 12 lewat saya sudah pesimis akan
tertinggal solat Jum’at namun niat baik memang berbuah manis, tepat saat komad
solat berkumandang kamipun tiba di masjid sebelumnya, taksi ini benar-benar
handal, untung saja solat Jum’at saat itu tidak terlewatkan. Alhamdulillah ...
Matahari sudah terlihat pas di atas kepala kami hari terasa begitu panas, jam
menunjukkan tepat pukul satu siang perut kamipun sudah mulai keroncongan, saya
bersama rombonganpun bergegas menuju tempat makan yang telah di booked
sebelumnya. Asal tau saja ya, proses pemesanan tempat makan ini
(tentunya beserta makannya ya) tidak semudah memesan semangkung soto dipinggir
jalan/secangkir es dawet. Owner
restoran yang kurang cekatan saat melayani via telpon ditambah lagi leader kami
yang tidak cepat memberikan keputusan soal makanan mana yang akan dipesanpun
membuat makan siang ini terasa lama, leader kami tidak hanya bertugas mengatur
menu, dia juga bertugas memikirkan budget yang akan di keluarkan, bisa tekor kalau makanan yang dipesan tidak
sesuai dengan budget yang ada di dompet. Menu makan siang kami tidak jauh dari
menu khas Palembang, bukan pempek ya (masa iya perut lagi ‘kosong’ dibiarkan
makan pempek dan cuka yang pedasnya tingkat paripurna itu. Oh ya, umumnya rasa
cuka pempek di Palembang ini jauh lebih pedas daripada cuka pempek yang di jual
di kota-kota lain) melainkan pindang ikan patin beserta lalap-lalapannya. Para
tamupun terlihat senang sekali menyantap menu tersebut bahkan di antara mereka
ada yang nambah. Saya bersama leader dan supir bus pun makan di meja yang lain,
disana leader yang umurnya jauh lebih dewasa dari saya memberikan pengalaman
dan nasehat tentang susahnya menjadi seorang leader. Dia bilang bahwa makanan
yang dipesan ini harganya pasti udah keluar dari budget belum-belum lagi
setengah orang dari rombongan rata-rata minta tambah makanan dan minuman. Namun
leader kami harus tetap profesional, dia harus menunjukkan sikap yang loyal
biarpun rugi sedikit tidak mengapa asal nama agen travel miliknya tetap bagus
di mata para konsumen. (Hmm... mungkin bukan rugi ya melainkan keuntungan
berkurang). Selepas makan siang inipun kami langsung beranjak menuju Al-Quran
terbesar di Asia. Konon katanya Al-Quran yang akan kami kunjungi ini sudah
tersohor hingga ke lebih dari 50 negara seluruh dunia lho (wow, Go
internasional dong?!) jarak tempuh yang dibutuhkan dari restoran menuju
destinasi Al-Quran terbesar itupun sekitar 1 jam lebih hal ini dikarenakan
lokasinya yang bisa dibilang terpencil. (kok bisa tempat wisata rohani seperti
ini bisa begitu terpencil dari pusat kota,entahlah. Mungkin biar khusuk kali
ya). Sembari melakukan perjalanan saya pun mulai mengoceh lagi tentang segala heritage yang ada di Palembang, mulai
dari rumah adat, pakaian adat sampai dengan ritual-ritual upacara khas yang ada
di kota Palembang. Dengan sangat terasa akhirnya kamipun tiba di Al-Quran
terbesar ini, pemandangan yang kami lihat mampu menghapus semua rasa penat dan
bosan kami saat di bus. Saya dan rombongan pun tidak melewatkan kesempatan ini
untuk sekadar berfoto-foto.
Desain Al-Quran terbesar ini unik sekali, perpaduan ukiran kuningan khas Palembang ditambah pilar-pilar besar berwarna merah khas Cina sebagai penyanggah kemudian adanya kolam ikan hias tepat di depan Al-Quran dan tanaman-tanaman hias yang hijau nan lebat membuat pemandangan ini begitu sayang bila di tinggalkan, sayang hari sudah beranjak sore kamipun harus segera enyah dari sini dan menuju ke destinasi berikutnya. Perjalanan dilanjutkan menuju lapangan sepak bola Gelora Sriwijaya Jakabaring yang juga pernah dijadikan tempat opening, pertandingan sepak bola dan closing dari Sea Games ke 26th dan juga ISG ke 3rd, lokasinya lumayan jauh, bahkan perkiraan saya akan memakan waktu sampai 2 jam lebih karena mengingat hari sudah pukul setengah lima sore itu artinya para karyawan sudah pada bubar dari kantor dan tumpah ruah di jalan, sesekali kami pun berkelakar ringan, tidak ada bahasan-bahasan lain yang bisa saya sampaikan, rasanya semua bahan cerita sejarah Palembang sudah saya khatamkan. Akhirnya untuk sekadar membunuh waktu kamipun berkaroke ria, dangdut adalah pilihan utama dari para tamu-tamu ini. Sesampainya di lapangan sepak bola Jakabaring mereka semua hanya sibuk berfoto-foto saja, mungkin dipikirnya kapan lagi sih bisa foto di lapangan sepak bola yang menjadi tempat pertandingan Sea games ini. Berfoto, tertawa dan bahkan salah satu dari mereka ada yang berkejar-kejaran karena ada beberapa bapak-bapak yang suka jahil dengan ibu-ibu, sungguh lucu tingkah mereka, mereka seperti tidak berusia 40 atau 50 tahun, senang juga melihat pemandangan tersebut, senang karena mereka bisa merasa ‘lepas’ dari beban pekerjaan yang mungkin hampir setiap hari mendera mereka.
Sebentar lagi matahari akan segera tenggelam, kami harus segera sampai ke destinasi berikutnya yaitu Benteng Kuto Besak (BKB) yang jarak tempuhnya sekitar 30 menitan. Kalian para pembaca mungkin bertanya apa sih BKB, BKB adalah keraton pusat Kesultanan Palembang Darussalam, sebagai pusat kekuasaan tradisional yang mengalami proses perubahan dari zaman madya menuju zaman baru di abad ke-19. Pengertian Kuto di sini berasal dari kata Sanskerta, yang berarti: Kota, puri, benteng. Dewasa ini BKB dijadikan tempat wisata rekreasi bahkan lokasi BKB yang di aliri oleh sungai musi menjadikan tempat ini juga sebagai wisata air, ditambah lagi jaraknya yang pas menghadap ke jempatan Ampera membuat pemandangan yang ditawarkan semakin indah, apalagi saat sore dan menjelang malam, sekadar menikmati pemandangan matahari yang tenggelam (sunset) ataupun sekadar duduk santai ngobrol bersama teman-teman. Selain itu di BKB ini juga banyak sekali ditemukan pedagang kali lima yang menjajakan makanan khas Palembang seperti empek-empek, kelempang ikan, dan yang paling terkenal disini adalah mie tek-tek nya (jangan salah baca ya hihih). Para tamu saya pun tidak melewatkan kesempatan ini, berfoto adalah agenda wajib (sepertinya) yang mereka lakukan, saya dan leader saya (si supir syukur deh ga ikutan nimbrung!) hanya memandangi mereka sembari tersenyum. Saya sempat bertanya dengan leader saya “bagaimana mas kinerja saya hari ini?” sambil tersenyum “bagus..” “beneran bagus?” dia tersenyum lagi “kamu bagus kok sebagai pemula. Kamu hanya kurang bisa memberikan gambaran yang ‘wah’ tentang sesuatu sejarah yang kamu jelaskan, tapi sudahlah, pengalaman akan banyak mengajarimu. Butuh kebesaran hati yang luar biasa untuk menerima kritik dan belajar kembali. Kamu memiliki jiwa yang besar Wan, karena memang kamu maunya di kritik”. Haripun sudah malam tugas saya hampir selesai di hari pertama ini, sebelum pulang ke hotel kami pun makan malam. Banyak hal-hal menarik yang aku dapatkan dari pengalaman hari ini dan tentunya dari leader ku. Setelah makan kamipun kembali ke hotel, saat di jalan menuju hotel saya sempat menawarkan para tamu yang ingin memesan empek-empek sebagai buah tangan. Hari sudah pukul 10 malam, para tamu sudah kembali kekamar masing-masing sedang saya pulang ke rumah, namun sebelumnya saya masih harus mengantarkan catatan pesanan empek-empek ini ke pusat oleh-oleh di kota kami, agar besok tidak payah menunggu. Tuntas sudah tugasku di hari pertama ini, masih ada satu hari lagi. Hmm.. rasanya aku ingin lekas bertemu besok melihat sang mentari bersinar kembali dan melihat senyum manis dari para tamu-tamuku itu. Kira-kira pelajaran apa lagi ya yang akan aku alami besok? (bersambung)
Desain Al-Quran terbesar ini unik sekali, perpaduan ukiran kuningan khas Palembang ditambah pilar-pilar besar berwarna merah khas Cina sebagai penyanggah kemudian adanya kolam ikan hias tepat di depan Al-Quran dan tanaman-tanaman hias yang hijau nan lebat membuat pemandangan ini begitu sayang bila di tinggalkan, sayang hari sudah beranjak sore kamipun harus segera enyah dari sini dan menuju ke destinasi berikutnya. Perjalanan dilanjutkan menuju lapangan sepak bola Gelora Sriwijaya Jakabaring yang juga pernah dijadikan tempat opening, pertandingan sepak bola dan closing dari Sea Games ke 26th dan juga ISG ke 3rd, lokasinya lumayan jauh, bahkan perkiraan saya akan memakan waktu sampai 2 jam lebih karena mengingat hari sudah pukul setengah lima sore itu artinya para karyawan sudah pada bubar dari kantor dan tumpah ruah di jalan, sesekali kami pun berkelakar ringan, tidak ada bahasan-bahasan lain yang bisa saya sampaikan, rasanya semua bahan cerita sejarah Palembang sudah saya khatamkan. Akhirnya untuk sekadar membunuh waktu kamipun berkaroke ria, dangdut adalah pilihan utama dari para tamu-tamu ini. Sesampainya di lapangan sepak bola Jakabaring mereka semua hanya sibuk berfoto-foto saja, mungkin dipikirnya kapan lagi sih bisa foto di lapangan sepak bola yang menjadi tempat pertandingan Sea games ini. Berfoto, tertawa dan bahkan salah satu dari mereka ada yang berkejar-kejaran karena ada beberapa bapak-bapak yang suka jahil dengan ibu-ibu, sungguh lucu tingkah mereka, mereka seperti tidak berusia 40 atau 50 tahun, senang juga melihat pemandangan tersebut, senang karena mereka bisa merasa ‘lepas’ dari beban pekerjaan yang mungkin hampir setiap hari mendera mereka.
Sebentar lagi matahari akan segera tenggelam, kami harus segera sampai ke destinasi berikutnya yaitu Benteng Kuto Besak (BKB) yang jarak tempuhnya sekitar 30 menitan. Kalian para pembaca mungkin bertanya apa sih BKB, BKB adalah keraton pusat Kesultanan Palembang Darussalam, sebagai pusat kekuasaan tradisional yang mengalami proses perubahan dari zaman madya menuju zaman baru di abad ke-19. Pengertian Kuto di sini berasal dari kata Sanskerta, yang berarti: Kota, puri, benteng. Dewasa ini BKB dijadikan tempat wisata rekreasi bahkan lokasi BKB yang di aliri oleh sungai musi menjadikan tempat ini juga sebagai wisata air, ditambah lagi jaraknya yang pas menghadap ke jempatan Ampera membuat pemandangan yang ditawarkan semakin indah, apalagi saat sore dan menjelang malam, sekadar menikmati pemandangan matahari yang tenggelam (sunset) ataupun sekadar duduk santai ngobrol bersama teman-teman. Selain itu di BKB ini juga banyak sekali ditemukan pedagang kali lima yang menjajakan makanan khas Palembang seperti empek-empek, kelempang ikan, dan yang paling terkenal disini adalah mie tek-tek nya (jangan salah baca ya hihih). Para tamu saya pun tidak melewatkan kesempatan ini, berfoto adalah agenda wajib (sepertinya) yang mereka lakukan, saya dan leader saya (si supir syukur deh ga ikutan nimbrung!) hanya memandangi mereka sembari tersenyum. Saya sempat bertanya dengan leader saya “bagaimana mas kinerja saya hari ini?” sambil tersenyum “bagus..” “beneran bagus?” dia tersenyum lagi “kamu bagus kok sebagai pemula. Kamu hanya kurang bisa memberikan gambaran yang ‘wah’ tentang sesuatu sejarah yang kamu jelaskan, tapi sudahlah, pengalaman akan banyak mengajarimu. Butuh kebesaran hati yang luar biasa untuk menerima kritik dan belajar kembali. Kamu memiliki jiwa yang besar Wan, karena memang kamu maunya di kritik”. Haripun sudah malam tugas saya hampir selesai di hari pertama ini, sebelum pulang ke hotel kami pun makan malam. Banyak hal-hal menarik yang aku dapatkan dari pengalaman hari ini dan tentunya dari leader ku. Setelah makan kamipun kembali ke hotel, saat di jalan menuju hotel saya sempat menawarkan para tamu yang ingin memesan empek-empek sebagai buah tangan. Hari sudah pukul 10 malam, para tamu sudah kembali kekamar masing-masing sedang saya pulang ke rumah, namun sebelumnya saya masih harus mengantarkan catatan pesanan empek-empek ini ke pusat oleh-oleh di kota kami, agar besok tidak payah menunggu. Tuntas sudah tugasku di hari pertama ini, masih ada satu hari lagi. Hmm.. rasanya aku ingin lekas bertemu besok melihat sang mentari bersinar kembali dan melihat senyum manis dari para tamu-tamuku itu. Kira-kira pelajaran apa lagi ya yang akan aku alami besok? (bersambung)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar