Senin, 09 Juni 2014

Menyemplung di dunia baru (Menjadi Tour Guide Part I)

Menjadi seorang tour guide atau lebih dikenal pemandu wisata kelihatannya sangat mengasikkan. Iya jadi ceritanya saya punya teman yang bekerja sebagai pemandu wisata. Awalnya tugas ini digelutinya sebagai hobi saja. Namun lama-kelamaan saya melihat ada keasyikan tersendiri yang dirasakan teman saya, mulai dari liburan gratis dapet duit pula, bisa dapat teman dan relasi baru serta bisa menambah pengalaman pastinya. Wah mengasyikan sekali bukan. Andai saja aku bisa jadi pemandu wisata seperti temanku. Selang beberapa bulan kemudian sayapun di tawari oleh teman untuk menggantikan dirinya memandu wisata di daerah saya, tugas yang mungkin terlalu banyak namun waktu yang terbatas membuat teman saya tidak bisa menghandle semua pekerjaan tersebut. Malam harinya sayapun di berikan arahan tentang bagaimana menjadi pemandu wisata yang baik, bagaikan sedang makan sup sayur di dalam mobil yang melewati jalan penuh lubang (lubang jalan ya bukan lubang hutang) ilmu yang disampaikan teman saya pun hanya lewat saja, atau yaah minimal benar-benar sedikit yang nyangkut di otak. Bayangkan saja sudah memberikan penjelasan via telpon dan (sepertinya) teman saya menjelaskan dalam keadaan terburu-buru pula, belum-belum lagi kapasitas otak saya yang tidak lebih besar dari sebuah disket. Saya pun tidak menyerah begitu saja selang teman saya menelpon, saya pun langsung membuka buku panduan tentang sejarah-sejarah kota saya, Palembang. Mulai dari tempat bersejarah, tempat pemakaman para leluhur dan juga (ini tidak boleh terlewatkan sama sekali) kuliner khas Palembang yaitu rawon kikil, lho sudah berubah ya? Oh masih Empek-empek rupanya. Pagi-pagi sekali barangkali ayampun masih tertidur pulas dengan mimpi basahnya, teman saya menguhubungi saya kembali guna memastikan kalau saya masih hidup dan siap menjalankan tugas dengan baik. Tepat pukul 6 pagi saya harus segera tiba di hotel Sriwijaya Palembang, yang jaraknya sekitar 35 menitan dari rumah saya (itu kalau ga macet lho. Aduuh segitu pentingnya info ini). Bagus tepat setengah tujuh lewat pancoran saya sampai dengan selamat di hotel tempat turis domestik ini menginap. Saya pun langsung menghubungi team leader mereka. Setelah berkenalan dan bercuap-cuap ala kadarnya mas Beni yang menjadi leader saya memberikan informasi kalau tamu kali ini berasal dari dinas kebersihan kota Banten, Tangerang. Mendengar kata Banten saya jadi ingat si koruptor yang tingkat malunya tidak tahu diri itu, tamu inipun (turis ini saya sebutnya tamu saja ya biar ga ribet) berjumlah 15 orang. Mereka melakukan kunjungan ke Palembang sebenarnya selama tiga hari namun dikarenakan hari kamis mereka masih mengikuti sidang apel maka keberangkatan mereka ke Palembang di tunda dan dikurang menjadi 2 hari saja. Tepat pukul setengah delapan tamu-tamu pun sedang menikmati sarapannya, saya yang tadinya sudah sarapan dari rumah juga ikut sarapan lagi (yaampun itu perut apa celengan semar), tamu-tamu inipun sangat ramah sekali, saya tidak melihat wajah-wajah songong ataupun sombong dari paras mereka, padahal mereka semua sudah PNS dengan golongan yang tinggi. Setelah sarapan kamipun beranjak kedalam bus, leader saya mengomandoi dan memastikan kalau mereka semua yang berjumlah 15 ekor eh orang sudah berada dalam bus, setelah lagi dirasa cukup leader saya pun memberikan aba-aba untuk segera membuka presentasi perjalanan. Rasa gugup benar-benar mendera saya saat itu, saking nervous-nya saya rasanya ingin pura-pura pingsan dan segera di pulangkan kerumah, namun dengan kegigihan hati dan tekad untuk menambah pengalaman dan tentunya mencari uang sendiri saya pun dengan (mencoba) santai menyapa mereka “ selamat pagi bapak-bapak, Ibu-ibu! “ (Gubraaak, loe pikir ini acara sunatan di kampung! Ga ada yang lebih garing apa?). setelah memastikan mereka benar-benar attached dengan kehadiran saya, saya pun mulai menjelaskan sejarah kota Palembang secara singkat sambil kadang-kadang saya selipkan bahasa-bahasa Sunda guna untuk mengakrabkan diri, namun disaat itu juga sebagian dari mereka malah berkata “Mas,asli Sunda ya?” “Bukan Pak, kenapa emang?” “kok Sunda nya tok-tok banget” kami semua di bus pun tertawa dan sialnya si supir bus kami yang memang jarak duduknya dengan saya berdekatan memberikan celetukan “makanya mas, pakai bahasa Palembang saja terus panggil mereka jangan buk/pak, tetapi panggil mangcek (untuk pria) dan bicek (untuk wanita) sajalah!” saya merasa bersalah dan kelihatan kurang kompeten dimata tamu ini, padahal saya pikir si supir ini kan bisa bisik-bisik saja ngomong masalah tadi. But yeaah The show must go on setelah menempuh perjalanan lebih kurang 1 jam setengah kamipun sampai di dinas kebersihan kota Palembang, rupanya jadwal kunjungan pertama mereka adalah semacam raker. 


Setelah menunggu berjam-jam acarapun dilanjutkan solat Jum’at, baru saja diri ini ingin bersandar pada tiang di masjid salah satu tamu saya kehilangan dompet, dia pun kelihatan kebingungan tapi juga menyakini kalau dompetnya tertinggal di tempat raker tadi, saya pikir mana mungkin kembali lagi ke dinas kebersihan menggunakan bus, mana jarak mesjid dan kantor dinas itu lumayan jauh namun apa boleh buat sebagai pemandu wisata saya harus bertanggung jawab dengan pekerjaan saya, untung saja taksi yang ditunggu datang, kamipun langsung meluncur ke TKP. Entah apa yang membuat supir taksi ini begitu lelet mengedarai delmannya eh mobilnya saya pun memintanya untuk mempercepat laju singkat cerita dompet yang hilang pun ketemu, wajah sumringah terpancar jelas dari tamu saya yang kehilangan dompet, ah leganya bisa membantu sesama, waktu telah menunjukkan pukul 12 lewat saya sudah pesimis akan tertinggal solat Jum’at namun niat baik memang berbuah manis, tepat saat komad solat berkumandang kamipun tiba di masjid sebelumnya, taksi ini benar-benar handal, untung saja solat Jum’at saat itu tidak terlewatkan. Alhamdulillah ... Matahari sudah terlihat pas di atas kepala kami hari terasa begitu panas, jam menunjukkan tepat pukul satu siang perut kamipun sudah mulai keroncongan, saya bersama rombonganpun bergegas menuju tempat makan yang telah di booked  sebelumnya. Asal tau saja ya, proses pemesanan tempat makan ini (tentunya beserta makannya ya) tidak semudah memesan semangkung soto dipinggir jalan/secangkir es dawet. Owner restoran yang kurang cekatan saat melayani via telpon ditambah lagi leader kami yang tidak cepat memberikan keputusan soal makanan mana yang akan dipesanpun membuat makan siang ini terasa lama, leader kami tidak hanya bertugas mengatur menu, dia juga bertugas memikirkan budget yang akan di keluarkan, bisa tekor kalau makanan yang dipesan tidak sesuai dengan budget yang ada di dompet. Menu makan siang kami tidak jauh dari menu khas Palembang, bukan pempek ya (masa iya perut lagi ‘kosong’ dibiarkan makan pempek dan cuka yang pedasnya tingkat paripurna itu. Oh ya, umumnya rasa cuka pempek di Palembang ini jauh lebih pedas daripada cuka pempek yang di jual di kota-kota lain) melainkan pindang ikan patin beserta lalap-lalapannya. Para tamupun terlihat senang sekali menyantap menu tersebut bahkan di antara mereka ada yang nambah. Saya bersama leader dan supir bus pun makan di meja yang lain, disana leader yang umurnya jauh lebih dewasa dari saya memberikan pengalaman dan nasehat tentang susahnya menjadi seorang leader. Dia bilang bahwa makanan yang dipesan ini harganya pasti udah keluar dari budget belum-belum lagi setengah orang dari rombongan rata-rata minta tambah makanan dan minuman. Namun leader kami harus tetap profesional, dia harus menunjukkan sikap yang loyal biarpun rugi sedikit tidak mengapa asal nama agen travel miliknya tetap bagus di mata para konsumen. (Hmm... mungkin bukan rugi ya melainkan keuntungan berkurang). Selepas makan siang inipun kami langsung beranjak menuju Al-Quran terbesar di Asia. Konon katanya Al-Quran yang akan kami kunjungi ini sudah tersohor hingga ke lebih dari 50 negara seluruh dunia lho (wow, Go internasional dong?!) jarak tempuh yang dibutuhkan dari restoran menuju destinasi Al-Quran terbesar itupun sekitar 1 jam lebih hal ini dikarenakan lokasinya yang bisa dibilang terpencil. (kok bisa tempat wisata rohani seperti ini bisa begitu terpencil dari pusat kota,entahlah. Mungkin biar khusuk kali ya). Sembari melakukan perjalanan saya pun mulai mengoceh lagi tentang segala heritage yang ada di Palembang, mulai dari rumah adat, pakaian adat sampai dengan ritual-ritual upacara khas yang ada di kota Palembang. Dengan sangat terasa akhirnya kamipun tiba di Al-Quran terbesar ini, pemandangan yang kami lihat mampu menghapus semua rasa penat dan bosan kami saat di bus. Saya dan rombongan pun tidak melewatkan kesempatan ini untuk sekadar berfoto-foto.
   Desain Al-Quran terbesar ini unik sekali, perpaduan ukiran kuningan khas Palembang ditambah pilar-pilar besar berwarna merah khas Cina sebagai penyanggah kemudian adanya kolam ikan hias tepat di depan Al-Quran dan tanaman-tanaman hias yang hijau nan lebat membuat pemandangan ini begitu sayang bila di tinggalkan, sayang hari sudah beranjak sore kamipun harus segera enyah dari sini dan menuju ke destinasi berikutnya. Perjalanan dilanjutkan menuju lapangan sepak bola Gelora Sriwijaya Jakabaring yang juga pernah dijadikan tempat opening, pertandingan sepak bola dan closing dari Sea Games ke 26th dan juga ISG ke 3rd, lokasinya lumayan jauh, bahkan perkiraan saya akan memakan waktu sampai 2 jam lebih karena mengingat hari sudah pukul setengah lima sore itu artinya para karyawan sudah pada bubar dari kantor dan tumpah ruah di jalan, sesekali kami pun berkelakar ringan, tidak ada bahasan-bahasan lain yang bisa saya sampaikan, rasanya semua bahan cerita sejarah Palembang sudah saya khatamkan. Akhirnya untuk sekadar membunuh waktu kamipun berkaroke ria, dangdut adalah pilihan utama dari para tamu-tamu ini. Sesampainya di lapangan sepak bola Jakabaring mereka semua hanya sibuk berfoto-foto saja, mungkin dipikirnya kapan lagi sih bisa foto di lapangan sepak bola yang menjadi tempat pertandingan Sea games ini. Berfoto, tertawa dan bahkan salah satu dari mereka ada yang berkejar-kejaran karena ada beberapa bapak-bapak  yang suka jahil dengan ibu-ibu, sungguh lucu tingkah mereka, mereka seperti tidak berusia 40 atau 50 tahun, senang juga melihat pemandangan tersebut, senang karena mereka bisa merasa ‘lepas’ dari beban pekerjaan yang mungkin hampir setiap hari mendera mereka.




   Sebentar lagi matahari akan segera tenggelam, kami harus segera sampai ke destinasi berikutnya yaitu Benteng Kuto Besak (BKB) yang jarak tempuhnya sekitar 30 menitan. Kalian para pembaca mungkin bertanya apa sih BKB, BKB adalah keraton pusat Kesultanan Palembang Darussalam, sebagai pusat kekuasaan tradisional yang mengalami proses perubahan dari zaman madya menuju zaman baru di abad ke-19. Pengertian Kuto di sini berasal dari kata Sanskerta, yang berarti: Kota, puri, benteng. Dewasa ini BKB dijadikan tempat wisata rekreasi bahkan lokasi BKB yang di aliri oleh sungai musi menjadikan tempat ini juga sebagai wisata air, ditambah lagi jaraknya yang pas menghadap ke jempatan Ampera membuat pemandangan yang ditawarkan semakin indah, apalagi saat sore dan menjelang malam, sekadar menikmati pemandangan matahari yang tenggelam (sunset) ataupun sekadar duduk santai ngobrol bersama teman-teman. Selain itu di BKB ini juga banyak sekali ditemukan pedagang kali lima yang menjajakan makanan khas Palembang seperti empek-empek, kelempang ikan, dan yang paling terkenal disini adalah mie tek-tek nya (jangan salah baca ya hihih). Para tamu saya pun tidak melewatkan kesempatan ini, berfoto adalah agenda wajib (sepertinya) yang mereka lakukan, saya dan leader saya (si supir syukur deh ga ikutan nimbrung!) hanya memandangi mereka sembari tersenyum. Saya sempat bertanya dengan leader saya “bagaimana mas kinerja saya hari ini?” sambil tersenyum “bagus..” “beneran bagus?” dia tersenyum lagi “kamu bagus kok sebagai pemula. Kamu hanya kurang bisa memberikan gambaran yang ‘wah’ tentang sesuatu sejarah yang kamu jelaskan, tapi sudahlah, pengalaman akan banyak mengajarimu. Butuh kebesaran hati yang luar biasa untuk menerima kritik dan belajar kembali. Kamu memiliki jiwa yang besar Wan, karena memang kamu maunya di kritik”. Haripun sudah malam tugas saya hampir selesai di hari pertama ini, sebelum pulang ke hotel kami pun makan malam.  Banyak hal-hal menarik yang aku dapatkan dari pengalaman hari ini dan tentunya dari leader ku. Setelah makan kamipun kembali ke hotel, saat di jalan menuju hotel saya sempat menawarkan para tamu yang ingin memesan empek-empek sebagai buah tangan. Hari sudah pukul 10 malam, para tamu sudah kembali kekamar masing-masing sedang saya pulang ke rumah, namun sebelumnya saya masih harus mengantarkan catatan pesanan empek-empek ini ke pusat oleh-oleh di kota kami, agar besok tidak payah menunggu. Tuntas sudah tugasku di hari pertama ini, masih ada satu hari lagi. Hmm.. rasanya aku ingin lekas bertemu besok melihat sang mentari bersinar kembali dan melihat senyum manis dari para tamu-tamuku itu. Kira-kira pelajaran apa lagi ya yang akan aku alami besok? (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar