Kesempatan di ISG 2013
Bergaul dengan
bule bukan hal yang baru buat saya (weeeks, gaya banget ! Biarin!). Sejak
saya duduk di bangku kuliah semester pertama saya sudah menjadi salah satu
siswa di tempat kursus bahasa inggris yang guru-gurunya kebanyakan bule. Mereka
kebanyakan datang dari Australia. Yaaah, bule-bule Australia ini awalnya
membuat saya amazed sekali tapi kikuk juga, apalagi saat
mendengar mereka berbicara. Aksen Inggris mereka terkadang membuat saya salah
kamprah. Setelah dari tempat kursus itu saya pun berlabu ketempat kursus yang
lain, yang lagi-lagi bule-bule semua yang jadi coach-nya. Tapi kali ini saya
merasa lebih beruntung karena mereka semua berasal dari Amerika Serikat ( yess
Go Internasional dong kayak Agnez mo? LOL) setiap percakapan yang terjadi
begitu mengalir bagaikan riak-riak air disungai dikelilingi rimbunan
pohon-pohon pinus yang lebat. Mulai dari membahas berapa harga sewa apartement
di Amerika pertahun sampai tanya-tanya harga cabai di swalayan Amerika. Baiklah
itu semua hanya sedikit appetizer, maaf kalau kepanjangan toh pak SBY aja kalau
celoteh suka kepanjangan toh?. Tepat bulan September 2013 diadakan kejuaraan
atau mungkin pertadingan persahabatan antar negara Islam lebih tepatnya di kota
saya, Palembang. Yah kalau kalian pernah mendengar Islamic Solidarity Games
(ISG) maka itulah pertandingan yang saya maksudkan. Awalnya terlintas dibenak
saya akan banyak sekali bule-bule asing selama sepekan di sini, walaupun
mungkin sih sebagian dari mereka juga memiliki kemampuan bahasa inggris payah
tapi why not, why can I judge them without know them well? Sempat juga
terlintas di benak saya andai dinas budaya Palembang ini menghubungiku dan
memintaku untuk menjadi bagian kepanitiaan acara ini, masa iya saya yang salah
satu duta kebudayaan Palembang malah tidak mengajak saya sama sekali,
terpujilah mereka! Waktu terus merangkak menuju hari H, harapan itu kini kian
pupus, “good bye bule, good bye ISG...” seraya melambaikan tangan ke poster ISG
2013 di jalanan yang besarnya mengalahkan tembok raksasa Cina, yaampun segitu snobbish nya saya dengan bule, aslinya enggak
kok, beneran! . Tiba-tiba di sore hari yang panasnya minta lagi telpon genggam
saya berdering, dan tebak ternyata pihak dinas budaya menghubungi saya, salah
satu karyawan di sana meminta saya untuk menjadi Lianson Official (LO)
mereka pada saat gala opening dinner ISG 2013 yang tepat jatuh satu hari
sebelum opening pertandingan ISG tersebut. Rasa bahagia tak terbendung lagi,
mimpi untuk bisa menjadi bagian dari acara yang mungkin saja baru 5-10 tahun
digelar lagi di Indonesia khususnya Palembang menjadi tuan rumah akhirnya terwujud.
Semua data diri sampai harga diri dipersiapkan guna memenuhi syarat-syarat yang
saya juga tidak mengerti untuk apa gerangan. Beberapa teman-teman saya yang
tergabung di Duta budaya Palembang pun di ajak bertugas, dan juga ada
teman-teman Bujang Gadis Palembang (kalau di Jakarta semisal Abang dan None)
pun ikut nyempung (nyemplung? Berenang maksud loe?).Tepat pada saat hari H kami bertugas, lebih kurang 5 jam
sebelumnya kami sudah di briefing tentang rundown acara. Acara gala Opening Dinner ISG
2013 pun dimulai, suasana di dalam gedung membuat saya gugup dan juga
kelaparan, benar! Saya kelaparan lho. Bayangkan saja itu acara dinner yang
dipenuhi dengan makanan-makanan mulai dari makanan khas Palembang sampai
makanan-makanan yang aku sendiri tidak tahu namanya. Saat itu tepat jam 6
malam, gedung masih terlihat dan terasa sepi, mungkin bule-bule ataupun para
Duta besar dari masing-masing negara masih siap-siap atau mungkin mereka masih
mandi susu. Who knows kan?.
Setelah berjam-jam menunggu para bule-bule pun terlihat, mulai dari Turkey,
Iran sampai Arab Saudi. Aksen bahasa inggris mereka lucu-lucu sekali, mungkin
hal ini dikarenakan bahasa ibu mereka yang bukan bahasa Inggris, but that’s not
matter, at least I can make friends with all of them. Tidak hanya aksen dan
ekspresi mereka saat berbicara bahasa Inggris yang lucu, tingkah mereka pun
bisa di bilang konyol dan mungkin uhuuk tidak sopan. Misalnya salah satu bule
(tidak perlu saya sebutkan nama negara asalnya ya) mencoba berkenalan dengan
mengedipkan mata dan hal-hal lain yang agak tidak sopan yang juga rupanya
dialami teman-temanku yang lain. Sebenarnya kalau bule/atlit yang mengedikpakan
mata adalah perempuan sih oke, tapi ini pria lho, saya sempet mikir ini
bule-bule mau jadi ekspatriat apa mau jadi jablay ya
di Indonesia? Lupakan karena bule-bule lain jauh lebih sopan dan friendly. Sebagai bagian dari acara Dinner saat itu saya dan teman di
tugaskan berdiri di dekat pintu masuk guna mengantarkan mereka menuju meja
makan sesuai negara masing-masing. Tepat pukul setengah delapan malam, acara
pun dibuka dengan penampilan artis ibu kota yang entah saya pun tidak tahu
namanya, saya pun akhirnya lebih memilih bertugas menyambut para duta besar.
Tidak ada alasan spesifik sih sampai akhirnya saya lebih memilih menyambut dan
mempersilahkan para Duta besar tersebut tetapi hanya lebih ke bahasa Inggris
saja, para Dubes ini rata-rata lancar sekali berbahasa inggris mungkin hal ini
dikarenakan tugas mereka sebagai duta yang sering bertemu dengan duta negara
lain yang kebetulan memakai bahasa Inggris sebagai bahasa resmi mereka. Acara
sungguh meriah para atlet-atlet yang berasal dari negara-negara arab sekitar 44
negara memenuhi gedung itu, bisa di bayangkan betapa ramai nya acara tersebut,
saking ramai nya hasrat ingin mencoba bahasa inggris saya pun lenyap entah
kemana, saya mungkin terlalu menikmati pekerjaan saya makanya setelah
mempersilahkan para Dubes ataupun Atlet makan di mejanya saya langsung tinggal
kan pergi tanpa ada pertanyaan “ how do you feel in Palembang? Is Palembang one
of your favorite city to visit ?” (masa iya ikut nimbrung, situ siapa?!. Ujar
Lastmini). Waktupun sudah menyentuh pukul 9 malam, dan kalau saya ingat-ingat
negara Malaysia yang paling terlambat datang saat itu, entah apa alasan mereka,
ketika para atlet-atlet dari negara-negara lain sudah menyantap jamuannya
diiringi lantunan musik yang merdu mereka berbondong-bondong datang dan malah
sibuk mengajak foto bersama, hal ini mungkin mereka tertarik dengan pakaian
yang kami kenakan, yaitu pakaian khas Palembang. Tepat pukul sepuluh malam
acarapun berakhir, para Dubes dan Atlet-atlet pun meninggalkan gedung dan
segera kembali ke mess dan hotel masing-masing. Kami para panitia pun
pulang, seperti bebek yang dikeluarkan dari kandang kami pun berpencar menuju
induk masing-masing, eh maksudnya kendaraan masing-masing. Di tengah perjalanan
saya bisa tersenyum lega, bukan karena kemacetan tingkat kelurahan yang saya
rasakan akan tetapi mendapatkan kesempatan yang mungkin tidak semua orang bisa
dapatkan, dan hal paling penting adalah sejak saat itu saya tidak lagi bersikap snobbish terhadap bule. Meski memang bule-bule
yang saya temui tadi tidak berasal dari negara yang memakai bahasa inggris
sebagai bahasa ibu, mereka tetaplah bule bukan?! Hahaha saya hanya senang
melihat bule sebagai English language attracted (istilah ini saya buat sendiri
karena memang binggung menjelaskannya bagaimana) selebihnya mereka sama saja,
yang jelas sebagai orang Indonesia yang melihat bule-bule yang tidak bisa
berbahasa Inggris lancar apalagi bahasa Indonesia kita harus tetap respek dan
kalau bisa membantunya, bukan karena mereka seorang bule tetapi karena mereka
juga manusia, sebagai manusia kita wajib saling tolong menolong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar