Jumat, 06 Juni 2014

melatih Mental


Siapapun orang tua yang sudah memiliki anak pasti yang menjadi prioritas utama mereka adalah sekolah/pendidikan anak. Yap, semua yang terbaik dipersiapkan demi laju tumbuh perkembangan si anak. Awalnya (mungkin sih) tidak jelas apa tujuan si orang tua ini khususnya ibu-ibu menyekolahkan si anak ke sekolah A dan ke sekolah B. Mereka hanya mengikuti peraturan dan tren yang sudah ada di Indonesia. Misalnya sekolah yang berlabel kurikulum based International otomatis langsung menjadi incaran para orang tua guna menyekolahkan anaknya, biaya yang relatif mahal pun dinomor duakan dan si anak yang masih ingusan dan bau kencur itupun hanya manut-manut wae dengan segala keputusan orang tuanya. Waktu silih berganti, setelah lebih kurang 6 tahun mengenyam bangku SD si anak pun ( lagi-lagi ) diarahkan oleh orang tua nya untuk melanjutkan sekolah tingat menengah pertama (SMP) ke sekolah pilihan mereka ( orang tua ) hal inipun berlanjut ke tingkat sekolah menengah atas (SMA). Lha, siapa toh yang mau sekolah? Siapa toh yang mau pinter? Saya memang belum berumah tangga apalagi punya anak, tapi sebagai orang tua mestinya mengerti benar dengan kebutuhan dan minat si anak. Orang tua cenderung hanya menatap kalau tidak dengan senyum/cemberut dengan hasil ulangan pelajaran matematika, fisika, kimia, aljabar (eh aljabar udah ada kan di sekolah-sekolah?) si anak. Mereka tau nya hanya dengan hasil (cieeeilah curhat deh gue!) misal jika nilai matematika si anak 100 dengan senyum yang bagaikan malaikat tak bersayap pun terpampang nyata, jika hasilnya malah 30 wajah yang tadinya berona ayu berubah menjadi raja demond seperti salah satu tokoh jahat di film petualangan Doraemon-Nobita di dalam mimpi. Tau sih orang tua mau yang terbaik buat anaknya, tapi pernahkan orang tua berpikir kehidupan si anak selanjutnya selain dari nilai matematika atau pelajaran yang paling bikin vertigo mendadak semacam kimia/fisika? . Bagi saya pembelajaran itu tidak hanya mengenai nilai matematika, fisika, atau kimia tapi juga perkembangan si anak secara MENTAL. Masih menurut saya yang harus dirubah saat si anak mendapat nilai matematika 30 atau mungkin lebih parah yaitu 0 adalah motivasi untuk mendapat nilai yang bagus dan untuk apa dia harus mendapat nilai yang bagus. Si anak hendaknya dibimbing untuk memiliki jiwa kompetisi yang kuat, tidak mau mengalah (mengalah pada kemalasan, kelelahan, dan main PS yaaa)  si anak pasti akan terpacu untuk belajar lebih giat jika hasil / nilai yang keluar tidak seperti yang diharapkan. Mengubah perilaku belajar hanya akan sia-sia dan paling hanya bertahan sebatas 1-2 minggu kedepan, setelah nya mereka akan kembali malas dan bahkan mungkin hanya berniat membuat contekan saja. Jika dari dini si anak sudah dibimbing untuk memiliki mental pemenang, mental seorang atlit, maka hal ini akan menjadi sebuah pondasi yang kuat untuk kehidupan si anak di masa yang akan datang, apalagi melihat persaingan SDM sekarang saja sudah sangat advance, perusahaan tidak terlalu peduli lagi dengan nilai matematika, fisika, atau kimia yang kamu dapatkan semasa sekolah. Skill dan mental tidak mudah menyerah yang menjadi prioritas dari perusahaan untuk merekrut SDM yang bekerja ditempatnya. Maka dari itu Mengubah mental si anak sejak kecil sangat penting dilakukan daripada menyuruhnya belajar karena nilai matematika yang kampreet. Tambahan jika si anak yang serta merta dipaksa belajar, dipaksa menghafal dan lain-lain saat mendapatkan nilai ulangan yang jelek, namun pada saat si anak sudah berhasil mendapatkan nilai yang diidam-idamkan orang tuanya semua usaha itupun akan terhenti, mind set si anak hanya terfokus pada angka 80/90/100, setelah dari itu???? Hal ini berbeda jika mental si anak sudah terpondasi untuk selalu melakukan yang terbaik.  Apapun keadaanya, apapun masalahnya, dan dimanapun mereka kelak berada mental inilah yang akan menjadi motor bagi perjalanan mereka, mereka tidak akan mudah goyah dan rapuh saat mereka berada di bawah dan mereka tidak terlampau jumawa saat mereka berada di atas.
vv

Tidak ada komentar:

Posting Komentar