Beberapa detik lalu gue buka feed Instagram gue terus terang most of it is about invalid, full trash, and unnecessarily things on it. Weks, rasanya mau muntah. Apa-apa tentang cinta, mukbang, gossip dan hal-hal menjijikan lain yang sebenernya ga perlu diposting (dan bodohnya gue meski hitungan detik telah menyimak juga meski langsung sadar). Sebelumnya gue juga baca bukunya Gita Savitri Devi RENTANG KISAH yang untuk kesekian kalinya gue baca berulang-ulang. Dan karena itu juga akhirnya gue ke trigger lagi buat sekedar nulis artikel yang remeh temeh ini. Paling ga tulisan ini jadi media gue untuk sekadar 'lega'. I completely miss researching and write something whatever I think of dan yang menurut gue penting buat gue tulis, mungkin kamu baca artikel ini setelah artikel ini terendap bertahun-tahun di google search karena saking ga pentingnya (well at least ini jadi bagian yang akan slalu gue baca saat gue tua dan mungkin anak cucu gue juga baca). Akhir-akhir ini perasaan gue dilingkupi sedikit kegaduhan dari kata 'SEDIH'. I dont know lately I just feel dismayed inside, little terrified of pertanyaan KAPAN NIKAH? , DIA MASIH INGAT GA YA SAMA AKU? , GIMANA KABAR IBU DAN AYAHKU DI PALEMBANG?, atau pertanyaan lain yang bahkan lebih remeh dan unanswerable 'GIMANA CARANYA BAHAGIA?' . Most of us kayak punya template atau pattern sendiri untuk bisa dibilang BAHAGIA, 'oh lu bahagia kalo udah bla bla bla' , OR 'lu bakal sukses dan lebih on point kalo lu bla bla bla'. Thats bullshit dude! Bagi gue bahagia itu bukan berarti nikah -- punya anak -- nyekolahin anak sampai selesai -- udah. NO. OK mungkin ada beberapa orang assume akan hal itu. atau gajian--minum--hang out ga jelas--drunk ga karuan terus udah, NO. Option yang ke-2 jelas bukan sesuatu yang valid untuk dibilanh bahagia atau to be happy ya. Nikah mungkin bagi beberapa orang atau banyak orang adalah jalan satu-satunya untuk mencapai hidup bahagia. Terus terang gue merasa hal itu (mungkin) benar. Gue pikir apalagi diusia segini (27 going to 28) mau ngapain lagi, Alhamdulillah kerjaan gue udah mantap, terus apalagi. Bagi gue ini hidup gue, gue paling tau apa yang bakal excatly bikin gue bahagia after and forever. Sejak kecil rasanya keluarga gue paling mahal untuk memberikan 'rasa kekeluargaan' dalam rumah. Gue punya dua orang saudara cowok tapi all of them never put their figures as brothers towards me. The fact that I needed it the most. I feel sorry to myself before. Sampai sekarang--sejak fragmen itu dalam hidup gue, gue ngerasa harus punya atau paling ga pernah ngerasain sosok saudara, aroma kekeluargaan dalam hidup gue sebelum akhirnya gue memutuskan untuk menikah. Gue mungkin terlalu melankolis atau cringy, but this is my life dude, I live my life, I know what's the flame to burn this fire or to make me passionate again to live than get married. Bahagia versi gue simpel banget, gue cuma pengen bisa nemuin rasa persaudaraan yang kakak-kakak gue ga pernah kasih sampe sekarang. Mungkin kalian mikir masa iya sih ga pernah kasih kasih sayang kayaknya kakak ke adik sepanjang jalan ini, well it's your choice to believe or discard this statement as bullshit only because I don't even have a must to explain what really happened. Saat gue kerja gue nemuin seseorang yang masih satu rekan kerja gue juga dengan usia yang jauh dibawah gue. Anaknya introvert, saat kerja dia rajin banget, dan intuitif. Singkat cerita gue nemui sesuatu yang pengen gue punya dengan rekan kerja gue itu. Persaudaraan. Singkat cerita gue ngomong langsung ke dia kalo gue pengen bisa saudaraan sama dia, pengen dianggap sebagai kakak dan keluarga. Well, gue anak rantau, gue rantau ke Jakarta, no one of my family members to be my accompany here even my mom. To gather with my family is not enough. I just really need what I call family. Thing that I never ever have since I was kid. Mungkin buat kalian ini kedengarannya aneh, how come as man willing consider someone to be brother for the sake of having 'family' family. Once again, I'm just write an article about what is happiness definition of me? How stays to yourself to feel happy? Singkat cerita, gue begitu berusaha agar dia ngerasa enjoy dengan cara gue anggep dia seperti saudara. Gue berusaha jadi kakak yang baik dengan kasih perhatian, bahkan apapun yang dia butuhin. Gue berusaha sebisa mungkin bisa bareng dia bahkan saat weekend nonton bareng bahkan dia juga sempat cerita tentang cewek gebetannya, gue dukung 100%. Gue bahagia??? Iya gue bahagia. Serius gue bahagia. Gue tau ini rasanya jadi kakak dan punya saudara. Gue bahkan pengen ibu dia juga jadi ibu gue. Namun, angin kencang bertiup sangat kencang hari itu, awan gelap tiba-tiba membumbung diatas pertalian persahabatan dan persaudaraan kami. Gue ga paham. Tapi mungkin ini salah gue. Dia ngerasa gue udah lebay, perhatian yang gue kasih sudah diatas rata-rata sebagai seorang kakak. Kami bertengkar cukup hebat, sampai akhirnya dia memutuskan untuk menjauh. Gue berusaha minta maaf, gue seneng saat bisa bareng dia, keluarga dia sudah gue anggep keluarga gue. Tapi dia refuse at it all. He blocked my wassap, unfollow my instagram immediately. Awalnya emosi gue kepancing, gue marah dan posting sesuatu yang exteremely unappropriate to post. Hal itu gue lakuin karena kekecewaan gue sama dia yang musuhin tanpa mau diskusi dengan kepala dingin. Kenapa harus bermusuhan atau memutuskan silaturahmi sementara bisa bicara hati ke hati dan dengan kepala dingin? Apalagi bertemu orang baik jaman sekarang bukan hal yang terlampau mudah. Mungkin gue bukan orang baik, tapi paling ga selamai gue dekat sama dia gue sudah berusaha give my best. Hampir 1 tahun berlalu, gue makin ngerasa mustahil bisa dapat perhatian dari kakak gue, ibu gue. Ibu gue sesekali telpon sebelum akhirnya gue ga angkat lagi telponnya. Gue sering merengek ke ibu untuk tinggal di Jakarta saja untuk nemenin gue, karena gue butuh temen ngobrol saat di rumah, saat gue sendiri. Tapi ibu punya keputusan lain. Kalau sudah begini, kami cuma sebatas telpon dengan kalimat basa-basi semisal apa kabar?, sudah makan belum? lagi lagi dan lagi. Bagi gue kasih sayang ga begini, ga sebatas omongan. Tapi gue juga ga bisa maksain ibu untuk tinggak disini bareng gue, mungkin ga bahagia takutnya. Rekan kerja yang gue anggap saudara juga (terus terang sampai gue tulis ini masih gue anggap saudara) sudah jauh-jauh pasti ngelupain gue. Gue ga bisa apa-apa. Sekarang gue ngerasa kerja dan cari nafkah jadi hambar, punya uang jadi ngerasa biasa saja. Ga ada excitement apa-apa. Gue ngerasa ga bisa bahagia dengan uang atau kerjaan ini. Teman kerja sebatas teman saat di tempat kerjaan saja. Terkadang gue merenung lagi apakah benar kesepian atau kegundahan gue akan berakhir dengan menikah?? Apakah kesedihan dan kegundahan gue jadi kambing hitam yang cukup worth it untuk melaksanakan sebuah pernikahan sementara hati gue berteriak hal lain?? Entahlah. Saat dalam sepi aku sadar, aku pasti bisa menikah, namun apakah menikah sebatas menikah saja. Tentu tidak. Menikah sejatinya dilakukan dua orang yang memang saling cinta, saling siap untuk membina rumah tangga, dan sama-sama tau tujua dari menikah atau mungkin jika dipersempit dua orang yang sudah merasa 'cukup bahagia' untuk membagikan atau menciptakan kebahagiaan baru bersama. Sementara gue? Gue tau gue belum 'cukup bahagia' untuk berbahagia itu sendiri. Dalam sendiri, hati gue menyakini kalau memiliki dan berbahagia bersama seseorang yang gue respect dan sayang sebagai entah itu kakak atau adik adalah kebahagiaan gue sebelum gue melangkah maju ke pelaminan bersama orang yang right. Dalam gelap malam juga diatas sejadah gue udah ga bisa berdoa apa-apa. Semua terasa sehambar ini, gue ga nuntut bakal hidup sampai usia 70 tahun atau punya duit banyak, bisa makan enak dan jalan-jalan terus tapi cukup punya apa yang orang lain bilang 'kekeluargaan'. Disini gue cuma mau bilang, jika kalian ngerasa pengen bahagia dan menikah adalah jalan satu-satunya kalian harus pastikan diri kalian cukup reliable untuk menikah dan hidup sampai akhir hayat dengan orang yang kalian pilih, kalian pastikan kalau tidak ada lagi pencarian yang pengen kalian raih in term of perasaan or sense of belonging sama orang lain agar kalian jadi pasangan yang setia dan sehidup semati, buatlah diri kalian worth it untuk dimiliki dan menjalani suatu rumah tangga bersama orang yang kalian pikir benar-benar bisa mendatangkan kebahagiaan yang kalian cari. Semoga kalian segera menemukan apa yang kalian cari dan berbahagia dengan hal itu. Jangan sekali-kali memaksakan suatu pernikahan hanya karena tekanan dari omongan orang atau situasi atau lingkungan sekitar. In this case nikah cuma contohnya saja ya, It can be another cases that occur in your life. Btw, gue sayang banget sama keluarga gue, sama ibu dan kakak-kakak gue walaupun mereka ga sesayang itu mungkin sama gue.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar