Siapapun
orang tua yang sudah memiliki anak pasti yang menjadi prioritas utama mereka
adalah sekolah/pendidikan anak. Yap, semua yang terbaik dipersiapkan demi laju
tumbuh perkembangan si anak. Awalnya (mungkin sih) tidak jelas apa tujuan si
orang tua ini khususnya ibu-ibu menyekolahkan si anak ke sekolah A dan ke
sekolah B. Mereka hanya mengikuti peraturan dan tren yang sudah ada di
Indonesia. Misalnya sekolah yang berlabel kurikulum based International
otomatis langsung menjadi incaran para orang tua guna menyekolahkan anaknya,
biaya yang relatif mahal pun dinomor duakan dan si anak yang masih ingusan dan
bau kencur itupun hanya manut-manut wae dengan segala keputusan orang tuanya.
Waktu silih berganti, setelah lebih kurang 6 tahun mengenyam bangku SD si anak
pun ( lagi-lagi ) diarahkan oleh orang tua nya untuk melanjutkan sekolah tingat
menengah pertama (SMP) ke sekolah pilihan mereka ( orang tua ) hal inipun
berlanjut ke tingkat sekolah menengah atas (SMA). Lha, siapa toh yang mau
sekolah? Siapa toh yang mau pinter? Saya memang belum berumah tangga apalagi
punya anak, tapi sebagai orang tua mestinya mengerti benar dengan kebutuhan dan
minat si anak. Orang tua cenderung hanya menatap kalau tidak dengan
senyum/cemberut dengan hasil ulangan pelajaran matematika, fisika, kimia,
aljabar (eh aljabar udah ada kan di sekolah-sekolah?) si anak. Mereka tau nya
hanya dengan hasil (cieeeilah curhat deh gue!) misal jika nilai matematika si
anak 100 dengan senyum yang bagaikan malaikat tak bersayap pun terpampang
nyata, jika hasilnya malah 30 wajah yang tadinya berona ayu berubah menjadi
raja demond seperti salah satu tokoh jahat di film petualangan Doraemon-Nobita
di dalam mimpi. Tau sih orang tua mau yang terbaik buat anaknya, tapi pernahkan
orang tua berpikir kehidupan si anak selanjutnya selain dari nilai matematika
atau pelajaran yang paling bikin vertigo mendadak semacam kimia/fisika? . Bagi
saya pembelajaran itu tidak hanya mengenai nilai matematika, fisika, atau kimia
tapi juga perkembangan si anak secara MENTAL. Masih menurut saya yang harus
dirubah saat si anak mendapat nilai matematika 30 atau mungkin lebih parah
yaitu 0 adalah motivasi untuk mendapat nilai yang bagus dan untuk apa dia harus
mendapat nilai yang bagus. Si anak hendaknya dibimbing untuk memiliki jiwa
kompetisi yang kuat, tidak mau mengalah (mengalah pada kemalasan, kelelahan,
dan main PS yaaa) si anak pasti akan terpacu untuk belajar lebih giat
jika hasil / nilai yang keluar tidak seperti yang diharapkan. Mengubah perilaku
belajar hanya akan sia-sia dan paling hanya bertahan sebatas 1-2 minggu
kedepan, setelah nya mereka akan kembali malas dan bahkan mungkin hanya berniat
membuat contekan saja. Jika dari dini si anak sudah dibimbing untuk memiliki
mental pemenang, mental seorang atlit, maka hal ini akan menjadi sebuah pondasi
yang kuat untuk kehidupan si anak di masa yang akan datang, apalagi melihat
persaingan SDM sekarang saja sudah sangat advance, perusahaan tidak terlalu
peduli lagi dengan nilai matematika, fisika, atau kimia yang kamu dapatkan
semasa sekolah. Skill dan mental tidak mudah menyerah yang menjadi prioritas dari
perusahaan untuk merekrut SDM yang bekerja ditempatnya. Maka dari itu Mengubah
mental si anak sejak kecil sangat penting dilakukan daripada menyuruhnya
belajar karena nilai matematika yang kampreet. Tambahan jika si anak yang serta
merta dipaksa belajar, dipaksa menghafal dan lain-lain saat mendapatkan nilai
ulangan yang jelek, namun pada saat si anak sudah berhasil mendapatkan nilai
yang diidam-idamkan orang tuanya semua usaha itupun akan terhenti, mind set si anak hanya terfokus pada angka
80/90/100, setelah dari
itu???? Hal ini berbeda
jika mental si anak sudah terpondasi untuk selalu melakukan yang terbaik.
Apapun keadaanya, apapun masalahnya, dan dimanapun mereka kelak berada
mental inilah yang akan menjadi motor bagi perjalanan mereka, mereka tidak akan
mudah goyah dan rapuh saat mereka berada di bawah dan mereka tidak terlampau
jumawa saat mereka berada di atas.
vv
Tidak ada komentar:
Posting Komentar