Minggu, 08 Juni 2014

Kesempatan di ISG 2013

Bergaul dengan bule bukan hal yang baru buat saya (weeeks, gaya banget ! Biarin!).  Sejak saya duduk di bangku kuliah semester pertama saya sudah menjadi salah satu siswa di tempat kursus bahasa inggris yang guru-gurunya kebanyakan bule. Mereka kebanyakan datang dari Australia. Yaaah, bule-bule Australia ini awalnya membuat saya amazed sekali tapi kikuk juga, apalagi saat mendengar mereka berbicara. Aksen Inggris mereka terkadang membuat saya salah kamprah. Setelah dari tempat kursus itu saya pun berlabu ketempat kursus yang lain, yang lagi-lagi bule-bule semua yang jadi coach-nya. Tapi kali ini saya merasa lebih beruntung karena mereka semua berasal dari Amerika Serikat ( yess Go Internasional dong kayak Agnez mo? LOL) setiap percakapan yang terjadi begitu mengalir bagaikan riak-riak air disungai dikelilingi rimbunan pohon-pohon pinus yang lebat. Mulai dari membahas berapa harga sewa apartement di Amerika pertahun sampai tanya-tanya harga cabai di swalayan Amerika. Baiklah itu semua hanya sedikit appetizer, maaf kalau kepanjangan toh pak SBY aja kalau celoteh suka kepanjangan toh?. Tepat bulan September 2013 diadakan kejuaraan atau mungkin pertadingan persahabatan antar negara Islam lebih tepatnya di kota saya, Palembang. Yah kalau kalian pernah mendengar Islamic Solidarity Games (ISG) maka itulah pertandingan yang saya maksudkan. Awalnya terlintas dibenak saya akan banyak sekali bule-bule asing selama sepekan di sini, walaupun mungkin sih sebagian dari mereka juga memiliki kemampuan bahasa inggris payah tapi why not, why can I judge them without know them well? Sempat juga terlintas di benak saya andai dinas budaya Palembang ini menghubungiku dan memintaku untuk menjadi bagian kepanitiaan acara ini, masa iya saya yang salah satu duta kebudayaan Palembang malah tidak mengajak saya sama sekali, terpujilah mereka! Waktu terus merangkak menuju hari H, harapan itu kini kian pupus, “good bye bule, good bye ISG...” seraya melambaikan tangan ke poster ISG 2013 di jalanan yang besarnya mengalahkan tembok raksasa Cina, yaampun segitu snobbish nya saya dengan bule, aslinya enggak kok, beneran! . Tiba-tiba di sore hari yang panasnya minta lagi telpon genggam saya berdering, dan tebak ternyata pihak dinas budaya menghubungi saya, salah satu karyawan di sana meminta saya untuk menjadi Lianson Official  (LO) mereka pada saat gala opening dinner ISG 2013 yang tepat jatuh satu hari sebelum opening pertandingan ISG tersebut. Rasa bahagia tak terbendung lagi, mimpi untuk bisa menjadi bagian dari acara yang mungkin saja baru 5-10 tahun digelar lagi di Indonesia khususnya Palembang menjadi tuan rumah akhirnya terwujud. Semua data diri sampai harga diri dipersiapkan guna memenuhi syarat-syarat yang saya juga tidak mengerti untuk apa gerangan. Beberapa teman-teman saya yang tergabung di Duta budaya Palembang pun di ajak bertugas, dan juga ada teman-teman Bujang Gadis Palembang (kalau di Jakarta semisal Abang dan None) pun ikut nyempung (nyemplung? Berenang maksud loe?).Tepat pada saat hari H kami bertugas, lebih kurang 5 jam sebelumnya kami sudah di briefing tentang rundown acara. Acara gala Opening Dinner ISG 2013 pun dimulai, suasana di dalam gedung membuat saya gugup dan juga kelaparan, benar! Saya kelaparan lho. Bayangkan saja itu acara dinner yang dipenuhi dengan makanan-makanan mulai dari makanan khas Palembang sampai makanan-makanan yang aku sendiri tidak tahu namanya. Saat itu tepat jam 6 malam, gedung masih terlihat dan terasa sepi, mungkin bule-bule ataupun para Duta besar dari masing-masing negara masih siap-siap atau mungkin mereka masih mandi susu. Who knows kan?. Setelah berjam-jam menunggu para bule-bule pun terlihat, mulai dari Turkey, Iran sampai Arab Saudi. Aksen bahasa inggris mereka lucu-lucu sekali, mungkin hal ini dikarenakan bahasa ibu mereka yang bukan bahasa Inggris, but that’s not matter, at least I can make friends with all of them. Tidak hanya aksen dan ekspresi mereka saat berbicara bahasa Inggris yang lucu, tingkah mereka pun bisa di bilang konyol dan mungkin uhuuk tidak sopan. Misalnya salah satu bule (tidak perlu saya sebutkan nama negara asalnya ya) mencoba berkenalan dengan mengedipkan mata dan hal-hal lain yang agak tidak sopan yang juga rupanya dialami teman-temanku yang lain. Sebenarnya kalau bule/atlit yang mengedikpakan mata adalah perempuan sih oke, tapi ini pria lho, saya sempet mikir ini bule-bule mau jadi ekspatriat apa mau jadi jablay ya di Indonesia? Lupakan karena bule-bule lain jauh lebih sopan dan friendly. Sebagai bagian dari acara Dinner saat itu saya dan teman di tugaskan berdiri di dekat pintu masuk guna mengantarkan mereka menuju meja makan sesuai negara masing-masing. Tepat pukul setengah delapan malam, acara pun dibuka dengan penampilan artis ibu kota yang entah saya pun tidak tahu namanya, saya pun akhirnya lebih memilih bertugas menyambut para duta besar. Tidak ada alasan spesifik sih sampai akhirnya saya lebih memilih menyambut dan mempersilahkan para Duta besar tersebut tetapi hanya lebih ke bahasa Inggris saja, para Dubes ini rata-rata lancar sekali berbahasa inggris mungkin hal ini dikarenakan tugas mereka sebagai duta yang sering bertemu dengan duta negara lain yang kebetulan memakai bahasa Inggris sebagai bahasa resmi mereka. Acara sungguh meriah para atlet-atlet yang berasal dari negara-negara arab sekitar 44 negara memenuhi gedung itu, bisa di bayangkan betapa ramai nya acara tersebut, saking ramai nya hasrat ingin mencoba bahasa inggris saya pun lenyap entah kemana, saya mungkin terlalu menikmati pekerjaan saya makanya setelah mempersilahkan para Dubes ataupun Atlet makan di mejanya saya langsung tinggal kan pergi tanpa ada pertanyaan “ how do you feel in Palembang? Is Palembang one of your favorite city to visit ?” (masa iya ikut nimbrung, situ siapa?!. Ujar Lastmini). Waktupun sudah menyentuh pukul 9 malam, dan kalau saya ingat-ingat negara Malaysia yang paling terlambat datang saat itu, entah apa alasan mereka, ketika para atlet-atlet dari negara-negara lain sudah menyantap jamuannya diiringi lantunan musik yang merdu mereka berbondong-bondong datang dan malah sibuk mengajak foto bersama, hal ini mungkin mereka tertarik dengan pakaian yang kami kenakan, yaitu pakaian khas Palembang. Tepat pukul sepuluh malam acarapun berakhir, para Dubes dan Atlet-atlet pun meninggalkan gedung dan segera kembali ke mess dan hotel masing-masing.  Kami para panitia pun pulang, seperti bebek yang dikeluarkan dari kandang kami pun berpencar menuju induk masing-masing, eh maksudnya kendaraan masing-masing. Di tengah perjalanan saya bisa tersenyum lega, bukan karena kemacetan tingkat kelurahan yang saya rasakan akan tetapi mendapatkan kesempatan yang mungkin tidak semua orang bisa dapatkan, dan hal paling penting adalah sejak saat itu saya tidak lagi bersikap snobbish terhadap bule. Meski memang bule-bule yang saya temui tadi tidak berasal dari negara yang memakai bahasa inggris sebagai bahasa ibu, mereka tetaplah bule bukan?! Hahaha saya hanya senang melihat bule sebagai English language attracted (istilah ini saya buat sendiri karena memang binggung menjelaskannya bagaimana) selebihnya mereka sama saja, yang jelas sebagai orang Indonesia yang melihat bule-bule yang tidak bisa berbahasa Inggris lancar apalagi bahasa Indonesia kita harus tetap respek dan kalau bisa membantunya, bukan karena mereka seorang bule tetapi karena mereka juga manusia, sebagai manusia kita wajib saling tolong menolong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar